Alternatif Gaya yang Ramah Lingkungan, Rumah Perjuangan 145 Pangandaran Serukan Thrifting
Komunitas Rumah Perjuangan 145 Pangandaran melakukan pendekatan segar yang menggabungkan gaya hidup, ekonomi kreatif dan tanggung jawab ekologis melalui gerakan thrifting.
PANGANDARAN – Rumah Perjuangan 145 di Kabupaten Pangandaran menyeerukan kesadaran global terhadap isu lingkungan dengan alternatif gaya melalui kampanye thrifting.
Komunitas Rumah Perjuangan 145 Pangandaran melakukan pendekatan segar yang menggabungkan gaya hidup, ekonomi kreatif dan tanggung jawab ekologis melalui gerakan thrifting.
Pegiat Komunitas Rumah Perjuangan 145 Pangandaran Asep Saepudin mengatakan, thrifting bukan sekadar tren, tapi diposisikan sebagai praktik sosial yang memiliki dasar ilmiah sekaligus daya tarik kultural yang kuat, terutama di kalangan generasi muda.
"Thrifting dapat dipahami melalui perspektif sustainable consumption atau konsumsi berkelanjutan," kata Asep, Jumat (10/4/2026).
Solusi untuk Isu Lingkungan
Studi lingkungan menyebut jika industri fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar dunia.
"Produksi massal pakaian fast fashion berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon, penggunaan air berlebih, serta pencemaran limbah tekstil," tambahnya.
Asep menjelaskan, thrifting menjadi solusi alternatif yang memperpanjang siklus hidup produk, mengurangi kebutuhan produksi baru dan secara langsung menekan dampak ekologis.
Rumah Perjuangan 145 Pangandaran melihat momentum ini sebagai peluang strategis untuk mengedukasi masyarakat.
Dalam berbagai kegiatan diskusi, bazar, hingga kampanye digital, mereka mengangkat narasi bahwa gaya hidup ramah lingkungan tidak harus mahal atau eksklusif.
"Melalui thrifting, masyarakat bisa tampil stylish dengan cara yang lebih sadar," jelasnya.
Pergeseran Mindset
Ditegaskan Asep, thrifting bukan cuma soal beli baju bekas, tapi soal mindset dan cara hidup yang lebih bijak yang berkelanjutan.
"Pendekatan ini menunjukkan bagaimana narasi ilmiah dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih membumi dan relevan dengan keseharian anak muda dari sudut pandang sosiologis," tegasnya.
Thrifting juga mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat, jika sebelumnya konsumsi sering dikaitkan dengan status sosial dan kebaruan barang, kini muncul kecenderungan baru yang menekankan pada nilai fungsional, keunikan dan keberlanjutan.
"Thrifting bahkan menjadi medium ekspresi diri dimana setiap item memiliki cerita, karakter dan identitas tersendiri," sambung Asep.
Secara ekonomi, gerakan ini juga membuka ruang bagi ekonomi di tingkat lokal. Aktivitas jual beli barang bekas layak pakai menciptakan perputaran nilai tanpa harus bergantung pada produksi baru.
Thrifting memberi peluang bagi pelaku usaha kecil, komunitas, hingga individu untuk terlibat dalam ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
Urgensi Literasi
Namun demikian, Rumah Perjuangan 145 Pangandaran juga menekankan pentingnya literasi dalam praktik thrifting.
Tidak semua barang bekas layak digunakan kembali, sehingga aspek higienitas, kualitas dan etika konsumsi tetap harus menjadi perhatian.
Edukasi mengenai cara memilih, merawat, hingga memadupadankan pakaian menjadi bagian penting dari kampanye mereka.
"Thrifting itu bukan sekadar hemat, tapi juga keren karena kepedulian terhadap bumi," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


