Advertisement
Gaya Hidup

Dari Hobi Malah Cuan, Karya Perempuan Asal Kota Batu Tembus Luar Negeri

Berawal sekedar mengisi waktu luang, Desy Pratiwi Putri tak menyangka kebiasaan merajut yang ia lakukan bisa menjadi sumber penghasilan keluarganya.

TIMES Indonesia,
Dari Hobi Malah Cuan, Karya Perempuan Asal Kota Batu Tembus Luar Negeri
Desy menunjukkan hasil karyanya yang semula dari hobi. (Foto: Galih Rakasiwi/TIMES Indonesia)
A-AA+

Batu Dari ruang sederhana di Kota Batu, karya rajutan tangan milik Desy Pratiwi Putri kini melanglang hingga mancanegara. Pemilik usaha Silhouette Crochet itu tak pernah menyangka hobi yang awalnya sekadar mengisi waktu luang justru berubah menjadi sumber penghasilan utama keluarga sekaligus membuka jalan produknya menembus pasar luar negeri.

Perjalanan bisnis Desy bermula pada 2016. Saat itu ia kerap menunggu anaknya sekolah taman kanak-kanak dan memanfaatkan waktu dengan merajut. Berbekal benang seadanya yang ada di rumah, ia mulai membuat aksesori sederhana.

Advertisement

"Saya memulai usaha ini di tahun 2016. Hobi saya memang merajut dan passion saya di dunia fashion. Awalnya saya hanya memakai barang-barang yang sudah ada di rumah," ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Namun titik balik usahanya datang pada 2019, ketika ia menemukan konsep baru berupa aksesori rajut etnik yang belum banyak ditemui di Kota Batu. Produk-produk itu kemudian menjadi identitas khas Silhouette Crochet.

"Semula hanya membuat sekitar 10 produk, kini kapasitas produksinya melonjak hingga 2.500 pieces per bulan. Beberapa produk yang saya hasilkan meliputi kalung, gelang, tas, bros, hingga anting dengan sentuhan etnik dan handmade," tambahnya di mini display miliknya di kawasan Kelurahan Songgokerto.

Bahan baku yang digunakan juga tidak biasa. Desy memadukan benang sutra dari peternak lokal, kain batik, serat rami, goni, kayu, batu alam, kain ecoprint, hingga serat daun agel dan material daur ulang.

"Meski sekarang sudah lancar, perjalanan saya sebenarnya tidak mulus. Dulu sempat menerima komentar miring. Karya rajutan saya pernah dianggap aneh, bahkan disebut menyerupai aksesori mistis. Namun ia memilih tetap melangkah," ujarnya.

Advertisement

Produk pertamanya dijual dalam sebuah pameran di Malang. Saat itu ia membawa 10 item dengan harga Rp125 ribu per buah. Seluruhnya laku terjual dan memberinya omzet pertama sebesar Rp1,25 juta.

"Dari hasil penjualan itu, saya membeli bahan baku baru dan mulai meningkatkan produksi. Harga produknya kini bervariasi, mulai Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung desain dan tingkat kerumitan," urainya.

Ketekunannya mengikuti pameran demi pameran akhirnya membuka peluang lebih luas. Produk Silhouette Crochet mulai dikenal pembeli dari luar daerah hingga luar negeri.

"Sekarang lebih banyak ikut pameran-pameran. Dari situ dibeli pengunjung lokal hingga memenuhi permintaan dari luar negeri. Produk kami sudah diekspor ke beberapa negara, di antaranya Jepang, Korea, Australia hingga Amerika," katanya.

Menurut Desy, pasar luar negeri tertarik karena produknya membawa unsur budaya, keunikan, dan nilai seni yang kuat. Bahkan beberapa desainer dari dalam maupun luar negeri pernah menggunakan produknya untuk kebutuhan catwalk.

Sejumlah ajang bergengsi juga pernah diikutinya, seperti Apresiasi Kreasi Indonesia dari Kemenparekraf, Inacraft, Batik Fashion Show di Canberra, hingga Nusantara Fashion Feast di Sydney. Tak hanya mengembangkan bisnis, Desy juga memberdayakan masyarakat sekitar. 

"Kini saya memiliki delapan karyawan tetap yang mayoritas ibu rumah tangga. Mereka mendapat pelatihan langsung sebelum bergabung dalam proses produksi," tegasnya.

Ia juga menjalin kerja sama dengan pengrajin UMKM, peternak ulat sutra di Batu dan Pasuruan, hingga komunitas perempuan di Bangkalan sebagai pemasok serat daun agel.
Bagi Desy, usaha bukan sekadar soal keuntungan, tetapi juga ruang bagi perempuan untuk berkembang dan mandiri.

"Saya berharap orang-orang tetap menghargai karya seni kami yang berbeda dengan produk pabrikan. Semoga usaha ini semakin besar dan semakin banyak ekonomi keluarga yang terbantu," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia