Advertisement
Gaya Hidup

Kita Tidak Yatim Piatu, Hanya Terlalu Bising untuk Mendengar

Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Ia tidak berkata bahwa badai akan berhenti atau semua luka akan hilang seketika.

TIMES Indonesia,
Kita Tidak Yatim Piatu, Hanya Terlalu Bising untuk Mendengar
A-AA+

JAKARTA Ada masa-masa ketika manusia merasa hidupnya penuh, tetapi jiwanya kosong.

Kalender terisi. Notifikasi berdatangan. Percakapan terjadi di mana-mana. Namun di balik semua itu, banyak orang diam-diam memikul rasa sepi yang sulit dijelaskan. Bukan sepi karena tidak punya teman, melainkan sepi karena merasa tidak sungguh dipahami. Tidak sungguh ditemani.

Advertisement

Mungkin itulah sebabnya kalimat Yesus dalam Injil Minggu ini terasa sangat menyentuh: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.” Kalimat itu sederhana, tetapi sangat manusiawi.

Sebab salah satu ketakutan terbesar manusia sebenarnya bukan kemiskinan atau kegagalan. Yang paling menakutkan adalah perasaan ditinggalkan — merasa harus menghadapi hidup sendirian.

Dan menariknya, Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Ia tidak berkata bahwa badai akan berhenti atau semua luka akan hilang seketika. Ia hanya mengatakan bahwa manusia tidak berjalan sendiri. Akan ada Penolong. Akan ada Roh yang tinggal di dalam hati manusia.

Di zaman modern, kita terbiasa mencari pertolongan dari luar: validasi, pencapaian, hiburan, perhatian, atau pelarian-pelarian kecil agar tidak terlalu merasa kosong. Kita hidup di era yang sangat ramai, tetapi justru karena terlalu ramai, kita makin sulit mendengar suara terdalam dalam diri sendiri.

Akibatnya, banyak orang terlihat baik-baik saja, padahal batinnya lelah. Kita menjadi generasi yang terus terkoneksi, tetapi kehilangan koneksi dengan diri sendiri.

Advertisement

Dan mungkin, di titik inilah spiritualitas menjadi relevan kembali — bukan sebagai ritual kosong, melainkan sebagai ruang untuk kembali pulang ke dalam diri.

Menariknya, sains modern mulai menunjukkan sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan refleksi rohani ini. Tubuh manusia ternyata bukan hanya kumpulan organ. Kita adalah ekosistem hidup yang sangat kompleks. Di dalam usus manusia hidup triliunan mikroorganisme yang terus berkomunikasi dengan otak, sistem imun, hormon, bahkan suasana hati.

Ketika ekosistem ini harmonis, tubuh bekerja dengan baik. Inflamasi menurun. Pikiran lebih jernih. Mood lebih stabil. Energi lebih baik.

Sebaliknya, ketika ekosistem ini terganggu, tubuh mulai kehilangan keseimbangan. Bukan hanya fisik yang terdampak, tetapi juga emosi dan ketenangan batin.

Fenomena ini terasa seperti metafora yang sangat kuat tentang kehidupan manusia secara keseluruhan. Bahwa hidup ternyata bertumbuh di atas keterhubungan dan harmoni.

Tubuh tidak diciptakan untuk perang internal. Ia dirancang untuk kolaborasi.

Demikian pula jiwa manusia. Ketika hati dipenuhi kebencian, iri, dendam, ketakutan, atau kepalsuan, yang muncul sebenarnya adalah semacam “inflamasi batin.” Manusia menjadi mudah marah, gelisah, kehilangan damai, bahkan kehilangan arah hidup.

Karena itu, ketika Yesus berbicara tentang Roh Kudus sebagai Penolong, mungkin yang dimaksud bukan sekadar kekuatan supranatural yang spektakuler. Bisa jadi, Roh Kudus hadir sebagai daya yang memulihkan keteraturan batin manusia — mengembalikan kejernihan hati, menghidupkan kasih, dan memberi kemampuan untuk tetap berharap bahkan ketika dunia terasa gelap.

Dalam Bacaan Kisah Para Rasul hari Minggu ini, kehadiran Roh Kudus membuat Samaria dipenuhi sukacita. Bukan karena semua masalah mereka hilang, tetapi karena hati mereka disentuh oleh harapan baru.

Dan bukankah itu yang paling dibutuhkan manusia hari ini? Bukan sekadar hiburan, tetapi harapan. Bukan sekadar distraksi, tetapi makna. Bukan sekadar keramaian, tetapi kehadiran.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang merasa harus selalu kuat. Harus selalu terlihat berhasil. Harus selalu tampak bahagia. Padahal manusia sesungguhnya lelah.

Lelah membuktikan diri. Lelah mengejar standar dunia. Lelah menjadi seseorang yang bahkan mungkin bukan dirinya sendiri.

Karena itu, ada sesuatu yang menenangkan ketika Yesus berkata, “Aku hidup dan kamu pun akan hidup.”

Kalimat itu terasa seperti undangan untuk kembali bernapas. Kembali hidup secara utuh. Bukan hidup sekadar untuk bertahan, tetapi hidup dengan jiwa yang benar-benar hidup.

Mungkin damai sejati memang bukan sesuatu yang datang dari luar. Ia lahir ketika hati kembali selaras — dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.

Dan mungkin, selama ini Tuhan sebenarnya tidak jauh. Kita saja yang terlalu bising untuk menyadari bahwa sejak awal kita tidak pernah benar-benar ditinggalkan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

G
PenulisGe Recta Geson Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia