Advertisement
Gaya Hidup

Tubuh yang Diterima, Hidup yang Dibagikan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan bahwa iman bukan sekadar menerima kasih Allah, tetapi membiarkan kasih itu mengalir kepada sesama.

TIMES Indonesia,
Tubuh yang Diterima, Hidup yang Dibagikan
A-AA+

SURABAYA Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan bahwa iman bukan sekadar menerima kasih Allah, tetapi membiarkan kasih itu mengalir kepada sesama.

Di zaman yang serba cepat ini, manusia semakin mudah mendapatkan banyak hal. Makanan tersedia dalam berbagai pilihan, informasi hadir dalam hitungan detik, dan teknologi memungkinkan kita terhubung dengan siapa saja di berbagai belahan dunia.

Advertisement

Namun di tengah kelimpahan itu, ada satu paradoks yang semakin terasa: semakin banyak yang dimiliki, belum tentu semakin terpenuhi. Banyak orang mengalami kelelahan batin, kehilangan arah, bahkan merasa hampa meskipun kebutuhan materialnya tercukupi.

Barangkali karena manusia memang tidak diciptakan hanya untuk mengisi perut, melainkan juga untuk mengisi jiwa.

Pesan inilah yang bergema dalam Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang dirayakan Gereja hari ini. Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga.” Sebuah pernyataan yang tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi tentang sumber kehidupan itu sendiri.

Sejak dahulu manusia selalu mencari sesuatu yang mampu memberi rasa aman dan kebahagiaan. Ada yang mencarinya dalam kekayaan, jabatan, popularitas, atau pencapaian pribadi. Semua itu memang dapat memberi kepuasan sesaat, tetapi sering kali tidak mampu menjawab kerinduan terdalam manusia akan makna, cinta, dan kedamaian.

Bangsa Israel pernah mengalami pelajaran serupa ketika mengembara di padang gurun. Dalam situasi serba terbatas, mereka belajar bahwa hidup tidak hanya bergantung pada roti yang dimakan, tetapi juga pada penyelenggaraan Tuhan yang menopang perjalanan mereka hari demi hari.

Advertisement

Pengalaman itu sesungguhnya sangat relevan bagi manusia modern. Ketika segala sesuatu berjalan baik, kita mudah merasa mampu mengendalikan hidup sendiri. Namun saat menghadapi kehilangan, kegagalan, sakit, atau ketidakpastian, kita kembali menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita yang menjadi sumber kekuatan.

Di sinilah Ekaristi memiliki makna yang sangat mendalam.

Dalam perayaan Ekaristi, Kristus tidak hanya memberikan pengajaran atau teladan hidup. Ia memberikan diri-Nya sendiri. Kasih Allah tidak berhenti pada kata-kata, melainkan diwujudkan dalam pemberian yang total.

Namun makna Ekaristi tidak berhenti di altar gereja.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus mengingatkan bahwa mereka yang mengambil bagian dalam satu roti menjadi satu tubuh. Artinya, pengalaman iman selalu memiliki dimensi sosial. Relasi dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari relasi dengan sesama.

Mungkin inilah tantangan terbesar bagi kehidupan beriman saat ini.

Tidak sulit menemukan orang yang rajin beribadah. Namun dunia lebih membutuhkan pribadi-pribadi yang menghadirkan nilai-nilai yang mereka rayakan dalam ibadah itu sendiri: kasih yang nyata, kepedulian yang tulus, dan keberanian untuk berbagi.

Ekaristi mengajak kita melihat bahwa kehidupan sejati justru tumbuh ketika seseorang bersedia menjadi berkat bagi orang lain.

Seperti roti yang harus dipecah agar dapat dibagikan, demikian pula kasih sering kali menuntut pengorbanan. Waktu yang diberikan untuk mendengarkan, perhatian kepada mereka yang terlupakan, kesabaran menghadapi perbedaan, atau uluran tangan kepada yang membutuhkan—semuanya merupakan bentuk nyata dari iman yang hidup.

Dalam dunia yang semakin individualistis, pesan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus terasa sangat relevan. Kebahagiaan tidak lahir hanya dari apa yang kita terima, tetapi juga dari apa yang kita bagikan.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang oleh apa yang berhasil dikumpulkannya selama hidup, melainkan oleh seberapa besar kasih yang telah ia sebarkan kepada sesamanya.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita bahwa Allah telah lebih dahulu membagikan diri-Nya kepada dunia. Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam: setelah menerima begitu banyak kasih, kepada siapa kita akan membagikannya hari ini?

Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Semoga kita tidak hanya menerima Roti Kehidupan, tetapi juga menjadi roti yang menghadirkan kehidupan bagi sesama. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

G
PenulisGe Recta Geson Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia