Advertisement
Gaya Hidup

Di Tengah Gempuran Game Digital, Mini 4WD Tamiya Tetap Digemari Lintas Generasi

Permainan Tamiya diyakini tidak hanya menumbuhkan kesenangan, tetapi juga mengasah otak, kreativitas, dan mempertajam ketelitian.

TIMES Indonesia,
Di Tengah Gempuran Game Digital, Mini 4WD Tamiya Tetap Digemari Lintas Generasi
Kompetisi balap Tamiya di MCC pada Minggu (7/6/2026). (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Di tengah gempuran permainan digital dan penggunaan gadget di kalangan anak muda saat ini, mainan balap mini 4WD atau Tamiya ternyata masih memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya.

Hal itu terlihat dalam ajang balap Tamiya yang digelar di gedung MCC Kota Malang, Minggu (7/6/2026), yang diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Advertisement

Penyelenggara kegiatan sekaligus pemilik toko Tamiya, Wahyu, menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat terhadap game tahun 90-an tersebut masih cukup tinggi meskipun permainan digital terus berkembang.

Ia menyebut, meskipun beberapa kali para pegiat hobi ini sempat vakum, nyatanya Tamiya tidak benar-benar mati. Selain itu, tambahnya, konsumen Tamiya di tokonya juga masih tergolong banyak. 

“Dari tahun 1989 sampai sekarang Tamiya tidak pernah benar-benar mati. Memang peminatnya naik turun, tetapi komunitasnya tetap ada dan terus berkembang,” ujarnya.

Wahyu menambahkan bahwa anak-anak zaman sekarang justru didorong oleh orang tua mereka untuk bermain tamiya supaya terhindar dari penggunaan gadget yang berlebihan.

Menurut Wahyu, bermain Tamiya tidak hanya menumbuhkan kesenangan, tetapi juga mengasah otak, kreativitas, dan mempertajam ketelitian. 

Advertisement

“Orang tua malah menyuruh anak-anak mereka main tamiya, ini bisa mengasah kreativitas juga dengan proses merakit hingga mengembangkan performa mobil,” tambahnya.

Selain anak-anak, banyak juga generasi tua masih minat terhadap permainan jadul ini. Wahyu menyebut, sejumlah penghobi berusia di atas 50 tahun juga tampak turut meramaikan ajang ini.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa Tamiya berhasil menjembatani berbagai generasi melalui hobi yang sama.

Wahyu juga menjelaskan jenis mobil Tamiya produksi tahun 2000 ke bawah juga masih banyak diminati, meskipun tidak memiliki beberapa fitur lain yang lebih unggul daripada Tamiya produksi di atas tahun 2000.

Menurut Wahyu, perbedaan mencolok antara keduanya terletak pada sasis mobil. “Di bawah tahun 2000 itu sasis mobilnya jadul, tapi peminat mobil jenis ini masih ada, kalau produksi tergantung, kadang kalo animo tinggi Tamiya akan produksi ulang,” jelasnya. 

Terakhir, Wahyu menambahkan bahwa dalam kompetisi tersebut, peserta menggunakan kelas STB Up, yakni kategori mobil standar yang dapat langsung dimainkan setelah keluar dari kemasan dengan modifikasi sesuai regulasi yang ditentukan panitia.

Penilaian dilakukan berdasarkan kecepatan mobil menyelesaikan lintasan. Namun, peserta juga harus memenuhi sejumlah aturan teknis. Mobil yang keluar jalur otomatis dinyatakan gugur pada putaran tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia