Advertisement
Gaya Hidup

Keputusan Orang Tua Merawat Gigi Anak Sejak Dini, Aset Kesehatan di Masa Depan

Kemenkes sebut 80% anak Indonesia mengalami karies gigi. Drg. Irene Adelia dari Dentaland Surabaya menekankan pentingnya imunisasi gigi dan pencegahan sejak dini.

TIMES Indonesia,
Keputusan Orang Tua Merawat Gigi Anak Sejak Dini, Aset Kesehatan di Masa Depan
Dokter Dentaland Margorejo Surabaya melakukan pemeriksaan gigi pada pasien anak, Senin (8/6/2026). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
A-AA+

Surabaya Sekitar 80 persen anak Indonesia mengalami masalah karies gigi karena tidak pernah memeriksakan diri ke dokter gigi. Data tersebut berdasarkan catatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Padahal, kesehatan mulut dan gigi sangat penting karena dapat memengaruhi kondisi kesehatan tubuh secara umum, sehingga tidak boleh diremehkan begitu saja.

Advertisement

"Gigi sangat berhubungan dengan organ tubuh yang lain," ungkap drg. Irene Adelia, Sp.Perio., dokter kepala di Dentaland Margorejo Surabaya, Senin (8/6/2026).

Irene mengungkapkan, kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Banyak pasien anak yang datang ketika mereka sudah merasakan sakit. Padahal, sebagian besar masalah gigi sebenarnya dapat dicegah melalui edukasi dan pemeriksaan rutin sejak dini.

Menurutnya, jika anak-anak datang ke dokter gigi untuk melakukan perawatan pencegahan rutin, mereka akan merasa lebih senang dibandingkan saat harus menjalani tindakan penanganan dalam kondisi sakit.

Dentaland Margorejo Surabaya
Talkshow seputar kesehatan gigi bersama dokter gigi saat grand opening Dentaland Margorejo Surabaya, Senin (8/6/2026). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

"Aksi pencegahan sebenarnya lebih sederhana dan lebih ekonomis daripada mengobati. Di negara maju, tindakan gigi bengkak masih sangat jarang dan masuk kategori kasus luar biasa. Berbeda dengan di Indonesia, kondisi bengkak sudah seperti makanan sehari-hari," ucapnya.

Advertisement

Ia menambahkan, pemantauan (monitoring) kesehatan gigi anak sangat penting dilakukan oleh para orang tua. Ketika anak mengalami sakit gigi, mereka cenderung kesulitan makan sehingga asupan nutrisinya berkurang. Akibatnya, proses pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terganggu.

Selain itu, anak yang mengalami nyeri gigi sering kali mengalami gangguan tidur. Padahal, tidur yang berkualitas sangat penting untuk proses tumbuh kembang dan konsentrasi belajar.

Tim dokter di Dentaland juga kerap menemukan kasus anak menjadi kurang aktif, sulit fokus di sekolah, lebih mudah rewel, bahkan prestasi akademiknya menurun akibat rasa tidak nyaman yang terjadi secara terus-menerus.

"Karena itu, kami selalu mengatakan bahwa menjaga kesehatan gigi anak bukan hanya soal senyum yang indah, tetapi juga investasi bagi tumbuh kembang mereka," kata Irene.

Irene menambahkan, menjaga kesehatan gigi anak sejak dini merupakan keputusan penuh dari orang tua. Menurutnya, tidak semua pola pengasuhan (soft parenting) harus menyerahkan segala keputusan kepada anak, terutama dalam hal aset kesehatan. Anak-anak tetap membutuhkan dorongan motivasi dan arahan dari orang tua.

Pihak dokter mengakui bahwa menangani pasien anak-anak memang membutuhkan penanganan khusus (treatment), karena kerap diwarnai drama dan tangisan saat memasuki ruang praktik. Di Dentaland, tim dokter berupaya merayu pasien kecil agar mau membuka mulut guna memutus rantai penyebab gigi berlubang, serta menyarankan pasien untuk menyikat gigi minimal selama 2 menit.

"Setelah beberapa kali mereka menerima perawatan dengan baik, mereka akan terbiasa," ucapnya.

Jangan Anggap Sepele Sakit Gigi

Lebih lanjut, Irene menjelaskan bahwa sakit gigi, baik pada anak maupun dewasa, sebenarnya bukan kondisi yang normal dan tidak boleh dianggap sepele.

"Ketika penyebabnya tidak ditangani, infeksi dapat terus berkembang dan menimbulkan masalah yang lebih serius," imbuhnya.

Pada tahap awal, gejala umumnya hanya berupa gigi berlubang atau gusi berdarah. Namun jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi infeksi, abses, gangguan mengunyah, gangguan tidur, hingga kehilangan gigi. Sakit gigi juga dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang, mulai dari mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas kerja, hingga mengurangi kepercayaan diri.

Di Dentaland, tindakan tambal gigi memegang peringkat pertama dalam perawatan pasien anak. Seiring dengan peningkatan edukasi kepada pasien, peringkat kedua ditempati oleh tindakan topical fluoride atau imunisasi gigi, yaitu upaya pencegahan gigi berlubang yang bisa diulang setiap 3 hingga 6 bulan sekali.

Pada prosedur ini, gigi pasien diperkuat sehingga lebih tahan terhadap paparan zat asam. Sebab, setiap makanan atau minuman yang dikonsumsi anak akan memicu suasana asam di dalam mulut yang membuat gigi mudah berlubang. Imunisasi gigi ini sudah bisa dilakukan sejak bayi saat gigi pertama tumbuh hingga usia dewasa.

"Tujuan imunisasi untuk memperkuat gigi sehingga bisa lebih bertahan dengan suasana asam tersebut," katanya.

Sementara itu, tindakan pengobatan yang menempati peringkat ketiga adalah cabut gigi. Untuk menekan angka kerusakan gigi tersebut, Dentaland juga aktif melakukan edukasi melalui media sosial, seminar, kegiatan sekolah, komunitas, hingga berbagai program kesehatan masyarakat.

Sejalan dengan misi tersebut, tema "A New Home for Every Smile" diangkat oleh Dentaland dalam rangka pembukaan cabang ke-6 yang berlokasi di kawasan Surabaya Timur. Tema ini sekaligus mencerminkan komitmen Dentaland untuk terus hadir lebih dekat dengan masyarakat.

“Kami ingin setiap pasien merasa bahwa Dentaland bukan hanya tempat berobat, tetapi juga rumah yang nyaman untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut seluruh keluarga, mulai dari anak-anak hingga lansia," ungkap drg. Irene Adelia.

Saat ini, jaringan klinik Dentaland telah tersebar di wilayah Surabaya Barat, Surabaya Timur, Surabaya Pusat, serta di Sanur, Bali. Pelayanan yang diberikan mencakup perawatan gigi dewasa dan gigi anak.

Perawatan gigi anak meliputi Basic Pediatric Care, Preventive Pediatric Care, Pulp Therapy, hingga Kids Orthodontics.

Sedangkan untuk perawatan gigi dewasa meliputi Basic Conservative Dentistry (Dental Filling, Scaling & Polishing), Endodontic Treatment, Oral Surgery (Dental Implant), Orthodontic Treatment (Braces), Cosmetic Dentistry (Dental Whitening, Veneer), serta Restorative & Aesthetic Dentistry (Full Mouth Rehabilitation).

Melalui ekspansi ini, Dentaland berharap dapat terus mendekatkan diri kepada masyarakat Indonesia yang dimulai dari Surabaya, guna meningkatkan kesadaran akan kesehatan gigi sekaligus mendongkrak kualitas hidup pasien. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia