Melihat dengan Hati Adalah Awal dari Mengubah Dunia
Sering kali Tuhan bekerja melalui hal-hal yang sederhana. Melalui sebuah senyuman. Melalui kesediaan mendengarkan. Melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta yang besar.

JAKARTA – Di tengah dunia yang semakin sibuk, manusia modern sering kali memiliki banyak koneksi, tetapi sedikit kedekatan. Kita terhubung melalui berbagai perangkat, namun tidak selalu sungguh hadir satu sama lain. Tidak sedikit orang yang tampak baik-baik saja di permukaan, tetapi sesungguhnya sedang memikul beban yang berat di dalam hati: kecemasan, kesepian, kehilangan arah, atau kelelahan yang tak terucapkan.
Dalam Injil hari ini (Mat 9:36–10:8), Yesus memberikan sebuah pelajaran yang sangat mendasar sekaligus sangat relevan bagi kehidupan kita. Sebelum mengajar, menyembuhkan, atau mengutus para murid-Nya, Yesus terlebih dahulu melihat.
Namun yang dilihat-Nya bukan sekadar kerumunan orang. Ia melihat manusia dengan seluruh pergumulan dan harapannya. Karena itu hati-Nya tergerak oleh belas kasih ketika melihat mereka “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”
Belas kasih selalu dimulai dari cara kita memandang. Sering kali kita begitu cepat menilai seseorang dari perilakunya, pilihan hidupnya, atau bahkan dari kesalahannya. Padahal di balik setiap tindakan manusia, sering tersembunyi cerita yang tidak kita ketahui. Ada luka yang belum sembuh, ada kekecewaan yang belum selesai, ada pergulatan yang tidak terlihat oleh mata.
Yesus mengajarkan cara pandang yang berbeda. Ia tidak memulai dari penghakiman, melainkan dari pemahaman. Ia tidak bertanya, “Mengapa mereka seperti itu?” tetapi terlebih dahulu merasakan penderitaan mereka.
Mungkin inilah yang paling dibutuhkan dunia saat ini: bukan semakin banyak orang yang merasa benar, tetapi semakin banyak orang yang mampu berbelas kasih.
Bacaan pertama dari Kitab Keluaran mengingatkan bahwa Allah memanggil bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya. Namun pilihan itu bukanlah sebuah privilese untuk dibanggakan, melainkan sebuah tanggung jawab untuk menjadi berkat bagi sesama.
Demikian pula panggilan iman kita. Menjadi orang beriman bukan soal merasa lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang lain. Sebaliknya, semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin besar pula kemampuannya untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan kepedulian di tengah kehidupan bersama.
Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Roma bahkan membawa kita pada inti dari seluruh kehidupan Kristiani: kasih Allah yang mendahului segala sesuatu.
Kristus wafat bagi manusia bukan ketika manusia sudah sempurna, melainkan ketika manusia masih lemah dan berdosa.
Kasih Tuhan tidak menunggu kita layak terlebih dahulu. Ia hadir lebih dulu, menyembuhkan lebih dulu, mengampuni lebih dulu, dan membuka jalan harapan lebih dulu.
Pengalaman dicintai tanpa syarat inilah yang sesungguhnya mengubah manusia. Ketika seseorang merasa diterima, ia menjadi lebih mampu menerima orang lain. Ketika seseorang mengalami belas kasih, ia menjadi lebih mudah berbelas kasih.
Karena itu ketika Yesus berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit,” sabda itu tidak hanya ditujukan kepada para rasul pada zamannya. Sabda itu juga bergema bagi kita hari ini.
Ladang pelayanan tidak selalu berada di altar, mimbar, atau tempat-tempat religius. Ladang itu ada di mana-mana.
Di dalam keluarga yang sedang membutuhkan pendengar yang baik. Di lingkungan kerja yang membutuhkan kejujuran dan integritas. Di tengah masyarakat yang membutuhkan jembatan dialog daripada tembok permusuhan. Di ruang-ruang digital yang sering kali lebih banyak diwarnai kemarahan daripada pengertian.
Setiap hari kita berjumpa dengan orang-orang yang mungkin sedang menantikan secercah perhatian, sepotong harapan, atau sebuah sapaan yang tulus.
Dan sering kali Tuhan bekerja melalui hal-hal yang sederhana. Melalui sebuah senyuman. Melalui kesediaan mendengarkan. Melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta yang besar.
Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dunia. Namun kita selalu dapat membuat dunia sedikit lebih manusiawi bagi seseorang yang kita jumpai hari ini.
Bukankah itulah yang dilakukan Yesus? Ia hadir, melihat, memahami, lalu mengasihi.
Maka pada Hari Minggu Biasa XI ini, kita diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: ketika melihat orang lain, apa yang pertama kali muncul dalam hati kita? Penilaian atau belas kasih?
Sebab dunia berubah bukan hanya oleh orang-orang yang hebat, tetapi juga oleh mereka yang memilih untuk tetap memiliki hati yang lembut di tengah dunia yang semakin keras.
Dan mungkin, di situlah Kerajaan Allah mulai bertumbuh—diam-diam, tetapi nyata—melalui setiap pribadi yang bersedia menjadi mata, hati, dan tangan belas kasih Tuhan bagi sesamanya.
“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Mat 9:37)
Semoga kita termasuk di antara mereka yang menjawab panggilan itu, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan cara hidup yang menghadirkan kasih bagi dunia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

