Advertisement
Gaya Hidup

Jangan Takut, Engkau Tidak Berjalan Sendirian

Di tengah dunia yang semakin cepat, manusia modern ternyata tidak otomatis menjadi lebih tenang. Kemajuan teknologi dan berbagai kemudahan hidup justru sering berjalan beriringan dengan meningkatnya kecemasan.

TIMES Indonesia,
Jangan Takut, Engkau Tidak Berjalan Sendirian
A-AA+

JAKARTA Di tengah ketidakpastian dan berbagai kecemasan hidup, Yesus mengingatkan bahwa setiap manusia berharga dan tidak pernah berjalan sendirian dalam penyelenggaraan kasih Tuhan.

Di tengah dunia yang semakin cepat, manusia modern ternyata tidak otomatis menjadi lebih tenang. Kemajuan teknologi, akses informasi tanpa batas, dan berbagai kemudahan hidup justru sering berjalan beriringan dengan meningkatnya kecemasan. Banyak orang hidup dalam ketakutan yang tidak selalu terlihat: takut gagal, takut kehilangan, takut ditolak, takut tidak cukup baik, atau takut menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Advertisement

Ketakutan memang bagian dari pengalaman manusia. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan tingkat. Kadang ia melindungi kita dari bahaya, tetapi tidak jarang pula ia menjadi tembok yang menghalangi kita untuk bertumbuh. Ketakutan dapat membuat seseorang enggan mengambil langkah baru, menahan diri untuk menyuarakan kebenaran, bahkan kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam: “Jangan takut.” Menariknya, Yesus tidak mengucapkan kalimat itu kepada orang-orang yang sedang hidup nyaman. Ia menyampaikannya kepada para murid yang akan menghadapi penolakan, tantangan, bahkan penganiayaan karena kesetiaan mereka. Artinya, keberanian yang diajarkan Yesus bukanlah keberanian yang lahir karena situasi aman, melainkan keberanian yang tumbuh karena adanya kepercayaan.

Kepercayaan kepada apa? Kepercayaan bahwa hidup manusia tidak berjalan sendirian.

Yesus menggunakan gambaran yang sangat indah. Burung pipit, makhluk kecil yang sering luput dari perhatian manusia, ternyata tidak luput dari perhatian Allah. Bahkan rambut di kepala manusia pun terhitung semuanya. Melalui gambaran itu, Yesus ingin menegaskan bahwa setiap pribadi memiliki nilai yang tidak ditentukan oleh prestasi, status sosial, atau pengakuan orang lain.

Di mata Allah, setiap manusia berharga. Pesan ini terasa semakin relevan dalam budaya yang sering mengukur nilai seseorang berdasarkan pencapaian dan popularitas. Ketika identitas dibangun di atas pengakuan eksternal, ketakutan menjadi mudah tumbuh. Kita menjadi takut kehilangan citra, takut gagal memenuhi ekspektasi, atau takut tidak diterima oleh lingkungan.

Advertisement

Namun Yesus mengajak kita membangun identitas yang lebih kokoh: identitas sebagai pribadi yang dikasihi.

Bacaan pertama menghadirkan sosok Nabi Yeremia yang mengalami tekanan luar biasa. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang menantikan kejatuhannya. Pengkhianatan dan penolakan datang dari lingkungan terdekat. Situasi itu sangat manusiawi dan masih sering terjadi hingga sekarang. Tidak sedikit orang yang berusaha melakukan hal benar tetapi justru menghadapi kritik, kesalahpahaman, atau penolakan.

Meski demikian, Yeremia tidak membiarkan ketakutan menjadi penguasa hidupnya. Ia tetap percaya bahwa Tuhan menyertainya. Di tengah kerapuhan manusiawinya, ia menemukan kekuatan yang melampaui dirinya sendiri.

Sementara itu, Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa sejarah manusia tidak berhenti pada kenyataan dosa dan kelemahan. Jika melalui Adam manusia mengalami keterpisahan, melalui Kristus manusia menerima anugerah yang memulihkan. Pesan ini menghadirkan harapan bahwa kegagalan, luka, dan keterbatasan bukanlah kata terakhir dalam perjalanan hidup manusia.

Kasih karunia selalu memiliki ruang yang lebih luas daripada kesalahan manusia. Karena itu, bacaan-bacaan hari ini tidak mengajak kita menyangkal keberadaan ketakutan. Sebaliknya, kita diajak melihat ketakutan dengan jujur, lalu menghadapinya dengan iman. Keberanian bukan berarti tidak merasa takut. Keberanian adalah memilih tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberanian itu dapat mengambil bentuk yang sangat sederhana: berani meminta maaf, berani memulai kembali setelah gagal, berani memperjuangkan kebenaran, berani menunjukkan kasih di tengah kebencian, atau berani tetap berharap ketika keadaan belum berubah.

Dunia saat ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Dunia juga tidak kekurangan orang kuat. Namun dunia selalu membutuhkan lebih banyak orang yang berani hidup berdasarkan kasih daripada ketakutan.

Dan mungkin, itulah undangan yang disampaikan Yesus kepada kita hari ini. Bukan untuk menjadi manusia yang bebas dari rasa takut, melainkan menjadi manusia yang tidak lagi diperbudak oleh ketakutan.

Karena pada akhirnya, hidup yang dijalani dalam kepercayaan akan selalu lebih luas daripada hidup yang dibatasi oleh kecemasan.

Ketika kita menyadari bahwa kita dikenal, diperhatikan, dan dikasihi oleh Tuhan, kita menemukan alasan untuk terus melangkah. Bukan karena masa depan sudah pasti, tetapi karena kita percaya bahwa kasih Tuhan selalu berjalan bersama kita di setiap langkah perjalanan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

G
PenulisGe Recta Geson Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia