Ratusan Kolektor Diecast Se-Pantura Padati Rembang, Pamerkan Mobil Mainan Langka
Acara ini menjadi ajang temu kangen sekaligus Kopi Darat Gabungan (Kopgab) yang keenam kalinya bagi para diecaster (sebutan pencinta diecast) di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.
REMBANG – Ratusan kolektor dan pencinta mobil mainan diecast memenuhi Hall Hotel Gajah Mada Kabupaten Rembang pada Minggu (21/6/2026).
Mereka memamerkan ratusan koleksi mobil mainan unik dan langka dalam gelaran Pameran dan Fun Game Komunitas Pecinta Mobil Diecast Se-Pantura.
Acara ini menjadi ajang temu kangen sekaligus Kopi Darat Gabungan (Kopgab) yang keenam kalinya bagi para diecaster (sebutan pencinta diecast) di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.
Tak hanya dari Rembang selaku tuan rumah, kolektor dari berbagai kabupaten seperti Demak, Kudus, dan Jepara turut ambil bagian.
Menariknya, pameran ini juga menyedot perhatian masyarakat awam yang penasaran dengan detail replika mobil mini tersebut.

Ketua Panitia Acara, Karsono, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kesamaan hobi yang kemudian bermuara pada semangat persaudaraan (seduluran).
Para anggota komunitas ini datang dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga wiraswasta.
"Tujuan utamanya adalah sharing pesan dalam satu komunitas dan pastinya mempererat silaturahmi. Jarak yang jauh tidak menjadi halangan bagi kita untuk saling bertemu," ujar Karsono.
Ia menambahkan, total anggota aktif se-Pantura sebenarnya mencapai lebih dari 400 orang. Namun, tidak semuanya bisa hadir karena di waktu yang bersamaan ada perwakilan komunitas yang mengikuti perlombaan race di Salatiga.
Bagi Rembang sendiri, ini merupakan kali kedua mereka dipercaya menjadi tuan rumah dari total enam kali penyelenggaraan Kopgab Pantura.
"Tahun kemarin diadakan di Kudus. Untuk tahun depan, kemungkinan kalau bukan di Demak, ya di Jepara," imbuh Karsono.
Di balik kemeriahan acara, Karsono secara jujur mengakui perkembangan hobi diecast di Rembang saat ini terbilang agak stagnan.
Wadah komunitas di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp sebenarnya cukup ramai, namun mayoritas anggotanya masih berusia remaja (SMP dan SMA) dan belum sepenuhnya terakomodasi dengan baik.

Karsono juga menyoroti maraknya komplain dari beberapa toko mainan di Rembang terkait aksi pencurian diecast yang menyisakan bungkus kosongnya saja. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi komunitas untuk merangkul dan mengedukasi para diecaster muda.
"Kami ingin menyatukan visi agar hal-hal negatif seperti itu tidak terjadi lagi. Lewat media sosial, kami sering keliling dan sharing. Semoga ke depannya generasi yang lebih muda mau terbuka, kita main yang bersih dan main yang jujur," tegasnya.
Apresiasi tinggi datang dari komunitas luar daerah. Usman, perwakilan dari Jepara Diecast Community, mengaku terkesan dengan sambutan tuan rumah. Baginya, gelaran di Rembang ini sudah lama dinantikan setelah sempat tertunda karena dinamika internal organisasi.
"Kesan saya untuk tuan rumah luar biasa, istimewa. Bagi kami yang menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Jepara, momen ini sangat luar biasa untuk melepas rindu," kata Usman.
"Di sini kita bisa melihat item baru, hasil modifikasi (custom) terbaru, hingga melakukan transaksi jual-beli atau tukar-menukar koleksi," imbuhnya.
Menanggapi dominasi kalangan dewasa atau orang tua dalam hobi ini, Usman memberikan alasan yang menggelitik sekaligus logis.
"Kalau mengoleksi mobil aslinya kan butuh parkiran yang gede dan biaya besar. Karena ada yang kecil yang unik dengan detail yang bagus, kenapa tidak? Apalagi kalau berburu hot item (barang langka). Kalau sudah dapat, rasa puasnya luar biasa," tuturnya.
Terkait regenerasi, Usman sepakat bahwa merangkul anak muda adalah pekerjaan rumah (PR) besar bagi para kolektor senior. Saat ini, anak-anak muda yang terjun ke hobi ini rata-rata karena faktor "warisan" hobi dari orang tua mereka.
Sebagai langkah taktis, komunitas Jepara menyiasatinya dengan sering menggelar kopdar di ruang publik.
"Kami sering bikin acara malam minggu di tempat umum seperti alun-alun atau kafe untuk show off (pameran). Biar mereka penasaran dan tertarik. Tantangannya memang kadang mereka ragu di masalah harga, tapi pelan-pelan kita kenalkan keunikan hobi ini," pungkas Usman. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


