Momen Libur Sekolah, Cap Kaki Tiga Anak Ajak Bereksplorasi di Luar Ruangan
Liburan sekolah rentan membuat anak pasif. Psikolog anak Saskhya Aulia Prima menyarankan adventurous play dan supervision partnership demi kesehatan mental serta fisik anak.
SURABAYA – Musim liburan sekolah kerap membawa dilema tersendiri bagi para orang tua. Ketika rutinitas belajar terhenti, anak-anak justru rentan terjebak dalam kebiasaan pasif akibat absennya jadwal harian yang teratur.
Para ahli menyebut fenomena ini dengan istilah Structured Days Hypothesis, di mana tidak adanya jadwal terstruktur membuat anak cenderung menghabiskan waktu tanpa banyak bergerak. Sejumlah studi mencatat bahwa saat libur panjang tiba, durasi waktu menatap layar (screen time) anak melonjak signifikan hingga mencapai dua setengah jam setiap hari, sementara aktivitas fisik dan waktu tidur mereka merosot. Padahal, WHO menganjurkan agar anak usia sekolah tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit sehari.
Merespons kegelisahan para ibu, psikolog anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, mengajak orang tua untuk mengurai rasa cemas tersebut secara perlahan. Menurutnya, menyiasati liburan dengan memberikan segudang jadwal les tambahan bukanlah jalan keluar yang tepat.
"Bukannya membuat anak produktif, hal itu malah merampas ruang otonominya. Padahal, waktu luang yang bebas aturan, bahkan momen saat mereka mengeluh bosan, tanpa disadari menjadi ruang emas untuk memantik kreativitas dan melatih cara berpikir mereka," ujar Saskhya dalam acara Community Playdate: Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak yang digelar oleh Cap Kaki Tiga Anak, Selasa (23/6/2026).
Manfaat Adventurous Play bagi Mental Anak
Saskhya menjelaskan, hal yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas melalui permainan yang menantang (adventurous play).
"Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," paparnya.
Melalui permainan ini, anak belajar langsung menghadapi ketidakpastian, bangkit saat terjatuh, dan berani mengambil keputusan sendiri. Pengalaman menghadapi risiko secara langsung tersebut menjadi bekal utama untuk membentuk mental anak yang tangguh dan mandiri.
Sebaliknya, terlalu sering melarang dengan niat melindungi justru tanpa sadar mengirimkan pesan bahwa dunia ini sangat menakutkan dan mereka tidak cukup mampu menghadapinya. Aktivitas eksplorasi fisik terbukti bekerja layaknya efek anti-phobic atau "vaksin kecemasan alami".
Survei dari University of Exeter di Inggris terhadap 2.500 orang tua membuktikan bahwa anak yang akrab dengan permainan fisik yang menantang memiliki tingkat gejala kecemasan dan depresi yang jauh lebih rendah.
Menerapkan Konsep Supervision Partnership
Untuk menjaga keamanan anak tanpa terkesan mengekang, Saskhya menyarankan orang tua menerapkan metode keseimbangan dan kepercayaan melalui konsep supervision partnership.
"Pada usia sekolah dasar, ibu tidak perlu menempel atau memantau fisik dari jarak sangat dekat setiap waktu. Ibu bisa mulai menerapkan konsep supervision partnership," sambungnya.
Artinya, orang tua cukup memosisikan diri sebagai zona aman (secure base) dan tempat berlindung (safe haven). Orang tua memberikan jarak agar anak bebas bermain, namun memastikan diri tetap berada dalam jangkauan pandangan mereka.
"Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit-sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain," kata Saskhya.
Mendeteksi Sinyal Dehidrasi Melalui Perubahan Sikap
Selain memberikan ruang gerak, kepekaan ibu juga diuji dalam membaca sinyal tubuh anak. Saskhya memaparkan bahwa pada usia tersebut, kemampuan anak untuk merasakan sinyal dari dalam tubuhnya (interoception) belum matang sempurna. Rasa seru dan lonjakan hormon adrenalin saat bermain sering kali menutupi rasa lelah yang sebenarnya mereka rasakan.
Secara fisik, tubuh anak juga lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan orang dewasa karena proses penguapan cairan tubuh yang terjadi lebih cepat.
"Jadi, ketika si kecil mendadak rewel, lesu, atau mudah marah di tengah serunya bermain, jangan cepat melabeli mereka nakal. Perubahan sikap dadakan ini sebenarnya adalah cara mereka meminta bantuan (co-regulation) sekaligus alarm awal bahwa tubuh mereka mulai dehidrasi," jelasnya.
Tanda perubahan sikap ini sering muncul mendahului gejala fisik lainnya, seperti bibir kering, wajah hangat, atau jarang buang air kecil. Saat kondisi ini terjadi, orang tua disarankan tidak langsung menghentikan aktivitas anak secara paksa, melainkan memfasilitasi masa jeda secara interaktif. Orang tua bisa mengajak anak ke area teduh layaknya sebuah mobil balap yang masuk ke pit stop untuk beristirahat dan memberikan asupan minuman penyegar guna mengganti cairan tubuh yang hilang sekaligus mencegah risiko panas dalam.
Dukungan Cap Kaki Tiga Anak untuk Eksplorasi Fisik
Dilema antara membiarkan anak bebas bereksplorasi di luar ruangan dan kekhawatiran akan kondisi fisik anak yang menurun akibat cuaca tidak menentu menjadi perhatian bagi Cap Kaki Tiga Anak, salah satu merek unggulan dari Kino Indonesia.
"Kegelisahan keseharian inilah yang mendorong Cap Kaki Tiga Anak hadir untuk memberikan ketenangan penuh bagi para ibu, sehingga anak-anak bisa bebas bereksplorasi tanpa rasa khawatir," ujar Jesica Christianty, Senior Brand Manager Cap Kaki Tiga Anak.
Sejak tahun 2013, Cap Kaki Tiga Anak diformulasikan khusus untuk anak dengan varian rasa buah. Melalui kampanye "Langkah Awal #BaikUntukAnak", jenama ini mengajak para orang tua memberikan kebebasan bagi anak untuk aktif bergerak di luar ruangan demi membangun fondasi mental yang kuat.
"Dengan dukungan serta persiapan matang dari orang tua, kegiatan yang dilakukan hari ini akan menjadi bekal berharga untuk masa depan mereka kelak,” pungkas Jesica. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


