Advertisement
Gaya Hidup

Pakar UMM Dorong Anak Muda Hadapi Quarter Life Crisis dengan Kesiapan Mental

Pakar UMM Irine Putri Shaliha menjelaskan perbedaan Quarter Life Crisis (QLC) dengan stres biasa serta tips menghadapinya bagi generasi muda.

TIMES Indonesia,
Pakar UMM Dorong Anak Muda Hadapi Quarter Life Crisis dengan Kesiapan Mental
ILISTRASI: Generasi muda didorong untuk menghadapi quarter life crisis dengan kesiapan mental. (FOTO: Beautynesia)
A-AA+

MALANG Fase Quarter Life Crisis (QLC) kerap memicu kecemasan berlebih pada generasi muda. Berbagai tuntutan sosial dan standar kesuksesan, seperti kemapanan finansial, menikah di usia 25 tahun, hingga mendapatkan pekerjaan tetap, tanpa disadari dapat memengaruhi kesehatan mental secara perlahan.

Pakar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Irine Putri Shaliha, M.Sc., menjelaskan bahwa fenomena ini berbeda dari stres biasa. Jika stres umumnya disebabkan oleh beban kerja atau konflik sesaat, QLC cenderung bersumber dari permasalahan mendalam seperti karier, arah hidup, hingga ketakutan akan masa depan.

Advertisement

“QLC lebih dari stres biasa, apa yang dipikirkan oleh generasi muda lebih mendalam seperti menentukan arah hidup, karier, hingga ketakutan akan masa depan,” jelasnya, Minggu (28/6/2026).

Lebih lanjut, Irine menjelaskan bahwa tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks, meliputi pilihan hidup yang beragam, seleksi kerja yang ketat, hingga masifnya penggunaan media sosial yang memicu perilaku membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Padahal, menurutnya, setiap orang memiliki timeline atau garis waktu hidup yang berbeda-beda.

“Setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda, makanya penting untuk kita berhenti sejenak dari aktivitas media sosial supaya tidak terjebak dalam ilusi yang membuat kita merasa tertinggal,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa patokan usia menikah murni merupakan konstruksi lingkungan sosial masyarakat. Desakan-desakan tersebut justru berisiko memicu kecemasan berlebih, penurunan harga diri, sikap terlalu mengkritik diri sendiri (self-criticism), hingga bermuara pada depresi.

Oleh karena itu, Irine mendorong generasi muda untuk berfokus pada pembangunan fisik dan mental secara bertahap. Dalam perspektif psikologi, kesuksesan sejati tidak selalu diukur dari kemewahan materi, melainkan dari kesejahteraan fisik, ketenangan mental, dan kualitas relasi.

Advertisement

“Kesiapan psikologis seseorang jauh lebih penting daripada mengikuti aturan atau tuntutan sosial semata,” imbuhnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih memperhatikan diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan tetap berani melangkah. Menurutnya, kegagalan di usia muda bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase pembelajaran yang membentuk kematangan berpikir secara utuh.

“Usia dua puluhan adalah masa belajar dan eksplorasi, melakukan kesalahan adalah hal wajar, dan kegagalan tersebut yang justru membawa kesuksesan,” pungkasnya.

Sebagai penutup, ia berpesan bahwa QLC merupakan fase transisi yang tidak perlu ditakuti, melainkan dihadapi dengan kesadaran penuh. Generasi muda didorong untuk berfokus pada pengembangan kapasitas diri, membatasi konsumsi informasi yang memicu rasa rendah diri, dan menjadikan usia dua puluhan sebagai ruang aman untuk terus berproses menjadi versi terbaik dari diri sendiri. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia