Advertisement
Gaya Hidup

Jangan Cuma Melarang Anak Main Gadget, Psikolog UI Sarankan Siapkan Kegiatan Pengganti

Guru Besar UI Prof. Rose Mini mengingatkan pentingnya peran orang tua dan guru dalam membentengi moral serta emosi anak dari candu hiburan instan dunia digital.

TIMES Indonesia,
Jangan Cuma Melarang Anak Main Gadget, Psikolog UI Sarankan Siapkan Kegiatan Pengganti
Ilustrasi. Anak-anak sedang menggunakan gadget. (Foto: Freepik)
A-AA+

Bali Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan pentingnya pendampingan intensif dari orang tua dan guru untuk membentengi anak dari dampak buruk dunia digital yang kini kian memengaruhi emosi serta moral mereka.

Saat menjadi pembicara dalam Forum PP Tunas di Denpasar, Bali, Kamis (2/7/2026), Rose Mini menjelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup di dua dunia sekaligus, yakni dunia nyata dan dunia digital. Dunia digital menyuguhkan berbagai hiburan instan yang memberikan stimulus kesenangan dengan cepat, sehingga memicu anak betah berlama-lama di depan gawai.

Advertisement

"Dunia digital memberikan banyak reward secara instan, sehingga anak lebih mudah tertarik dan akhirnya menghabiskan sebagian besar waktunya di sana," ujarnya.

Rose Mini memaparkan, anak usia 0–6 tahun berada pada fase perkembangan otak yang sangat pesat. Pada masa emas ini, mereka cenderung menyerap seluruh informasi mentah-mentah tanpa kemampuan menyaring. Dampaknya, anak menjadi rentan mengalami gangguan konsentrasi dan mudah terdistraksi.

Sementara itu, anak usia 7–12 tahun sudah mulai aktif bersosialisasi dan mengeksplorasi jagat maya. Namun, karena kemampuan berpikir kritis dan pengendalian emosi mereka belum matang, kelompok usia ini sangat mudah terpengaruh oleh beragam konten di internet.

Ia menilai, perlindungan digital bagi anak tidak boleh sebatas membatasi atau memutus akses teknologi, melainkan melatih mereka agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.

Untuk itu, Rose Mini menekankan pentingnya tiga pilar regulasi diri pada anak. Ketiganya meliputi pendampingan bersama dari orang tua dan guru (co-regulation), pembelajaran sosial-emosional, serta penerapan aturan main yang jelas dalam penggunaan gawai.

Advertisement

Lebih lanjut, ia mengingatkan para orang tua dan guru agar bersikap adil saat membatasi durasi penggunaan gawai. Anak-anak harus difasilitasi dengan alternatif kegiatan pengganti yang tidak kalah seru, seperti berolahraga, bermain di luar rumah, atau beraktivitas bersama keluarga.

"Melarang anak menggunakan gadget tanpa memberikan kegiatan pengganti justru akan membuat anak merasa kehilangan dan sulit menerima aturan tersebut," tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Rose Mini juga menggarisbawahi urgensi pendidikan karakter dan moral sejak dini. Nilai-nilai seperti empati, kontrol diri, dan sikap saling menghargai harus diasah agar anak memiliki kompas moral yang kuat, termasuk saat berinteraksi di ruang siber. Sekolah pun diharapkan tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter agar anak siap menghadapi tantangan era digital secara sehat dan bertanggung jawab. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Antara
PenulisAntaraANTARA adalah kantor berita nasional Indonesia yang menyebarluaskan informasi tentang berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia