Waspada Gula Tersembunyi, Ini 4 Tips Memilih Produk Nutrisi yang Tepat untuk Buah Hati Menurut Ahli
Pemenuhan nutrisi anak bukan sekadar masalah kuantitas atau jumlah asupan, melainkan kualitas dan keseimbangan komposisinya sejak dini.
SURABAYA – Di tengah menjamurnya berbagai produk nutrisi anak di pasaran, para orang tua diimbau untuk lebih jeli dan cerdas. Kebiasaan membaca daftar komposisi bahan baku menjadi kunci penting agar orang tua tidak terkecoh oleh klaim sepihak di bagian depan kemasan.
Pesan edukatif ini diutarakan oleh Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial. Ia mengingatkan pentingnya gerakan Cek Komposisi sebelum membelikan produk nutrisi untuk buah hati.
Menurut Prof. Rini, pemenuhan nutrisi anak bukan sekadar masalah kuantitas atau jumlah asupan, melainkan kualitas dan keseimbangan komposisinya sejak dini. Terutama pada periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
"Klaim dan kandungan tambahan yang ditampilkan pada kemasan sering kali hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan produk. Orang tua sebaiknya membaca dengan cermat dan memahami komposisi utama produk tersebut," ujar Prof. Rini dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
4 Langkah Cerdas Cek Komposisi Produk Nutrisi Anak
Agar tidak bingung saat membaca label produk, orang tua dapat menerapkan empat langkah taktis berikut ini:
1. Cek Bahan yang Tercantum Paling Awal
Daftar komposisi ditulis berdasarkan urutan jumlah terbanyak. Bahan yang berada di urutan pertama merupakan komponen paling dominan dalam produk tersebut.
"Pada produk berbasis susu, pastikan apakah susu benar-benar menjadi bahan utama atau justru bahan lain yang berada di urutan teratas," terangnya.
2. Cermati Jenis Bahan Utama dan Sumbernya
Orang tua perlu mengenali perbedaan bahan dasar, khususnya pada produk susu. Apakah itu termasuk susu segar, rekonstitusi atau rekombinasi.
"Susu rekonstitusi atau rekombinasi biasanya berbahan dasar susu bubuk yang dicampur kembali dengan air dan bahan tambahan, lalu melalui proses pemanasan berulang yang berisiko mengurangi sensitivitas nutrisi alami seperti vitamin dan enzim," ungkap Prof. Rini.
3. Waspadai Gula Tambahan dan Pemanis Buatan
Gula tambahan kerap bersembunyi di balik nama ilmiah seperti sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup jagung, atau maltodekstrin. Ini berbeda dengan laktosa yang merupakan gula alami susu.
"Paparan gula tambahan yang tinggi pada usia dini berisiko memicu obesitas dan merusak preferensi rasa anak terhadap makanan sehat seperti buah dan sayur," katanya.
4. Padukan dengan Membaca Informasi Nilai Gizi (ING)
Tabel Informasi Nilai Gizi memberikan data kuantitatif mengenai kalori, protein, lemak, karbohidrat, serta vitamin per sajian. Informasi ini harus dibaca bersamaan dengan daftar komposisi agar orang tua mendapatkan gambaran utuh antara jumlah nutrisi dan kualitas bahan baku yang digunakan.
ASI Tetap yang Utama, Konsultasi Medis Jadi Kunci
Lebih lanjut, Prof. Rini kembali menekankan bahwa produk nutrisi tambahan tidak bisa menggantikan pola makan sehat secara keseluruhan.
"Nutrisi terbaik anak harus lahir dari variasi makanan yang seimbang dan lingkungan makan yang mendukung," tegasnya.
Selain itu, Air Susu Ibu (ASI) tetap menempati kasta tertinggi sebagai sumber nutrisi terbaik bagi bayi, khususnya di awal kehidupan.
"Orang tua diharapkan selalu menyesuaikan pemilihan produk nutrisi dengan usia anak dan tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter spesialis anak agar tumbuh kembang anak berjalan optimal, aman, dan tepat sasaran," pungkas Prof. Rini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


