Advertisement
Gaya Hidup

Meninggalkan Hustle Culture, Saatnya Menerapkan Soft Living yang Lebih Seimbang

Menyoroti dampak buruk produktivitas ekstrem, bagi para pekerja saatnya menerapkan gaya hidup soft living untuk menghindari stres kronis tanpa mengorbankan karier.

TIMES Indonesia,
Meninggalkan Hustle Culture, Saatnya Menerapkan Soft Living yang Lebih Seimbang
Ilustrasi. Soft living atau gaya hidup lembut yang mengutamakan keseimbangan, ketenangan, dan kesejahteraan diri. (Foto: Freepik)
A-AA+

JAKARTA Selama beberapa tahun terakhir, dunia kerja didominasi oleh narasi hustle culture, sebuah fenomena di mana seseorang merasa harus terus bekerja keras, memangkas waktu istirahat, dan menempatkan karier di atas segalanya demi mencapai kesuksesan. Namun, belakangan ini, kesadaran masyarakat global mulai bergeser. Banyak profesional muda yang mulai mengalami burnout (kelelahan fisik dan mental ekstrem) dan memilih untuk melangkah mundur.

Kini, muncul tren baru yang menjadi antitesis dari budaya gila kerja tersebut, yaitu soft living atau gaya hidup lembut yang mengutamakan keseimbangan, ketenangan, dan kesejahteraan diri.

Advertisement

Mengenal Sisi Gelap Hustle Culture Menurut Sains

Hustle culture menuntut produktivitas tanpa batas. Jam kerja yang panjang, mengabaikan waktu tidur, dan membawa pekerjaan ke akhir pekan dianggap sebagai lambang kesuksesan. Padahal, jika dikaji secara medis dan psikologis, gaya hidup ini menyimpan dampak buruk yang masif bagi kesehatan mental.

Dampak negatif ini dibuktikan oleh riset tinjauan sistematis berskala global yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational Health and Psychology. Tim peneliti dalam jurnal tersebut menemukan adanya korelasi positif yang sangat kuat antara tuntutan produktivitas ekstrem dengan lonjakan angka gangguan kecemasannya kronis dan burnout pada pekerja muda. Tekanan sosial untuk selalu terlihat sibuk di media sosial, atau yang dikenal dengan istilah toil glamour, terbukti memicu perfeksionisme maladaptif yang tidak sehat.

Selain itu, studi klinis dari Institute of Mental Health dan Neurosciences mengungkapkan bahwa tubuh pekerja yang terjebak dalam hustle culture terus-menerus memproduksi hormon kortisol secara berlebihan. Kondisi ini memicu psychological distress atau tekanan psikologis berat. Akibatnya, alih-alih mencapai kesuksesan, pekerja justru rentan mengalami kelelahan emosional akut yang pada akhirnya menurunkan performa serta efisiensi kerja mereka sendiri.

Soft Living: Bukan Malas, Melainkan Cerdas

Sebagai respons atas kepenatan tersebut, gerakan soft living hadir sebagai alternatif yang lebih manusiawi. Berbeda dengan miskonsepsi sebagian orang, soft living bukanlah ajakan untuk bermalas-malasan, menganggur, atau melepaskan seluruh tanggung jawab profesional.

Konsep ini mengajarkan individu untuk bekerja dengan batasan yang jelas, menolak stres yang tidak perlu, dan meluangkan waktu untuk menikmati hidup saat ini (mindfulness). Dalam jurnal Frontiers in Psychology, para ahli psikologi perilaku menegaskan bahwa menerapkan self-compassion (sikap berbelas kasih dan menerima keterbatasan diri sendiri) bertindak sebagai rem darurat psikologis yang efektif untuk menetralisasi dampak buruk ambisi berlebih.

Advertisement

Melalui pendekatan ini, kesuksesan tidak lagi diukur dari seberapa padat kalender kerja harian Anda, melainkan dari seberapa berkualitas hidup yang Anda jalani. Bekerja keras itu perlu, tetapi tahu kapan harus berhenti adalah bentuk kecerdasan emosional yang tertinggi.

Langkah Awal Menerapkan Soft Living

Beralih dari ritme kerja cepat ke gaya hidup yang lebih lambat memerlukan latihan yang konsisten. Berikut adalah beberapa langkah efektif yang direkomendasikan oleh para pakar kesehatan untuk memulai soft living:

  • Tetapkan Batasan Kerja yang Jelas: Hindari membuka surat elektronik (e-mail) atau membalas pesan terkait pekerjaan setelah jam kantor berakhir. Beranilah berkata "tidak" pada tugas tambahan yang melebihi kapasitas waktu kerja Anda.

  • Prioritaskan Istirahat Berkualitas: Berdasarkan data kesehatan resmi dari National Institutes of Health (NIH), tidur selama 7–8 jam sehari memiliki sifat restoratif biologis yang krusial untuk memperbaiki memori, meregulasi suasana hati (mood), dan menurunkan hormon stres. Tidur cukup bukanlah bentuk kemewahan, melainkan kebutuhan biologis yang wajib dipenuhi.

  • Praktikkan Mindfulness Harian: Sediakan waktu minimal 10–15 menit untuk melepaskan diri dari gawai (gadget). Data empiris dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa individu yang mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness) lewat aktivitas sederhana sehari-hari mengalami penurunan tingkat kecemasan hingga 27 persen sekaligus merasakan peningkatan ketenangan pikiran yang signifikan.

  • Ubah Indikator Pencapaian Diri: Mulailah mengapresiasi pencapaian kecil di luar aspek karier, seperti berhasil memasak makanan sehat, memiliki waktu luang bersama keluarga, atau menyelesaikan bacaan buku favorit.

Menuju Masa Depan yang Lebih Sehat

Peralihan dari hustle culture ke soft living membuktikan bahwa masyarakat mulai menyadari pentingnya kesehatan mental. Perusahaan pun kini dituntut untuk lebih adaptif dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan karyawannya (well-being). Pada akhirnya, bekerja dengan bahagia dan hidup dengan tenang adalah kunci utama produktivitas yang berkelanjutan dalam jangka panjang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Deasy Mayasari
PenulisDeasy MayasariSarjana Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2015 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia