Biaya Hidup Naik, Warga Jepang Pangkas Anggaran Liburan Musim Panas 2026
Survei Meiji Yasuda mengungkap anggaran liburan musim panas warga Jepang turun untuk pertama kalinya dalam lima tahun akibat kenaikan biaya hidup dan inflasi.
JAKARTA – Kenaikan biaya hidup dan inflasi membuat masyarakat Jepang semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Hal ini tercermin dari hasil survei yang menunjukkan anggaran liburan musim panas 2026 mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Survei daring yang dilakukan Meiji Yasuda Life Insurance Co. pada 9–12 Juni 2026 itu melibatkan 1.120 responden berusia 20 hingga 59 tahun. Hasilnya menunjukkan rata-rata anggaran liburan musim panas tahun ini turun hampir 20 ribu yen atau sekitar Rp2,23 juta dibandingkan tahun lalu.
Inflasi Tekan Anggaran Rumah Tangga
Dilansir dari Kyodo, Rabu (8/7/2026), rata-rata dana yang disiapkan masyarakat Jepang untuk berlibur pada musim panas 2026 sebesar 85.145 yen atau sekitar Rp9,49 juta. Angka tersebut turun dari 104.901 yen atau sekitar Rp11,69 juta pada 2025, yang menjadi rekor tertinggi selama survei dilakukan.
Ekonom Institut Penelitian Meiji Yasuda, Yukihiro Morita, menilai penurunan itu dipicu meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengelola anggaran rumah tangga di tengah tekanan ekonomi.
Menurut hasil survei, sebanyak 20,7 persen responden mengaku berencana mengurangi anggaran liburan musim panas. Sementara itu, hanya 12,3 persen yang menyatakan akan meningkatkan pengeluaran untuk berlibur.
Semakin Banyak Warga Memilih Tidak Berlibur
Survei juga menunjukkan semakin banyak warga Jepang yang memilih tidak bepergian selama musim liburan. Sebanyak 41,6 persen responden mengaku tidak memiliki rencana liburan musim panas pada tahun ini, meningkat dibandingkan 35,3 persen pada tahun lalu.
Alasan yang paling banyak disampaikan responden adalah kenaikan harga barang dan jasa yang membebani keuangan keluarga. Selain itu, sebagian responden juga mengaku pendapatan mereka menurun sehingga harus mengurangi pengeluaran yang bersifat non-prioritas.
Faktor lain yang turut memengaruhi keputusan masyarakat adalah cuaca musim panas yang semakin panas, sehingga banyak orang memilih tetap berada di rumah dibanding melakukan perjalanan wisata.
Hasil survei ini mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat Jepang yang kini lebih mengutamakan efisiensi pengeluaran di tengah tantangan ekonomi dan inflasi yang masih membayangi.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


