Advertisement
Gaya Hidup

Pameran Lukisan Tunggal 'Kedanyang' di Galeri Merah Putih Surabaya, Lanskap Batin dan Tradisi Spiritual

Lewat pameran yang berlangsung mulai 11-21 Juli 2026 ini, Muslim mengusung tujuh lukisan beraliran surrealisme kontemporer.

TIMES Indonesia,
Pameran Lukisan Tunggal 'Kedanyang' di Galeri Merah Putih Surabaya, Lanskap Batin dan Tradisi Spiritual
Pengunjung menikmati keindahan lukisan karya Muslim dalam sebuah pameran bertajuk 'Kedanyang' di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya, Minggu (12/7/2026).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Muslim, seorang perupa asal Kabupaten Gresik, Jawa Timur menampilkan sederet karya terbarunya dalam sebuah pameran tunggal bertajuk 'Kedanyang' di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda, Surabaya.

Lewat pameran yang berlangsung mulai 11-21 Juli 2026 ini, Muslim mengusung tujuh lukisan beraliran surrealisme kontemporer menggunakan media cat minyak di atas kanvas. 

Advertisement

Rata-rata lukisannya berukuran besar, 170 cm x 210 cm. Seperti Naturalis Scorpion, Problem Arus, Misteri Batu, Terjebak, Badai Dalam Berkesenian, Keberanian, dan Star 1. Karya-karyanya kaya akan warna ceria.

Penanggungjawab Galeri Merah Putih, Muit Arsa mengatakan, pameran ini seolah mengobati kerinduan akan karya-karya seorang Muslim.

"Setelah melalui perjalanan kreatif yang panjang, Muslim kembali menghadirkan pameran lukisan tunggal ketiga bertajuk Kedanyang," ungkap Muit Arsa, Minggu (12/7/2026).

Muslim diketahui lahir pada 28 Desember 1980 di Desa Kedanyang, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

Ia dikenal sebagai pelukis dengan kecenderungan aliran surealisme kontemporer. 

Advertisement

"Dalam karya-karyanya, realitas tidak sekadar direkam, melainkan ditafsirkan ulang melalui simbol, metafora, dan imajinasi yang berpijak pada pengalaman hidup, ingatan kolektif, serta nilai-nilai budaya yang membentuk identitasnya," kata Muit Arsa.

Pameran 'Kedanyang' disebut Muit menjadi perjalanan pulang secara artistik menuju ruang asal yang membesarkan diri seorang Muslim.

Desa Kedanyang tidak hanya dihadirkan sebagai sebuah wilayah geografis, tetapi sebagai lanskap batin yang menyimpan jejak sejarah, tradisi, spiritualitas, serta dinamika kehidupan masyarakat.

"Melalui bahasa visual yang khas, Muslim mengolah kenangan menjadi narasi estetik yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masa kini," sambungnya.

Sementara bagi Muslim, tanah kelahiran merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah habis digali.

Setiap lukisan menjadi medium refleksi atas hubungan manusia dengan akar budayanya, sekaligus ajakan untuk kembali mengenali identitas lokal di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi.

Surealisme yang dihadirkannya bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan cara lain untuk memahami kenyataan melalui simbol-simbol yang kaya makna.

Pameran ini juga menandai konsistensi perjalanan berkesenian Muslim. Sebelumnya, ia telah menyelenggarakan pameran tunggal pada tahun 2010 di THR Surabaya dan tahun 2012 di Grand Hotel Surabaya. 

Setelah lebih dari satu dekade menjalani proses kreatif, pameran ketiga ini menjadi tonggak penting yang menunjukkan kematangan gagasan, penguasaan teknik, sekaligus pendalaman visi artistiknya.

Melalui 'Kedanyang', Muslim berharap mampu menggali kembali nilai-nilai budaya dari tanah kelahirannya sebagai sumber inspirasi yang relevan bagi kehidupan masa kini.

"Pameran ini juga menjadi bentuk komitmen dalam menjaga eksistensi sebagai seniman, memperkaya khazanah seni rupa Indonesia, serta ikut berkontribusi dalam pengembangan ekosistem seni rupa di Jawa Timur," ujar Muslim.

Lebih dari sekadar ruang apresiasi karya, pameran ini diharapkan menjadi ruang dialog antara seniman dan masyarakat mengenai pentingnya memelihara ingatan budaya, merawat identitas lokal, serta menjadikan seni sebagai media refleksi atas perjalanan manusia dan peradabannya.

Kedanyang bukan sekadar judul pameran, melainkan sebuah perjalanan pulang menuju akar, tempat di mana ingatan, budaya, dan imajinasi bertemu menjadi karya seni yang hidup.

Muslim mengundang seluruh pencinta seni, akademisi, kolektor, kurator, dan masyarakat luas untuk hadir, menikmati, serta memaknai setiap karya yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Tunggal ke-3 'Kedanyang'. 

Pameran bisa dikunjungi setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga 21.00 WIB tanpa dipungut biaya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia