Advertisement
Gaya Hidup

WFH Tak Selalu Nyaman, Studi Ungkap Pekerja yang Tinggal Sendiri Lebih Rentan Stres

Penelitian terbaru menemukan sistem work from home (WFH) dapat meningkatkan tekanan psikologis pada pekerja yang tinggal sendiri. Minimnya interaksi sosial menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan mental.

TIMES Indonesia,
WFH Tak Selalu Nyaman, Studi Ungkap Pekerja yang Tinggal Sendiri Lebih Rentan Stres
Ilustrasi seorang pekerja menjalani work from home (WFH).(huffpost.com)
A-AA+

JAKARTA Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama ini identik dengan fleksibilitas dan keseimbangan hidup. Namun, temuan terbaru menunjukkan manfaat tersebut tidak dirasakan oleh semua orang. Bagi pekerja yang tinggal sendiri, WFH justru berpotensi meningkatkan tekanan psikologis.

Dilansir dari Antara, hasil penelitian terbaru mengungkap bahwa pekerja yang menjalani WFH tanpa kehadiran anggota keluarga atau teman serumah cenderung mengalami tingkat stres, kecemasan, dan rasa kesepian yang lebih tinggi dibanding mereka yang tinggal bersama orang lain.

Advertisement

Temuan ini menambah daftar tantangan kesehatan mental yang muncul seiring semakin banyaknya perusahaan menerapkan sistem kerja fleksibel pascapandemi.

Kesepian Jadi Pemicu Utama

Penelitian menunjukkan, lingkungan kerja bukan hanya tempat menyelesaikan tugas, tetapi juga ruang untuk membangun interaksi sosial.

Saat bekerja di kantor, karyawan dapat berbincang dengan rekan kerja, berdiskusi secara langsung, atau sekadar menikmati waktu istirahat bersama. Aktivitas sederhana tersebut ternyata berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.

Sebaliknya, pekerja yang menjalani WFH seorang diri kehilangan banyak momen interaksi tersebut. Kondisi ini membuat rasa kesepian lebih mudah muncul, terutama ketika pekerjaan berlangsung dalam tekanan tinggi atau target yang ketat.

Para peneliti menilai isolasi sosial menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi meningkatnya tekanan psikologis selama bekerja dari rumah.

Advertisement

Fleksibel, tetapi Tidak Selalu Menenangkan

WFH memang menawarkan sejumlah keuntungan. Waktu perjalanan menuju kantor berkurang, jadwal kerja lebih fleksibel, dan pekerja memiliki kesempatan lebih besar mengatur aktivitas pribadi.

Namun, fleksibilitas itu juga membawa tantangan baru.

Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur. Banyak pekerja merasa harus selalu siap merespons pesan atau rapat daring, bahkan di luar jam kerja.

Bagi mereka yang tinggal sendiri, kondisi tersebut dapat memperpanjang durasi bekerja tanpa disadari. Akibatnya, tubuh dan pikiran lebih sulit mendapatkan waktu untuk benar-benar beristirahat.

Penelitian menunjukkan kombinasi antara beban kerja, minimnya interaksi sosial, dan kurangnya pemisahan ruang kerja dengan ruang pribadi dapat memperburuk kondisi psikologis.

Dukungan Sosial Sangat Dibutuhkan

Para peneliti menekankan bahwa dukungan sosial menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental pekerja WFH.

Perusahaan didorong untuk tidak hanya memperhatikan produktivitas, tetapi juga kesejahteraan psikologis karyawan. Salah satunya melalui komunikasi rutin, pertemuan tatap muka secara berkala, hingga penyediaan layanan konseling bagi pekerja yang membutuhkan.

Selain itu, pekerja juga disarankan tetap menjaga hubungan sosial di luar pekerjaan. Bertemu keluarga, teman, atau mengikuti kegiatan komunitas dapat membantu mengurangi rasa kesepian yang muncul akibat bekerja dari rumah.

Membangun rutinitas harian yang sehat, seperti berolahraga, berjalan kaki di luar rumah, dan menetapkan jam kerja yang jelas juga dinilai efektif menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

WFH Tetap Relevan, tetapi Perlu Pendekatan Baru

Meski penelitian menemukan adanya risiko kesehatan mental, WFH bukan berarti harus ditinggalkan.

Banyak perusahaan tetap mempertahankan sistem kerja fleksibel karena terbukti meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan pilihan bagi karyawan.

Namun, hasil studi ini menjadi pengingat bahwa kebijakan kerja tidak bisa disamaratakan. Kondisi tempat tinggal, lingkungan sosial, hingga karakter individu perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pola kerja yang paling sesuai.

Ke depan, banyak pakar memprediksi model kerja hibrida atau hybrid working akan menjadi pilihan yang lebih ideal. Sistem ini memungkinkan pekerja tetap memperoleh fleksibilitas bekerja dari rumah, sekaligus menjaga interaksi sosial melalui kehadiran di kantor pada hari-hari tertentu.

Dengan pendekatan yang lebih seimbang, produktivitas dan kesehatan mental dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia