Advertisement
Gaya Hidup

Menemukan yang Paling Berharga dalam Hidup

Ketika hati menemukan pusatnya pada Allah, keberhasilan tidak membuat kita sombong, kegagalan tidak menghancurkan harapan, dan kehilangan tidak merampas makna hidup.

TIMES Indonesia,
Menemukan yang Paling Berharga dalam Hidup
Ilustrasi
A-AA+

SURABAYA Ada satu pertanyaan sederhana yang sesekali layak kita ajukan kepada diri sendiri: Apa yang paling berharga dalam hidup saya?

Jawabannya mungkin berbeda-beda. Ada yang menyebut keluarga, kesehatan, pekerjaan, masa depan, atau rasa aman. Semua itu memang berharga. Namun, bacaan liturgi Minggu ini mengajak kita melangkah lebih dalam: adakah sesuatu yang nilainya melampaui semua itu, sesuatu yang menjadi pusat arah hidup kita?

Advertisement

Dalam bacaan pertama, Salomo mendapat kesempatan yang mungkin diidamkan banyak orang. Tuhan mempersilakan dirinya meminta apa saja. Menariknya, Salomo tidak memilih kekayaan, kekuasaan, atau umur panjang. Ia justru memohon hati yang mampu mendengarkan dan kebijaksanaan untuk membedakan yang baik dari yang buruk.

Pilihan itu mengungkapkan sebuah kebenaran yang sering terlupakan. Kebijaksanaan bukan sekadar soal kecerdasan, melainkan kemampuan mengenali apa yang sungguh bernilai dalam kehidupan.

Yesus kemudian melanjutkan permenungan itu melalui dua perumpamaan yang sangat singkat, tetapi begitu kaya makna. Ada seseorang yang menemukan harta terpendam di ladang. Ada pula seorang pedagang yang menemukan mutiara yang sangat indah. Keduanya mengambil keputusan yang sama: mereka rela melepaskan segala yang dimiliki demi memperoleh satu harta yang nilainya jauh lebih besar.

Perumpamaan itu bukan sedang mengajak kita meninggalkan dunia atau menganggap harta benda tidak penting. Yesus sedang berbicara tentang prioritas. Selalu ada satu hal yang menjadi pusat hidup setiap orang. Dan apa yang kita anggap paling berharga akan menentukan cara kita mengambil keputusan, menyikapi keberhasilan, menghadapi kegagalan, bahkan memandang sesama.

Di tengah kehidupan modern, pilihan-pilihan itu semakin kompleks. Dunia menawarkan begitu banyak “mutiara”: pencapaian karier, popularitas, kenyamanan, pengakuan, hingga citra diri yang terus dipoles. Semua tampak menarik, tetapi tidak semuanya mampu mengisi kekosongan terdalam dalam hati manusia.

Advertisement

Barangkali karena itu banyak orang memiliki lebih banyak daripada sebelumnya, tetapi tetap merasa kurang. Memiliki lebih banyak koneksi, tetapi merasa semakin kesepian. Memiliki lebih banyak kemudahan, tetapi semakin sulit menemukan ketenangan.

Yesus mengingatkan bahwa ada harta yang tidak pernah kehilangan nilainya, yaitu Kerajaan Allah. Kerajaan itu bukan semata-mata realitas yang akan datang di akhir zaman, melainkan sudah mulai hadir ketika kasih, kejujuran, pengampunan, dan belas kasih menjadi cara hidup kita sehari-hari.

Pesan itu menemukan penguatannya dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Kalimat ini bukan berarti setiap peristiwa selalu menyenangkan. Kehidupan tetap menyuguhkan kehilangan, kegagalan, dan luka. Namun iman memberi keyakinan bahwa tidak ada pengalaman hidup yang sia-sia ketika diserahkan ke dalam tangan Tuhan.

Harapan inilah yang membuat seseorang tetap mampu berjalan, bahkan ketika jalan di depannya belum sepenuhnya terang.

Mazmur hari ini juga mengajak kita menemukan sumber kebijaksanaan itu dalam firman Tuhan. Di tengah begitu banyak suara yang berlomba memengaruhi hidup kita, firman Allah menjadi kompas yang menolong kita membedakan mana yang sesaat dan mana yang kekal.

Pada akhirnya, menemukan “harta terpendam” bukan berarti menemukan sesuatu yang baru di luar diri kita. Sering kali, yang berubah justru cara kita memandang hidup. Kita mulai menyadari bahwa sukacita sejati tidak lahir dari banyaknya yang kita miliki, melainkan dari kedalaman relasi kita dengan Tuhan dan kualitas kasih yang kita bagikan kepada sesama.

Ketika hati menemukan pusatnya pada Allah, keberhasilan tidak membuat kita sombong, kegagalan tidak menghancurkan harapan, dan kehilangan tidak merampas makna hidup. Kita belajar melihat setiap pengalaman sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan iman dan kemanusiaan.

Mungkin inilah undangan Injil hari ini: bukan sekadar mencari lebih banyak, tetapi menemukan yang paling berharga. Sebab ketika seseorang menemukan “mutiara” itu, seluruh hidupnya akan ditata ulang oleh kasih, dan di situlah damai yang sejati mulai bertumbuh. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

G
PenulisGe Recta Geson Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia