Advertisement
Hukum dan Kriminal

Rutan Surabaya Ubah Hukuman Disiplin Jadi Pembinaan Literasi, Tahanan Wajib Menulis Esai

Rutan Kelas I Surabaya menghadirkan inovasi pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui program literasi perpustakaan.

TIMES Indonesia,
Rutan Surabaya Ubah Hukuman Disiplin Jadi Pembinaan Literasi, Tahanan Wajib Menulis Esai
Kepala Rutan Kelas I Surabaya Tristiantoro Adi Wibowo saat meninjau kegiatan warga binaan yang tengah membaca buku di perpustakaan, Kamis (28/5/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Program “Literasi Pemasyarakatan, Gerakan Membaca Warga Binaan”, menjadi langkah humanis Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surabaya dalam mengubah hukuman disiplin menjadi pembinaan edukatif berbasis literasi dan pembentukan karakter.

Itu karena, Rutan Kelas I Surabaya menghadirkan inovasi pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui program literasi perpustakaan yang dilaksanakan setiap hari.

Advertisement

Kegiatan ini bertujuan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan peningkatan kesadaran diri warga binaan.

Program tersebut mewajibkan seluruh warga binaan mengikuti kegiatan literasi, khususnya bagi mereka yang melakukan pelanggaran tata tertib di lingkungan rutan.

Dalam program tersebut, warga binaan tidak hanya menjalani hukuman disiplin, tetapi juga diwajibkan membaca buku dan membuat esai dari inti sari buku yang telah dibaca sebagai bentuk refleksi serta pembelajaran diri.

Kepala Rutan Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, mengatakan, bahwa inovasi perpustakaan ini menjadi sarana pembinaan yang efektif untuk membangun pola pikir positif dan meningkatkan kualitas diri warga binaan.

“Inovasi Perpustakaan Rutan Surabaya menjadi langkah positif dalam pembinaan warga binaan melalui pendekatan literasi. WBP yang melakukan pelanggaran tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga diwajibkan membaca buku dan membuat esai dari inti sari buku yang telah dibaca sebagai bentuk refleksi serta pembelajaran diri,” ujar Adi Wibowo, Kamis (28/5/2026).

Advertisement

Rutan Surabaya 2

Ia menjelaskan, buku-buku yang tersedia di perpustakaan berisi materi edukatif. Antara lain seperti bahaya dan dampak narkoba, psikologi, pengembangan diri, hingga biografi Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Imipas Agus Andrianto.

Melalui bacaan tersebut, para warga binaan diharapkan dapat memahami dampak negatif narkoba, membangun pola pikir yang lebih baik, serta mengenal para pemimpin bangsa sebagai motivasi untuk memperbaiki diri dan menata masa depan yang lebih baik.

Tahanan Wajib Menulis Esai 

Menurut Adi, program pembinaan ini tidak sekadar bersifat seremonial. Para warga binaan tidak dapat berpura-pura membaca atau berbohong mengenai buku yang dipelajari karena mereka diwajibkan membuat esai sebagai bukti pemahaman terhadap bacaan yang telah dipelajari.

Selain itu, petugas juga mendokumentasikan proses pembinaan dan hasil esai warga binaan melalui video untuk dipublikasikan sebagai bentuk transparansi bahwa program pembinaan literasi tersebut benar-benar dijalankan secara nyata dan terukur.

Program yang dilaksanakan setiap hari ini mulai menunjukkan dampak positif di lingkungan rutan. Sejumlah warga binaan terlihat lebih antusias mengunjungi perpustakaan dan mulai tumbuh minat membaca sebagai bagian dari proses pembinaan diri.

Melalui inovasi tersebut, Rutan Surabaya berharap pembinaan berbasis literasi dapat menjadi sarana rehabilitasi mental dan perubahan karakter warga binaan agar siap kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia