Gus Ufik Harap Pimpinan Baru BGN Benahi Program MBG
Pergantian pucuk pimpinan di BGN harus menjadi momentum evaluasi sekaligus pembenahan menyeluruh agar program yang menyasar jutaan pelajar Indonesia tersebut dapat berjalan lebih efektif, transparan, dan tepat sasaran.
JOMBANG – Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan, Jombang, KH M. Zulfikar As'ad atau yang akrab disapa Gus Ufik, berharap kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional (BGN) mampu membawa perbaikan signifikan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program strategis pemerintah.
Menurut Gus Ufik, pergantian pucuk pimpinan di BGN harus menjadi momentum evaluasi sekaligus pembenahan menyeluruh agar program yang menyasar jutaan pelajar Indonesia tersebut dapat berjalan lebih efektif, transparan, dan tepat sasaran.
"Program Makan Bergizi Gratis ini sangat baik dan memiliki manfaat besar bagi anak-anak sekolah. Namun, pelaksanaannya harus terus diperbaiki agar tujuan meningkatkan kualitas gizi generasi muda benar-benar tercapai," ujar Gus Ufik, Kamis (4/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan menyusul penetapan tiga mantan petinggi BGN sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung. Mereka adalah mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, mantan Wakil Kepala BGN Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung, serta Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya.
Sebagai langkah penyegaran organisasi, pemerintah kemudian menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN yang baru. Sementara posisi Wakil Kepala BGN dipercayakan kepada Agustina Arumsari dan Mayor Jenderal TNI Trenggono.
Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang itu menilai, salah satu aspek yang harus menjadi perhatian utama kepemimpinan baru adalah penguatan transparansi dalam tata kelola program. Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan anggaran yang digelontorkan negara benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik.
"Transparansi harus menjadi prioritas. Program sebesar ini membutuhkan pengawasan yang kuat dan keterbukaan dalam setiap tahap pelaksanaannya," tegasnya.
Selain itu, Ketua Lembaga Kesehatan PBNU tersebut juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai selama ini masih terdapat sejumlah kendala koordinasi, mulai dari penentuan lokasi dapur umum hingga berbagai persyaratan teknis yang sering kali berbeda di setiap daerah.
Menurut Gus Ufik, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak bisa hanya mengandalkan satu lembaga. Diperlukan sinergi antara BGN dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, hingga instansi teknis seperti Dinas Kesehatan agar kualitas makanan dan kebutuhan gizi anak-anak dapat terukur dengan baik.
"Saya melihat koordinasi dengan lembaga lain masih perlu diperkuat. Dinas Kesehatan misalnya, harus dilibatkan secara aktif sehingga kebutuhan gizi anak sekolah benar-benar sesuai standar kesehatan yang dibutuhkan," katanya.
Ia berharap jajaran pimpinan baru BGN mampu menjadikan berbagai persoalan yang muncul selama pelaksanaan program sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat sistem ke depan.
Dengan tata kelola yang lebih transparan, akuntabel, dan melibatkan berbagai pihak terkait, Gus Ufik optimistis Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar membagikan makanan, tetapi memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas gizi yang baik untuk menyongsong masa depan bangsa," ucapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


