Pengabdian Seorang Dokter Muslim Jebolan Unisma Malang
Jika ditanya apa cita-cita waktu kecil dulu, sebagian besar pasti menjawab menjadi seorang dokter. Tak hanya di Indonesia tapi juga diseluruh dunia, yang membuat anak-anak terkagum-kagum dengan profesi mulia ini.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Jika ditanya apa cita-cita waktu kecil dulu, sebagian besar pasti menjawab menjadi seorang dokter. Tak hanya di Indonesia tapi juga diseluruh dunia, yang membuat anak-anak terkagum-kagum dengan profesi mulia ini.
Profesi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, tak banyak orang yang tahu bagaimana jejak langkah mereka menjalani hari-harinya. Hari-hari mereka penuh perjuangan dan kerja keras yang mengurus pikiran, keringat, dan air mata.
Seorang dokter senantiasa belajar dan melakukan riset sepanjang hidupnya. Hal ini terutama karena teknologi kedokteran yang senantiasa berkembang pesat disertai dengan ditemukannya berbagai penyakit baru oleh karena mutasi dan sebagainya. Pembelajaran seorang dokter yang dimaksud terdiri atas berbagai macam cara, baik yang formal maupun informal.

Belajar dapat berarti melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (mengenyam pendidikan spesialis), mengikuti kursus atau seminar, dan lain sebagainya. Hal yang sering kali tidak disadari adalah setiap kali seorang dokter menangani pasien, pada dasarnya ia sedang belajar untuk dapat mengenali berbagai macam kasus pasiennya. Tidak hanya mempelajari tentang penyakit pasien yang ia tangani, obat apa yang harus digunakan, tapi juga belajar bagaimana caranya melakukan pendekatan/komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga pasien, bahkan dengan sejawat dokter dan paramedis yang lain.
Dapat dikatakan bahwa, semakin banyak pasien yang ditangani seorang dokter, semakin banyak pula ia akan belajar. Bukan berarti bahwa pasien digunakan sebagai obyek untuk belajar, namun ilmu kedokteran pada dasarnya berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain. Tidak ada penyakit yang benar-benar sama dengan apa yang tertulis dalam buku.
Ini yang dialami juga oleh dr. Muhammad Kholil Ikhsan, yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Unisma, IA tercatat sebagai mahasiswa pada tahun 2006 hingga menyelesaikan pendidikan profesinya pada tahun 2013.
Saat ini Muhammad Kholil Ikhsan bekerja di PT. Pindad (persero) Divisi Munisi Turen, sebagai Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU Medika Utama PT. Pindad. Sebelumnya dr. Ikhsan juga tercatat sebagai dokter PTT di wilayah Kab. Berau Kaltim, dokter fungsional PT. Petro Graha Medika, dokter Perusahaan Sawit PT.Kalimantan Ria Sejahtera/Asian Agri Group di Gunung Mas Kalteng. Semasa kuliah beliau juga aktif diorganisasi kemanusiaan seperti Medical Rescue Team, Team Merapi Gugat serta kegiatan-kegiatan bakti sosial lainnya.

Walau dengan segudang pengalaman, tidak lantas membuat dr. Ikhsan menjadi tinggi hati. filosofi menanam padi masih erat dipegangnya dengan terus memperluas pengetahuan. “Ambil setiap tantangan dengan lapang dada tanpa mengeluh, karena keberkahan akan senantiasa mengikuti”. Tegasnya!
Saat ditanya disela-sela kesibukannya, apa pesan yang ingin disampaikan kepada generasi muda saat ini? “Teruslah berkiprah dengan memadupadankan teori dan kenyataan dilapangan serta mampu beradaptasi tanpa batas, sembari terus mengasah potensi kita” demikian ungkap dokter penghobi futsal dan bermain musik ini.
Dengan pencapaian dr. Ikhsan saat ini, menyampaikan terima kasih kepada Unisma Malang yang telah memberi bekal pendidikan dan mengajarkan kemandirian. Jaya terus Unisma!
Penulis: Puguh Suko D
Jabatan: Kabag. Alumni
No. Telp. 085755735482 (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

