Advertisement
Indonesia Positif

Pesona Wisata Kota Tua Kalianget, Ini Kisahnya

Di ujung timur Pulau Madura, Kota Kalianget, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur berdiri tegak bangunan yang berarsitektur ala Eropa. Bangunan itu merupakan Kantor PT Garam yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 

TIMES Indonesia,
Pesona Wisata Kota Tua Kalianget, Ini Kisahnya
Bangunan gedung Tua PT Garam tempo dulu berarsitektur Eropa Dan lonceng di pos keamanan , Senin (07/12/2020). (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

Sumenep Di ujung timur Pulau Madura, Kota Kalianget, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur berdiri tegak bangunan yang berarsitektur ala Eropa. Bangunan itu merupakan Kantor PT Garam yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 

Tak hanya kantor, di wilayah patut disebut Kota Tua sebab juga ada peninggalan bangunan serta benda tua lainnya. Seperti perumahan karyawan, pabrik garam, mesin pembangkit tenaga listrik (central listrik), kilang minyak, batu bara, lori seperti kereta api, gedung bioskop, pusat olahraga, gedung rakyat, kolam renang, tendon air dan pelabuhan atau Dermaga Kalianget.

Advertisement

Salah seorang pemerhati budaya Sumenep Ridwan mengungkapkan, Kalianget, sebuah desa yang sangat terkenal di masanya. Betapa tidak, sebuah peradaban maju dan modern semua hadir dan tersuguhkan di Kalianget. Mulai gedung bangunan yang berarsitektur eropa modern seperti Kantor PT Garam, perumahan karyawan, adanya mesin pembangkit listrik.

"Padahal, di masa itu, Sumenep kota saja masih menggunakan lampu penerangan taplek dari api. Sementara di Kalianget sudah menggunakan mesin pembangkit listrik. Tidak hanya itu, di Madura umumnya dan Kabupaten Sumenep khususnya bangunan rumah masih banyak yang dari gubuk bambu. Untuk orang yang agak mampu atau kaya saja rumahnya sudah dari gedung. Hanya saja model bangunannya masih ala Jawa (rumah Pegun, Madura)," kata Ridwan, Senin (07/12/2020).

Gedung Tua 2

Di Kalianget khususnya di area industri garam, lanjut Ridwan, Kantor PT Garam ini "heritage", bangunannya hampir semua berarsitektur Eropa modern. Sudah pakai listrik, bukan lampu/ damar taplek (Madura). Termasuk juga air mandi dan minum bukan diambil dari sumur melainkan sudah pakai air bor dan menggunakan tendon air untuk dialirkan ke perumahan karyawan dan punggawa PT Garam. "Kalau sekarang semacam air PDAM mungkin," katanya.

"Para karyawan atau buruh PT Garam pergi ke lahan pegaraman diangkut menggunakan lori seperti Kereta Api kecil. Bukan diangkut pakai dokar atau sepeda ontel. Lori itu digerakkan dengan bahan bakarnya dari batu bara. Dan dulu, para buruh, karyawan PT garam tersebut sangat dimanjakan dengan dijemput kereta atau lori. Sangat mirip Eropa banget bahkan itu hampir seperti kota Surabaya dan Jakarta kala itu," beber pemerhati budaya ini.

Advertisement

Dia menambahkan, hasil produksi garam lalu diangkut atau dikirim menggunakan kapal-kapal besar yang berlabuh di dermaga Kalianget. Dan pada akhirnya produksi garam industry atau rakyat itu dikirim ke Surabaya, Eropa dan lain sebagainya. Jadi dermaga itu jadi pusat perdagangan karena posisinya yang sangat strategis sebagai lalu lintas pelayaran.

"Jadi di Kota Tua Kalianget itu dulunya kerap jadi keluar masuknya orang luar ke Sumenep. Berbagai kebutuhan sembako dikirim melalui pelabuhan Kalianget. Saking majunya Kalianget di masanya karena di dalamnya dilengkapi dengan fasilitas lengkap ala Eropa/ bangsa barat. Seperti ada gedung rakyat untuk acara hajatan warga. Ada juga gedung bioskop untuk menonton film serta kolam renang untuk umum yang semuanya harus berbayar," jelas Ridwan pada TIMES Indonesia (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

R
PenulisRidwan Sutarjo (DJ-030) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia