Mahasiswa KSM-T Unisma Malang Gerakkan UMKM di Desa Gunungsari
Mahasiswa KSM Tematik Unisma Malang kelompok 22 dilaksankan di Desa Gunungsari, Kota Batu. Salah satu program kerja dari kelompok 22 adalah meningkatkan UMKM di masa pandemi.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Malang – Mahasiswa KSM Tematik Unisma Malang kelompok 22 dilaksankan di Desa Gunungsari, Kota Batu. Salah satu program kerja dari kelompok 22 adalah meningkatkan UMKM di masa pandemi.
Zaini, salah satu anggota kelompok 22 mengatakan sektor ekonomi perlu mendapat perhatian besar karena mengalami dampak yang cukup luar biasa setelah sektor kesehatan. Banyak kegiatan industri yang tidak bisa berjalan dengan lancar sehingga membuat para petinggi harus mengambil kebijakan untuk menyikapinya.
Banyak para pegawai dirumahkan dan tidak mendapat pesangon. Selain itu, banyak juga pegiat UMKM yang juga merasakan dampaknya. Berkurangnya minat beli dari konsumen membuat banyak pemilik usaha harus gulung tikar, akan tetapi sebagian masih berusaha untuk tetap bisa menjalankan usahanya.
Seperti yang ada di Desa Gunungsari, Kota Batu. Disini mayoritas warga adalah petani bunga. Memang secara umum warga disini tidak terlalu merasakan dampaknya, akan tetapi jumlah permintaan bunga terus mengalami penurunan sejak masa pandemi.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
"Biasanya kalau ada tahun baru atau hari valentine kita bisa mengirim banyak ke luar kota, tetapi karena covid begini ya jadi jumlah permintaan itu menurun," ucap salah satu petani bunga.
Di Desa Gunungsari juga terdapat sentra pembuatan Ladu. Bahkan desa ini juga sudah mendapat julukan sebagai 'Kampung Ladu'. Terdapat satu keluarga yang telah memproduksi ladu sejak tahun 1998. Produksi ladu di desa ini bisa terkenal karena mempunyai cita rasa yang khas dan proses pembuatannya juga masih menggunakan cara tradisional. Ladu merupakan makanan yang dibuat dari beras ketan dan biasanya diproduksi hanya pada bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Akan tetapi, karena jumlah ketertarikan masyarakat yang terus meningkat, sekarang ladu diproduksi setiap hari.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Pegiat UMKM yang memproduksi ladu juga merasakan dampak dari pandemi covid-19. Jumlah permintaan di pasaran sudah tidak seperti dulu, penurunan permintaan sangat signifikan sehingga produsen harus menurunkan juga jumlah produksi mereka. Jika biasanya bisa memproduksi 1,8 kwintal setiap bulannya, sekarang mereka hanya bisa memproduksi 60 kg per bulan. Jumlah pengiriman keluar kota juga menjadi terhambat karena berkurangnya permintaan pasar.
"Biasanya kami bisa mengirim sampai ke Jombang, Kediri, dan sisanya disebarkan di seluruh wilayah Kota Batu. Tetapi karena covid, pengiriman yang biasanya biasa seminggu sekali sekarang jadi dua minggu sekali, itupun dengan jumlah yang tidak terlalu banyak," tutur Pak Sungkono selaku pemilik SR Ladu.
Secara tidak langsung pandemi memang mempunyai banyak dampak bagi pegiat UMKM. Jika tidak ada solusi dari pemerintah kemungkinan besar akan semakin banyak UMKM yang gulung tikar dan otomatis akan menambah angka pengangguran di Indonesia.
Mahasiswa KSM-T Unisma Malang kelompok 22 berharap proker yang dilaksanakan ini dapat membantu menggeliatkan UMKM di Desa Gunungsari, Kota Batu ini. (*)
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
*)Pewarta: Zaini, Ramadhan, Hasan, Bryen, Firmansyah, Silvia, Anggi, Rochmathul, Fahrudin, Mahasiswa KSM Tematik Kelompok 22 Universitas Islam Malang .
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

