Dosen FEB Unisma Malang Kritisi Tata Kelola Pertanian
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisma Malang yang juga merupakan pengajar di Program Studi Magister Manajemen Pascasarjana Unisma, Supriyanto.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisma Malang yang juga merupakan pengajar di Program Studi Magister Manajemen Pascasarjana Unisma, Supriyanto. Menentang encana pemerintah mengimpor beras. Alasannya, Indonesia tahun 2020 lalu sebenarnya surplus beras.
Menurutnya, seharusnya Indonesia mampu menjadi eksporter beras, bukan mengimpor dari luar negeri. Hal ini berdasar pada data yang menunjukkan berbagai kelebihan yang dimiliki negeri ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sawah di Indonesia pada 2020 seluas 7,4 juta hektare. Sementara lahan yang ditanami padi tercatat 10,79 juta hektare. Dengan demikian, terdapat 3 juta hektare di luar sawah yang ditanami padi.
INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU MENGUNJUNGI www.pmb.unisma.ac.id
"Tahun lalu, produksi padi kita sekitar 55,16 juta ton. Jika dikonversi menjadi beras, ada sekitar 32 juta ton. Lalu kebutuhan beras kita setiap orang antara 90 hingga 95 kilogram per tahun. Tahun lalu 91,2 kilogram/tahun per orang. Dengan demikian kebutuhan beras kita per tahun 29,37 juta ton. Data ini dari Kementerian Pertanian pada 2020," ungkap Supriyanto seperti dilansir NU Online, Rabu (24/3).
"Berdasarkan data tahun 2020, produksi beras kita 31,63 juta ton. Jika diasumsikan produk kita sama dengan tahun lalu, maka kita akan menemukan hitungan selisih produksi 31,63-29,37 menjadi 2,26 juta ton. Artinya kita masih punya surplus (kelebihan) beras lebih dari 2 juta ton,” imbuh Dewan Pakar Petani Muda Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur ini.
Pada tahun ini, lanjutnya, berdasarkan laporan triwulan pertama 2021 yang sedang berjalan, produksi padi negeri ini sedang meningkat. Hal ini berpengaruh pada jumlah surplus beras di Indonesia yang juga akan meningkat dari tahun lalu.
"Jika pemerintah bermaksud mengimpor 1,1 juta ton, ini berarti akan double surplus. Sisa tahun lalu masih ada surplus 2,26 juta ditambah surplus panen tahun ini. Dengan data itu, mestinya pemerintah bisa melakukan ekspor beras dan bukan malah impor dari luar negeri," tutur Supriyanto.
INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU MENGUNJUNGI www.pmb.unisma.ac.id
Karena itu, impor beras untuk saat ini dirasa belum tepat lantaran produksi beras di Indonesia diperkirakan meningkat dari tahun lalu. Asumsi tersebut menyiratkan bahwa kebutuhan beras dalam negeri masih cukup sehingga pemerintah Indonesia tidak perlu melakukan impor beras dari luar negeri.
Supriyanto menyoroti stok beras di Gudang Banyuwangi misalnya, yang masih sisa ratusan ton sejak impor beras pada 2018 dari Vietnam. Beras-beras di sana belum terpakai sehingga menjadi masalah yang sangat mengerikan.
Hal itulah yang membuat Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi bersikukuh untuk impor beras dari Thailand pada akhir bulan ini. Salahsatu alasannya adalah karena mutu beras di Gudang Bulog Banyuwangi itu menurun.
Supriyanto menyebutkan tiga penyebab menurunnya kualitas beras. Pertama, karena panen di Indonesia tidak selalu pada musim kering. Terkadang, panen terjadi di musim hujan sehingga kualitas beras menurun secara alamiah. Penyebab kedua adalah karena biaya produksi dalam negeri dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kemudian, terjadi hukum ekonomi. Ketika barang semakin jarang maka orang akan mengurangi konsumsi.
Penyebab ketiga, tata kelola kita belum bagus, sehingga beras itu menumpuk. Beras yang menumpuk terlalu lama itu tidak baik. Contoh kasus paling dekat yang sedang disorot itu adalah 3.000 ton beras tahun 2018 yang belum terpakai di Gudang Banyuwangi.
"Ini fakta yang tidak bisa ditutupi, sehingga kalau dikatakan kualitas beras kita menurun, benar, tetapi menurun karena secara sistemik adalah kesalahan bersama. Bukan salah petani saja. Pemerintah tidak bisa menumpahkan kesalahan hanya semata pada petani sebagai produsen," tegas Supriyanto, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisma Malang. (*)
INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU MENGUNJUNGI www.pmb.unisma.ac.id
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

