Refleksi Sosok Soekarno Kecil Mojokerto di Hari Lahir Pancasila
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari merefleksikan sosok Soekarno sebagai pencetus Pancasila, yang merupakan sosok proklamator, visioner, dan mempunyai semangat nasionalisme yang kuat.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MOJOKERTO – Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari merefleksikan sosok Soekarno sebagai pencetus Pancasila, yang merupakan sosok proklamator, visioner, dan mempunyai semangat nasionalisme yang kuat.
"Soekarno adalah sang proklamator, Soekarno adalah Bapak dari pendiri republik ini, maka jadikan ini sebagai suatu motivator penyemangat bagi kita masyarakat Kota Mojokerto," kata Ika ditemui TIMES Indonesia. Selasa (1/6/2021).
Seperti yang diketahui, Hari Lahir Pancasila diperingati pada 1 Juni, tidak lepas dari sosok Ir Soekarno, Presiden RI pertama yang mencetuskannya pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Ir Soekarno pun tercatat mengenyam pendidikan di Kota Mojokerto, di Europesche Lagere School (ELS) yang saat ini SMPN 2 Kota Mojokerto. Selama 8,5 tahun Soekarno kecil hidup di Lingkungan Kota Mojokerto memiliki dampak kepada sosok Soekarno kecil atau Koesno.
Kusno kecil mengenyam pendidikan kelas 2 di Inlandsche School (SDN Purwotengah) pada tahun 1909. Kehidupan Koesno pada waktu kurang berkecukupan. Soekarno kecil bermain jangkrik, gasing, dan menangkap ikan di sungai.
Tepat di tahun 1911 Koesno dipindahkan ke Europesche Lagere School (ELS) yang saat ini menjadi SMPN 2 Kota Mojokerto. Pada saat tes Koesno dinyatakan tinggal kelas karena kecakapan berbahasa Belanda dinilai kurang. Sempat Koesno menjalin asmara dengan Rika Meelhuysen, seorang bule berkebangsaan Belanda untuk melancarkan kemampuan berbahasa Belandanya.
Keberadaan beliau 8 setengah tahun terukir bahwa pola pikir beliau yang luar biasa visioner, jiwa heroisme dan kepahlawanan serta Nasionalisme beliau juga terbentuk ketika beliau 8 setengah tahun disini," terangnya.
Selama hidup dan tinggal di Kota Mojokerto ini, Soekarno kecil melebur bermain, belajar, dan menjalani kehidupan masa kecilnya di Kota Mojokerto.
"Bercampur bersatu dengan anak-anak dari kebangsaan Belanda dimana kesemua (proses belajar Soekarno di Mojokerto red) menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi kita semua," tandas Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

