Advertisement
Indonesia Positif

Melihat Fenomena Media Dalam Panggung Realitas Politik

Citra politik ibarat sandiwara kehidupan yang disajikan. Apa yang terjadi di depan (panggung depan) bisa saja berbeda di panggung belakang atau realitas sosial.

TIMES Indonesia,
Melihat Fenomena Media Dalam Panggung Realitas Politik
Kuliah umum Stisipol Candradimuka Palembang dengan tema Komunikasi Media dan Pencitraan Aktor Politik (Foto : Dok Zoom)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

PALEMBANG Citra politik ibarat sandiwara kehidupan yang disajikan. Apa yang terjadi di depan (panggung depan) bisa saja berbeda di panggung belakang atau realitas sosial. Itulah gambaran dramaturgi, salah satu perspektif teori melihat dinamika politik dalam pemilihan umum (Pemilu).

"Situasi dramatik yang seolah-olah terjadi di atas panggung sebagai ilustrasi realitas sosial dalam bentuk citra positif, namun seringkali berbeda realitas sosial yang sesungguhnya. Dan media berperan besar dalam menciptakan panggung depan ini,"ungkap Dr. Kun Wazis  dari Pengamat Komunitas Politik UIN KHAS Jember, Jawa Timur, dalam kuliah umum semester ganjil via daring Stisipol Candradimuka Palembang, Sabtu (30/11/2021).

Advertisement

Menurut Kun, seringkali ketika berjanji dalam berkampanye tidak selaras dengan realitas sosial artinya seperti diungkapnya pakar Erving Goffman (1959) sebagai dramatugi. Goffman melihat politik sebagai branding citra di media bisa sering kali berbeda dengan kehidupan nyata sehari-sehari tokoh.

"Misalkan caleg mencitrakan sebagai penolong rakyat, peduli tapi dalam kehidupan nyata justru tersandung korupsi. Ini ibarat bentuk alur cerita pertunjukan drama dalam sebuah pentas dan media berperan dalam menciptakan drama itu,"terang dia.

Kun melihat bahwa komunikasi bersifat serba hadir dan senantiasa ada dalam berbagai konteks ruang dan waktu, menjadi bagian yang integral dalam kehidupan manusia.

“Sebetulnya apa yang dilakukan saat ini adalah apa yang dinamakan dramaturgi, seorang aktor politik akan memainkan perannya masing- masing, dan media menjadi unsur dalam dramaturgi ini,”kata penulis buku Dramaturgi Politik dan Kontruksi Komunikasi Politik.

Kuliah-Umum.jpg

Lebih dalam narasumber selanjutnya Pengamat Politik dari Universitas Mercu Buana Jakarta Heri Budianto mengatakan bahwa branding yang dilakukan oleh para politisi bukan menjadi unsur utama dalam memenangkan pertarungan, banyak faktor lain.

"Namun upaya pencitraan menjadi salah satu faktor untuk memperkenalkan dirinya kepada publik melalui media. Untuk itu media harus mampu menggambarkan panggung realitas sosial dalam perannya ,"terang Dia.

Sementara Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Budi Santoso, menjelaskan bahwa kuliah umum ini sejatinya ditujukan untuk memberikan semacam pencerahan (enlightenment) kepada civitas academica Stisipol Candradimuka.

"Terutama mahasiswa Program Magister dan Sarjana Ilmu Komunikasi, tentang bagaimana hebatnya kekuatan komunikasi dan kekuasaan media dalam mengkonstruksi realitas menjadi pesan-pesan politik yang dibentuk sedemikian rupa untuk memanipulasi imej para aktor politik,"terangnya

Kuliah umum ini diharapkan dapat menstimulasi motivasi para mahasiswa untuk memahami lebih jauh hakikat dari komunikasi di dalam pragmatisme politik

"kuliah umum secara rutin akan diselenggarakan setiap awal semester perkuliahan dengan tema yang disesuaikan dengan konsentrasi yang ada di Magister Ilmu Komunikasi ,"terang Dia.(*)

Pewarta : Fathur Rochman

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Fathur Rochman
PenulisFathur Rochman Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia