Melirik Pengembangan Budidaya Kopi Arabika
Kendati budidaya komoditi kopi utama di Kota Pagaralam dominasinya jenis Robusta, namun Wali Kota Pagaralam mulai melirik kopi Arabika, yang notabanenya varietas tanaman ...

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
PAGARALAM – Kendati budidaya komoditi kopi utama di Kota Pagaralam dominasinya jenis Robusta, namun Wali Kota Pagaralam mulai melirik kopi Arabika, yang notabanenya varietas tanaman ini sedikit langka dan jarang sekali dibudidayakan oleh petani di kawasan Gunung Dempo.
Buktinya, rencana pengembangan di sektor perkebunan ini adanya kunjungan Wali Kota Pagaralam Alpian Maskoni ke Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN RI, belum lama ini. Terkait untuk mendapatkan restu pemanfaatan lahan seluar sekitar 647 hektar, berlokasi lahan eks perkebunan PTPN VII.
“Kunjungan tersebut untuk mendapat izin dari kementerian perihal lahan seluar 647 hektar, tidak hanya untuk membuat kebun kopi Arabika, namun juga tanaman Hortikultura yakni buah-buahan,” ujar Alpian Maskoni dihubungi Minggu (16/1/2021)
Dirinya tak menampik, jika Pemkot Pagaralam selama ini fokus pengembangan tanaman komoditi utama ini di Kota Pagaralam. Jenis Robusta di wilayah Gunung Dempo ini memang yang dibudidayakan selama ini. Dari pemerintah konsens terhadap upaya peningkatan produktifitasnya.
“Salahsatunya dengan upaya program sambung pucuk tanaman kopi. Tujuannya adalah memotivasi petani untuk memperbaiki produksi tanaman kopi agar panen meningkat,” katanya seraya mengatakan jika Program Sejuta Sambung Pucuk tanaman kopi ini berkelanjutan.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Kota Pagaralam, Gunsono Mekson SE MM melalui Kabid Tanaman Produksi, Diki Herlambang SP mengatakan pihaknya menyambut baik rencana Wali Kota untuk pengembangan tanaman kopi Arabika.
“Selama ini kopi Robustalah yang dibudidayakan petani kita di Kota Pagaralam. Padahal jika dikembangkan, Arabika justru memiliki nilai ekonomi jual sangat tinggi dibanding Robusta,” katanya.
Jika memang mendapat izin pemanfaatan, tentunya menjadi peluang besar pengembangan Arabika di Kota Pagaralam. “Dinas kita tentunya akan menyiapkan segala sesuatunya untuk mewujudkan rencana pemerintah kota untuk mengangkat kopi Pagaralam sejurus menyejahterahkan petani,” katanya, sama halnya dengan pelaksanaan sejuta sambung pucuk tananaman kopi.
Dihargai Rp80 Ribu/kg, Tak Mampu Penuhi Pasar
Terpisah, Rusi, salahsatu petani Dusun Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara justru telah mendahului start rencana wali kota. Sebab, sejak setahun lalu sudah membudidayakan kopi tanaman kopi Arabika melalui program HKM (hutan kemasyarakatan).
“Separuh anggota kelompok kami sudah menanam Arabika di areal satu hektar, dengan populasi tanaman mencapai 2 ribu batang, di ketinggian sekitar 1.400 mdpl,” katanya seraya mengatakan jika Arabika ini usia tiga tahun panen dengan nilai jual sangat menjanjikan di harga Rp80 ribu/kg.
Dia juga mengaku permintaan Kopi Arabika ini tinggi. Bahkan untuk permintaan pasar lokal petani kesulitan memenuhinya. “Di pasar lokal ada permintaan sekitar 50 kg hingga 100 kg, itu saja kita tak mampu memenuhinya. Karena di Kota Pagaralam jarang sekali ditemui areal tanaman Arabika,” katanya.
Berbeda dengan permintaan pasar luar, semisal Kota Palembang atau lannnya. “Ada yang meminta stok kopi Arabika sebanyak satu ton, dan itu berkelanjutan. Tentunya peluang ini menjadi motivasi kita untuk membudidayakan Arabika yang bernilai jual tinggi,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

