Advertisement
Indonesia Positif

Forum Lintas Agama Hadiri Peringatan Maulid Nabi Ponpes Az Zainy, Turut Menyimak Kisah Teladan Rasulallah

Pengajian umum dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad Salallah Alaihi Wassalam di Pondok Pesantren dan Rehabilitasi Mental Az Zainy Tumpang Kabupaten Malang Jumat (28/10/2 ...

TIMES Indonesia,
Forum Lintas Agama Hadiri Peringatan Maulid Nabi Ponpes Az Zainy, Turut Menyimak Kisah Teladan Rasulallah
Pengajian umum dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad Salallah Alaihi Wassalam di Pondok Pesantren dan Rehabilitasi Mental Az Zainy Tumpang Kabupaten Malang Jumat (28/10/2022). (Foto: Ponpes dan Rehabilitasi Mental Az Zainy)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Pengajian umum dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad Salallah Alaihi Wassalam di Pondok Pesantren dan Rehabilitasi Mental Az Zainy Tumpang Kabupaten Malang Jumat (28/10/2022) terasa istimewa.

Di antara tokoh ulama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, santri, petani, pedagang,  pengusaha, unsur  TNI, Polri, dan bersama ratusan jamaah muslim yang hadir, tampak juga tamu dari lintas agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha, hadir Ponpes Az Zainy.

Advertisement

Ketua Komisi Hubungan Antara Agama dan Kepercayaan Keuskupan Malang Romo Peter Sarbini S.V.D memimpin rombongannya. Hadir juga  Romo Eko Armono, tokoh Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya, mahasiswa sekolah tinggi theologi dan filsafat dan para suster dari Pertapaan Carmel Tumpang.

Peringatan-Maulid-Nabi-Muhammad-b.jpg

Semua tamu tanpa terkecuali mendapat sambutan hangat dan suka cita oleh KH Zain Baik, pengasuh dan pimpinan Ponpes Az Zainy.

Salawat Nabi menggema diiringi grup rebana dari  Paiton, Probolinggo pimpinan Ustadz Yusuf. Usai salawatan atas  Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan istighosah akbar.
Para tamu dari lintas agama melebur bersama jamaah muslim menyimak pengajian yang mengungkapkan kisah-kisah keteladanan Rasullalah oleh KH Zain Baik.

"Pertemuan ini tak akan terjadi tanpa cinta dan kasih. Ini   jiwa kemanusiaan. Ini jiwa dan perbuatan yang diteladankan Rasulallah. Inilah yang membangun kerukunan dan persahabatan antar umat di muka Bumi," ujar Gus Zain, panggilan akrab KH Zain Baik.

Advertisement

Menurutnya, agama memang berbeda berbeda tak bisa disatukan. Bagiku agamaku. Bagimu agamamu. Namun dengan cinta dan kasihh menjadikan sesama manusia saling menghormati, menghargai perbedaan  dan tetap tolong menolong dalam kebaikan. Ini meneladani perbuatan Rasulallah.

Dalam kesempatan itu,  Gus Zain mengungkapkan  bahwa menjelang kelahiran Rasulallah semesta raya menyambut dengan suka cita.

Sungai-sungai yang kering, mata airnya mengalir deras. Api yang sesembahan kaum Majusi pun padam. Ka'bah bergetar, diikuti runtuhnya patung-patung berhala.  Pohon- pohon yang dulunya mati menjadi hidup. Bahkan berbuah semua. 

Peringatan-Maulid-Nabi-Muhammad-c.jpg

"Subhanallah. Pertemuan kita ini  menghormati kelahiran Rasulallah. Karena kelahiran Sang Rasul memberikan Rahmatan lil alamin. Yakni bagi seluruh umat dan isi semesta alam. Tanpa terkecuali," papar Gus Zain.

Karena itu, lanjut Gus Zain, malam itu disiapkan buah buahan segar untuk para jamaah yang hadir sebagai simbol suka cita atas kelahiran  Rasullalah Muhammad SAW.

Gus Zain  menyampaikan kisah- kisah keteladanan Rasullallah yang jiwa, hati, tutur, dan perbuatannya  penuh kasih sayang kepada siapapun. Dan selalu memberi solusi pada setiap persoalan umat. Beliau sebagai pemimpin. Sebagai pengusaha. Sebagai panglima perang. Bahkan sebagai pemimpin keluarga.

Di manapun berada selalu sebagai penyebar kasih sayang, bijaksana, dan solutif. Sebagai  mana di antaranya dikisahkan dalam kitab Al Barzanji, ungkap Gus Zain. Yakni tentang kisah pohon buah kurma yang membuat Rasullalah menangis. Begini kisahnya.

Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Rasullallah, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu zikir dan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai.

Ada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah. 

“Apakah kamu tidak punya permintaan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang,” tanya Nabi.

Abu Dujanah menjelaskan, bahwa rumahnya berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Di pekarangan rumah tetangganya itu  ada satu pohon kurma. Pohon itu menjuntai ke arah rumahnya. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetangganya  berjatuhan, mendarat di rumahnya. 

"Rasul, kami keluarga orang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Dan saya takut anak saya makan buah kurma dari pohon tetangga kami. Karena itu bukan hak kami," katanya.

Oleh karena itu, lanjut Abu Dujanah, setelah selesai salat, dia segera pulang sebelum anak-anaknya tersebut terbangun dari tidurnya dan spontan mengambil buah kurma yang menjuntai ke arah rumahnya. 

"Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya," urai Abu Dujanah kepada Rasulallah.

Satu saat, dia agak terlambat pulang. Anaknya  terlihat sudah terlanjur makan kurma yang terjatuh. Dia  menyaksikan sendiri jika anaknya sedang mengunyah kurma.

Mengetahui itu, Abu Dujanah bergegas memasukkan jari-jari tangan ke mulut anaknya. Mengeluarkan kurma tersebut. Dan berkata, bahwa ini haram karena bukan haknya untuk makan. 

"Anak saya menangis. Kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan," ujar Abu Dujanah.

Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca. Butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah Muhammad bertanya siapa pemilik pohon kurma tersebut. Abu Dujanah mengaku bahwa pohon kurma tersebut milik seorang laki-laki munafik.

Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma itu.

“Bisa atau tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurmamu," tanya Rasullalah kepada pemilik pohon kurma tersebut.
 Ketika Rasullallah menyampaikan harga beli satu kali lipat, pemilik kurma itu menolak. Sampai kemudian Rasulallah menawarkan harga sepuluh kali lipat. Barulah pemilik kurma tersebut mau menjual kepada Rasullallah. 

" Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri," jawab Rasullah.

Terlihat sahabat Rasullah Abu Bakar as-Shiddiq bergegas membawa uang untuk pembayaran pohon kurma tersebut.

Si munafik pemilik kurma itu berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.”

Abu Bakar lantas menyerahkan secara resmi pohon kurma kepada Abu Dujanah usai pembayaran.

Sementara si munafik berlalu berkata kepada istrinya, "Aku akan dapat lagi sepuluh pohon kurma yang lebih bagus dari yang aku jual ke Muhammad. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku akan tetap yang memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”
Namun apa yang terjadi. Malaikat turun tangan.

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma tersebut berpindah posisi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah.

Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara.

Kisah ini, kata Gus Zain, merupakan pelajaran luar biasa keteladanan Rasullalah memberikan solusi dan cintanya kepada umat yang kesulitan. Selain itu, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan harta haram. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram. Allah menjanjikan kebaikan dengan rejeki, keselamatan, dan pahala berlipat-lipat bagi yang mengamalkan.

Pengajian ditutup dengan doa dan menikmati buah-buahan yang tersedia.

"Ini wujud persaudaraan sejati. Dan majelis ilmu yang bermanfaat. Terimakasih kami mendapat kesempatan hadir dalam acara mulia ini,"  ungkap Romo Sarbini.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia