Kabupaten Bondowoso Siap Tingkatkan Produksi Kopi hingga Pertanian Organik
Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu daerah yang tidak memiliki pantai, sehingga warganya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. ...

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu daerah yang tidak memiliki pantai, sehingga warganya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Bahkan Bondowoso menjadi salah satu daerah dengan penyumbang pangan di Jawa Timur.
Memiliki area pegunungan yang cukup luas, yaitu Lereng Ijen-Raung dan Hyang Argopuro, Kabupaten Bondowoso tidak hanya menghasilkan komoditas padi tetapi juga kopi. Bahkan sejumlah lahan sudah dijadikan pertanian organik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, tercatat ada tujuh komoditas tanaman pangan di Bumi Ki Ronggo. beberapa mengalami peningkatan baik luas panen maupun produksinya.
Sementara, tanaman pangan lain mengalami penurunan baik produksi maupun luas panennya.
Sementara untuk luas panen padi turun sebesar 16,43 persen, luas panen jagung naik sebesar 9,89 persen.
Adapun luas panen kedelai turun 59,62 persen. Kacang tanah turun 38,25 persen, ubi kayu naik 1,23 persen dan ubi jalar naik 6,98 persen. Penurunan produksi terbesar terjadi pada komoditas kedelai sebesar 58,44 persen.
Untuk kelompok sayur-sayuran ada tiga komoditas naik cukup besar. Di antaranya Kubis sebanyak 327.400 ton per tahun, kentang 177.380 ton dan cabai rawit 69.042 ton.
Penurunan produksi terbesar terjadi pada komoditas jamur dari 38.575 ton tahun 2019 menjadi sekitar 2.502 ton pada 2020.
Wakil Bupati Bondowoso, Irwan Bachtiar Rahmat mengatakan, total luasan lahan pertanian di Bondowoso pada 2023, mencapai 35,950 hektare. Pihaknya berharap potensi lahan tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.
Sehingga isu krisis pangan tidak sampai berdampak. Sebab petani sudah menghasilkan produk pertanian yang cukup melimpah. Baik beras, sayur dan lain sebagainya.
Menurut dia, sejumlah lahan di Bondowoso juga sudah dijadikan lahan pertanian organik. Produksinya sudah mulai merambah ke pasar regional.
Pertanian organik kata dia, bisa ditemui di dua desa, diantaranya Desa Lombok Kulon seluas 105 hektare dan Desa Sulek seluas 40 hektare. “Masih perlu kami kembangkan lagi untuk ke depan,” ujar dia.
Selain itu, lanjut dia, kopi juga menjadi salah satu hasil pertanian yang cukup potensial. Apalagi sudah ada dua jenis kopi yang memiliki hak kekayaan intelektual (HKI). Yakni jenis Arabika Ijen Raung dan Arabica Hyang Argopuro yang memiliki citarasa khas.
Dia mengungkapkan, lahan perkebunan kopi di Bondowoso mencapai 14,689 hektare. “Kami berharap terus berkembang dan mengalami peningkatan setiap tahun,” ujarnya.
Menurut dia, Kabupaten Bondowoso juga memiliki potensi di bidang pertanian adalah padi, tembakau serta pisang cavendish.
Sementara pisang cavendish merupakan salah satu komoditas yang berperan dalam pasar ekspor. Bahkan saat ini demplotnya susah mencapai 1,8 hektare.
“Akan terus dikembangkan untuk kawasan berikat, dengan target 200 hektare,” ungkap dia, Senin (16/1/2022). (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


