Advertisement
Indonesia Positif

Kementan RI Ajak Seluruh Stakeholder Hadapi Fenomena Alam El Nino

Kementerian Pertanian (Kementan RI) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM Pertanian) Kementan mengajak masyarakat khususnya para ...

TIMES Indonesia,
Kementan RI Ajak Seluruh Stakeholder Hadapi Fenomena Alam El Nino
Kepala BPPSDM Pertanian Kementan RI, Dedi Nursyamsi saat menjelaskan Fenomena Alam El Nino. (FOTO: tangkapan layar zoom meeting)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Kementerian Pertanian (Kementan RI) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM Pertanian) Kementan mengajak masyarakat khususnya para petani agar lebih mengetahui fenomena alam El Nino. 

“El Nino ini adalah fenomena alam yang tentu saja disebabkan oleh climate change (perubahan iklim). Perubahan iklim ini, dapat memberikan dampak terjadinya iklim ekstrem ada La Nina, hujan berkepanjangan dan ada El Nino kemarau berkepanjangan,” ucap Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM Pertanian) Dedi Nursyamsi dalam konferensi pers Pelatihan Petani dan Penyuluh ke 6 pada Jumat (19/5/2023). 

Advertisement

Melalui konferensi pers Pelatihan Petani dan Penyuluh ke 6 yang mengusung tema Antisipasi Pertanian Menghadapi El Nino, Dedi menjelaskan bahwa kehadiran fenomena alam El Nino juga menyebabkan terjadinya serangan hama dan penyakit lainnya. 

“Misalkan di musim hujan kemarin La Nina, itu yang namanya penyakit luar biasa. Kita lihat komoditas cabe kita produktivitasnya turun secara drastis karena serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri meningkatnya luar biasa. Disana El Nino, serangan hama juga terjadi seperti di NTB bagian selatan adanya belalang kumbara,” jelas Dedi. 

Dedi menegaskan, fenomena alam El Nino ini harus dihadapi karena El Nino tidak bisa dicegah ataupun di hindari. Adapun menghadapi El Nino sendiri harus menggunakan cara-cara yang baik. 

Menurut Dedi, musim kemarau yang akan datang mulai bulan Juni ini kemungkinan akan lebih lama karena disebabkan oleh fenomena alam El Nino tersebut dengan puncaknya yang akan terjadi pada Agustus hingga September 2023 mendatang. 

“Kita seluruh stakeholder pertanian terutama para petani, para praktisi dan seluruh penyuluh pertanian di Indonesia ini harus mengerti dan paham apa itu El Nino. Disaat yang sama para stakeholder pertanian ini harus tahu dampak dari El Nino ini sendiri,” tandasnya. (*) 

Advertisement

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia