Advertisement
Indonesia Positif

Penemu Nikuba Akui Tak Butuh Bantuan Pemerintah

Penemu alat pengubah air jadi bahan bakar kendaraan bernama Nikuba, Aryanto Misel jadi perhatian publik akhir-akhir ini. Itu karena pernyataannya bahwa dirinya sudah tak ...

TIMES Indonesia,
Penemu Nikuba Akui Tak Butuh Bantuan Pemerintah
Aryanto Misel dan penemunya bernama Nikuba. (FOTO: tangkap layar)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Penemu alat pengubah air jadi bahan bakar kendaraan bernama Nikuba, Aryanto Misel jadi perhatian publik akhir-akhir ini. Itu karena pernyataannya bahwa dirinya sudah tak butuh bantuan pemerintah terkait pengembangan inovasinya tersebut.

Pernyataan itu ia sampaikan saat wawancara dengan stasiun telivisi swasta yang kemudian viral di media sosial.

Advertisement

"Saya tidak butuh mereka (pemerintah)," kata Aryanto dikutip TIMES Indonesia dari Instagram bernama Undercover, Selasa (11/7/2023).

Menurutnya, kekecewaan tersebut karena pemerintah sudah dinilai mengucilkan dirinya selama ini. "Saya sudah dibantai habis," jelasnya.

Alat Nikuba hasil inovasi Aryanto sebelumnya kembali viral karena sudah go internasional. Saat ini, inovasi itu memiliki kesempatan untuk dikenal lebih jauh oleh sejumlah pabrik otomotif dari Italia.

Pada 16 Juni lalu, Aryanto dan tim juga sudah terbang ke Italia dan mempresentasikan inovasinya tersebut. Menurut Aryanto, dirinya kini berkeinginan bekerja sama dengan pihak asing untuk mendanai temuannya tersebut.

Nikuba alat pengubah air jadi bahan bakar kendaraan melalui proses elektrolisis akan dijual Rp15 miliar. Penawaran tersebut terbuka bagi siapapun yang tertarik akan teknologinya.

Advertisement

"Itu mau saya tawarkan Rp15 miliar," kata Aryanto lagi.

Menurutnya, dana yang didapatkan nantinya itu akan kembali mengembangkan Nikuba. "Yang penting saya ini akan istilahnya kalau dapat duit dari sana bisa melanjutkan riset kembali," ujarnya.

Tanggapan BRIN

Peneliti Madya Pusat Riset Material Maju Bandan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deni Shidqi Khaerudini menanggapi soal inovasi tersebut. Kata dia, Nikuba bukan alat penghasil hidrogen sebagai pengganti bahan bakar kendaraan, namun untuk menghemat bahan bakar.

Ia menjelaskan, konsep yang dipakai di Nikuba yaitu menggunakan HHO, bukan hidrogen murni. Kata dia, HHO atau Hidrogen Oksigen ini disebut gas Brown, yang diambil dari nama penemunya, Yull Brown.

HHO berfungsi menjadi penghemat bukan sebagai pengganti bahan bakar. "Jadi bukan pengganti BBM, tapi fuel saver, sebab tetap ada peranan BBM," katanya dikutip dari CNN Indonesia.

Menurutnya, jika memang Nikuba diklaim bisa menjadi pengganti BBM, harus ada data yang membenarkan bahwa Hidrogen yang dipakai di ruang bakar adalah gasnya.

"Kalau pun murni Hidrogen, sistem pembakaran di mobil dan motor tidak mendukung. Hidrogen gasnya kecil sehingga tidak cocok dengan sistem pembakarannya," ujarnya.

DPR RI Minta Pemerintah Berikan Dukungan 

Sementara itu, Komisi VII DPR Abdul Kadir Karding menilai, sebagai pemerintah memberikan dukungan atas inovasi Nikuba tersebut.

Ia mengatakan, inovasi yang berdampak pada kemajuan teknologi di Indonesia harus terus diapresiasi. Menurutnya, kepedulian pemerintah bisa memperluas kesempatan riset dan pengembangan inovasi sebagai modal pembangunan bangsa Indonesia.

Pemerintah harus tanggap dan pro aktif merangkul serta mendukung pengembangan kemampuan dan inovasi anak bangsa agar memotivasi lahirnya karya-karya luar biasa dari putra-putri Indonesia," katanya dikutip dari Antara.

Menurutnya, temuan Nikuba cukup membanggakan dan bisa disempurnakan dengan adanya dukungan dari pemerintah tersebut. "Bukan tidak mungkin inovasi itu membuat kita terbebas dari bahan bakar fosil yang jumlahnya terus berkurang setiap tahun," ujarnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Ramli
PenulisMoh RamliPasca Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (2023). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia