Advertisement
Indonesia Positif

PP Nurud Dhalam Bondowoso Edukasi Santri Jadi Pengusaha melalui Pesantren Menanam

Masih banyak yang beranggapan pondok pesantren hanya mengajarkan ilmu agama dan kitab kuning saja. Padahal di sana juga diajarkan banyak hal termasuk cara jadi pengusaha ...

TIMES Indonesia,
PP Nurud Dhalam Bondowoso Edukasi Santri Jadi Pengusaha melalui Pesantren Menanam
Proses penanaman bibit cabai milik Pondok Pesantren Nurud Dhalam Bondowoso (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

BONDOWOSO Masih banyak yang beranggapan pondok pesantren hanya mengajarkan ilmu agama dan kitab kuning saja. Padahal di sana juga diajarkan banyak hal termasuk cara jadi pengusaha seperti yang dilakukan Pondok Pesantren Nurud Dhalam Bondowoso.

PP Nurud Dhalam Bondowoso sendiri beralamat di Desa Wringin Kecamatan Wringin, dengan banyak lahan pertanian di sekitarnya.

Advertisement

Memanfaatkan potensi itu, Ponpes Nurud Dhalam kemudian mengajarkan santrinya jadi pengusaha dengan program pesantren menanam cabai.

Ternyata program ini mendapatkan support penuh dari Bank Indonesia (BI). Mulai dari bibit dan beragam kebutuhan untuk pertanian cabai.

Pengasuh Ponpes Nurud Dhalam, Kiai Musolli Riyadi mengaku baru saja dilantik sebagai dewan perwakilan daerah (DPD) Himpunan Bisnis Ekonomi Pesantren (Hebitren) Bondowoso bersama sejumlah pimpinan pondok pesantren di 38 kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur.

"Agar mempunyai payung hukum yang kuat," jelas dia saat dikonfirmasi TIMES Indonesia.

Menurutnya, program ini merupakan binaan dari BI untuk menciptakan pesantren yang mandiri ekonomi.

Advertisement

Pembinaan ini dalam bentuk menanam cabai. BI memberikan bantuan 10. 000 bibit cabai sekaligus alat-alat pertaniannya.

"Bibit itu sudah mulai ditanam di lahan yang dimiliki oleh Pesantren Nurud Dhalam, sekitar setengah hektar," kata dia.

Hasil pertanian ini murni dikelola pesantren. Namanya kelompok tani di bawah naungan pondok pesantren.

Dalam mengelola pertanian ini, pihaknya melibatkan tiga komponen. Yakni santri, ustaz dan sebagian warga sekitar.

"Santri juga bantu, dan yang betul-betul mengelola itu masyarakat dua orang. Asatidz (ustaz) dua orang," terang dia.

Menurutnya, pesantren memiliki kemampuan untuk mengembangkan bisnis karena pesantren memiliki kemandirian yang kuat dan kedaulatan.

"Ciri khas pesantren ini menunjang tumbuh-kembangnya bisnis di pesantren," jelas dia.

Pihaknya masih fokus di sektor pertanian dulu. Jika progresnya baik, maka tahun berikutnya bisa dikembangkan bisnis lainnya seperti butik dan jenis bisnis lainnya.

Selain belajar agama kata dia, sebagian santri diajarkan bercocok tanam. Agar saat terjun ke masyarakat bisa langsung mempraktikkan.

"Ini untuk kemandirian ekonomi, agar santri bisa mempraktikkan ilmunya saat kembali ke rumahnya masing-masing dan bermasyarakat nantinya," harap dia.(*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia