Advertisement
Indonesia Positif

Begini Kata PBNU Soal Tiga Tokoh Nahdliyin Masuk dalam Daftar Cawapres

Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, menjelaskan, masuknya tokoh NU sebagai kontestan dalam Pilpres merupakan keterlibatan secara personal ... ...

TIMES Indonesia,
Begini Kata PBNU Soal Tiga Tokoh Nahdliyin Masuk dalam Daftar Cawapres
Kolase foto tiga tokoh Nahdlatul Ulama (FOTO: Instagram @cakiminnow, @khofifah.ip @yennywahid)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Suara NU selalu menjadi rebutan para calon presiden. Termasuk menjelang Pilpres 2024 ini, yang kini sudah ada tiga tokoh NU yang masuk dalam daftar Cawapres.

Salah satu diantaranya Muhaimin Iskandar yang maju menjadi Cawapres Anies Baswedan.

Advertisement

Dua tokoh NU lainnya yang digadang-gadang bakal menjadi Cawapres dalam Pemilu 2024 adalah Khofifah Indar Parawansa dan Yenny Wahid. 

Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, menjelaskan, masuknya tokoh NU sebagai kontestan dalam Pilpres merupakan keterlibatan secara personal. 

Sebab kata dia, PBNU sebagai jam'iyah sudah kembali ke khittah. Yakni tidak terlibat langsung di dalam kegiatan politik praktis. 

"Itu merupakan keterlibatan secara personal," kata dia saat dikonfirmasi dalam beberapa waktu lalu.

Menurutnya, di momen Pilpres ini PBNU berkonsentrasi menjaga warga NU tetap menggunakan hak pilihnya secara bermartabat dan bertanggung jawab. 

Advertisement

Selain itu, warga NU harus juga membangun etika politik. "Itu yang menjadi concern PBNU sekarang," imbuh Bupati Bondowoso dua periode ini (2008-2018). 

Dia juga menegaskan, sejumlah tokoh NU yang menjadi kontestan di Pilpres tidak akan memecah belah jam'iyah NU.

Pria yang juga akrab disapa ASH ini meyakini warga NU sudah dewasa dan sudah biasa dengan perbedaan pendapat. 

Berdasarkan pengalamannya, dalam berbagai kontestasi politik warga NU sudah terbiasa dengan perbedaan-perbedaan pendapat. 

"Dan kita selalu bisa menjaga kerukunan untuk saling menghargai perbedaan pendapat," jelasnya. 

Dia juga memaparkan tentang pemimpin yang baik. Yaitu yang kriteria-kriterianya diajarkan oleh agama Islam. 

Pertama, amanah. Yaitu orang yang mampu menjaga dan melaksanakan kepercayaan yang diberikan. 

Kemudian yang ke dua, yaitu Fathonah. Artinya memiliki kapasitas, kecerdasan, dan kemampuan untuk melaksanakan kepemimpinan. 

"Itu artinya juga memiliki visi. Karena orang yang cerdas, Fathonah, pasti memiliki visi kepemimpinan," paparnya. 

Selain itu kata dia, pemimpin harus memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsanya. Kemudian memiliki gagasan-gagasan besar untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa. 

"Kemudian berikutnya, mampu merawat keberagaman. Agar jangan sampai terjadi perpecahan karena adanya perbedaan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, dan itu harus dirawat sedemikian rupa. Agar tetap menjadi bangsa yang saling menghormati satu sama lain," paparnya.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia