Advertisement
Indonesia Positif

Bersama Pemuda Blitar, Bawaslu Ajak Untuk Perangi Informasi Hoax di Tengah Masa Kampanye

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Blitar mengajak pemuda Blitar yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Blitar Raya untuk meme ...

TIMES Indonesia,
Bersama Pemuda Blitar, Bawaslu Ajak Untuk Perangi Informasi Hoax di Tengah Masa Kampanye
Bawaslu Kabupaten Blitar, Muhammad Nur Aziz saat menyamaikan materi (FOTO: Dwi Lailatus Saadah/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

BLITAR Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Blitar mengajak pemuda Blitar yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Blitar Raya untuk memerangi informasi hoaks di tengah masa kampanye. Dihadapan puluhan aktivis mahasiswa ini Bawaslu Kabupaten Blitar bicara soal Pemanfaatan Teknologi dan AI Untuk Kebebasan Berbicara.

Koordinator Divisi Penanganan, Pelanggaran, dan Penyelesaian Sengketa (PPPS) Muhammad Nur Aziz mengatakan pada Pemilu Serentak 2024 ini rata-rata yang menjadi pemilih ialah para generasi Z atau mereka yang lahir diantara tahun 1996 hingga 2012.

Advertisement

"Kalau dilihat pada penyelenggaraan Pemilu 2024 nanti sebanyak 50% lebih pemilih berasal dari generasi Z," paparnya pada Senin (25/12/2023).

Aziz mengungkapkan bahwasannya seluruh dunia saat ini mampu dipantau melalui sosial media. Ia menjelaskan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Survei Internet Indonesia 2023 empat sosial media yang paling sering digunakan oleh masyarakat Indonesia ialah Youtube, Facebook, Instagram, dan Tiktok.

Melalui empat media sosial tersebut, menurutnya, akan semakin membuka celah besar terkait perkembangan informasi yang berseliweran di masyarakat. 

"Dari banyaknya sosial media yang berkembang sekarang, menjadi celah untuk saling melontarkan kampanye negatif lewat sosial media," jelasnya. 

Aziz menambahkan terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melawan informasi hoaks melalui Gerakan Literasi Digital Lawan Hoaks, diantaranya mengklarifikasi isu melalui berbagai media dan platform, mendorong netizen memroduksi dan membagikan konten positif, munculkan budaya malu jika share informasi hoaks, serta membiasakan saring sebelum sharing. (*)

Advertisement

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

D
PenulisDwi Lailatus Saadah (MG) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia