Advertisement
Indonesia Positif

Unusa Dukung Jatim Bebas Gizi Buruk Lewat Pengelolaan Terintegrasi 

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus aktif terlibat dalam penyelesaian masalah gizi buruk di Jatim. ...

TIMES Indonesia,
Unusa Dukung Jatim Bebas Gizi Buruk Lewat Pengelolaan Terintegrasi 
Acara lokakarya Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) Unusa di Surabaya, Sabtu (6/1/2024). (Foto: Unusa for TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

SURABAYA Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus aktif terlibat dalam penyelesaian masalah gizi buruk di Jatim.

Salah satunya, Unusa melakukan lokakarya Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) dengan mengundang mitra pelaksanaan intervensi.

Advertisement

Rizki Amalia, perwakilan LPPM Unusa, menyampaikan Unusa telah melakukan pendampingan terhadap 11 kabupaten dan kota di Jatim dalam menyelesaikan masalah gizi buruk ini.

"Lokakarya ini diadakan untuk bersama-sama melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tersebut," terangnya, Sabtu (6/1/2024).

Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber Lutfiatul Chamidah dari PKMK-FK UGM dan Cicik Swi Antika dari Dinkes Jatim. 

Narasumber menyampaikan untuk menyelesaikan masalah gizi dengan 4 komponen diantaranya skrining, rawat jalan, rawat inap, dan konseling PMBA/PMT. 

“Untuk menyelesaikan masalah gizi di Jawa Timur, maka perlu serangkaian kegiatan yang membantu penanggung jawab program gizi untuk membangun hubungan dengan masyarakat dan membangun rasa kepemilikan dan pemanfaatan program gizi oleh masyarakat yaitu melalui mobilisasi masyarakat," tegas Cicik dalam presentasinya.

Advertisement

Ia menambahkan, pemerintah memiliki pekerjaan berat mengenai permasalahan gizi buruk di antaranya kekurangan gizi, obesitas, dan defisiensi zat gizi mikro. 

Berdasarkan data Riskesdas 2018, sebanyak 10,2% balita di Indonesia mengalami kurang gizi akut (wasting) dengan 3,5% di antaranya merupakan kasus gizi buruk. 

Sementara, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 sebanyak 24,4% balita mengalami stunting, 7,1% balita mengalami wasting, dan 17% balita mengalami underweight. 

Angka prevalensi stunting tersebut menurun di tahun 2022 berdasarkan data SSGI Tahun 2022, yaitu sebanyak 21,6%, namun prevalensi wasting meningkat menjadi 7,7% dan underweight menjadi 17,1%.

Sementara itu, Paramita Viantry, PIC kegiatan berharap dengan adanya kegiatan ini dapat mendiskusikan teknis pelaksanaan, kendala yang dihadapi, monitoring dan evaluasi PGBT di Jawa Timur.

“Kegiatan ini pada akhirnya mendapatkan masukan untuk proses perbaikan pelaksanaan kegiatan pengelolaan gizi buruk terintegrasi di Jawa Timur pada tahun 2024,"  tegas Paramita sekaligus menutup kegiatan.

Sebagaimana diketahui, Unusa terus aktif terlibat dalam penyelesaian masalah gizi buruk di Jatim. Salah satunya, Unusa melakukan lokakarya Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) dengan mengundang mitra pelaksanaan intervensi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia