Indonesia Positif

Menutup Masa Kampanye, Yahya Alhadad Menggelar Tukar Pikiran Bersama Warga

Sabtu, 10 Februari 2024 - 10:39 | 10.36k
Yahya Alhadad saat kampanye terakhir Bertajuk Tukar pikiran Bersama Warga. (FOTO: Haerun Hamid/TIMES Indonesia)
Yahya Alhadad saat kampanye terakhir Bertajuk Tukar pikiran Bersama Warga. (FOTO: Haerun Hamid/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, TERNATE – Masa kampanye pemilihan Umum (Pemilu) 2024 memasuki hari-hari terakhir, dimulai sejak 28 November 2023 tahun lalu, dan berakhir pada Sabtu tanggal 10 Februari sebagai tanda berakhir masa kampanye untuk 2024.

Dimasa tutup kampanye, Yahya Alhadad salah konfigurasi Figur dari Partai Perindo nomor urut 03, menggelar kampanye akbar bertajuk (Tukar Pikiran Bersama Warga), dari pukul 20:00-23:08 Wit, Kampanye Yahya soal edukasi pemilih yang cerdas itu dilaksanakan di Kelurahan Fitu, Ternate Selatan, Kota Ternate pada (09/2/2024).

Kampanye terakhir ini Yahya Alahadad menyoroti tiga isu penting yakni, pertama politik uang, kedua politik identitas dan, ketiga sampah, baliho dan politik. Ketiga hal ini jika tidak ditangani secara baik akan sangat berbahaya pada kehidupan kita, kata Yahya di hadapan warga Fitu.

Dia menjelaskan politik uang itu praktek pembelian suara dan pemilih atau rakyat akan kehilangan haknya. Mengapa demikian? Tanyanya. 

Karena suara masyarakat telah dibeli dengan harga Rp200.000-300.000 dan apabila mereka terpilih yang dipikirkan adalah pengembalian modal yang dihabiskannya saat pemilu.

“Jadi tidak bisa heran jika tuntutan hak masyarakat sering diabaikan. Karena suara masyarakat telah dibeli dan politik uang membuat masyarakat kehilangan martabat kemanusiaannya. Inilah bahayanya”, kata Yahya.

Yahya Alhadad menyatakan akibat sehingga banyaknya pengangguran di kalangan pemuda dan berakhir dengan sering terjadi tawuran. Contoh kasus lain misalnya, ibu-ibu di Fitu yang jualan ikan di pinggir jalan dan hal tidak ada rasa peduli sama sekali oleh pemerintah maupun DPR.  Beginilah dampak buruk politik uang.

“Mestinya, pemerintah menyiapkan pasar di kelurahan Fitu. Selain keselamatan, juga menekan biaya transportasi dan akan terjadi rebutan tempat jualan di pasar yang akhirnya terjadi konflik dengan orang-orang di pasar Bastiong dan Gamalama”.

Dia bilang, Jika pemerintah tidak akomodir kepentingan masyarakat, maka DPR bisa gunakan hak veto untuk tidak mengesahkan APBD. Jika saya dipercayakan oleh warga Fitu untuk menjadi dewan maka hal ini yang akan saya lakukan di semua sektor pembangunan yang menjadi prioritas masyarakat.

Yang berikut terkait politik identitas. Politik identitas itu praktek politik tidak etis dan dapat merusak kebersamaan, kekeluargaan dan keharmonisan sosial. Karena ada manipulasi identitas seperti suku, etnis, agama dan ras di sana.

“Bahayanya politik identitas dapat memicu konflik dan merusak demokrasi. Politik identitas harus dihindari demi untuk menjaga nilai persaudaraan dan terciptanya demokrasi yang baik dan terbuka, ungkap caleg nomor urut partai perindo itu.

Yang terakhir adalah masalah sampah, baliho dan politik. Masalah paling mendesak di Kota Ternate adalah sampah. Pada tahun 2023 volume sampah mengalami peningkatan sebanyak 180 sampai 200 ton per hari, dibandingkan tahun 2022 sebanyak 120 ton per hari. Artinya bahwa jika sampah tidak ditangani secara baik sudah bisa dipastikan akan mengalami peningkatan setiap tahun, kata Yahya.

Mengutip informasi dari media mongabay, Yahya mengatakan baliho-baliho menyebabkan terjadi polusi visual atau mengganggu keindahan suatu kawasan kota dan berdampak negatif. Misalnya pesona keindahan kehilangan daya tarik, hilangnya kekhasan suatu kawasan kota, meningkatkan budaya konsumtif, gangguan media seperti stress, sakit kepala dan membahayakan keselamatan pengendara karena mengganggu konsentrasi.

Dari segi lingkungan, menggunakan laporan Forest Digest Yahya menjelaskan baliho kampanye turut menghasilkan emisi karbon cukup besar. Sebab baliho mengandung bahan kimia berasal dari pengolahan minyak bumi yang biasanya digunakan membuat plastik.

Berdasarkan perhitungan, jika 1x1 meter baliho beratnya 300 gram, maka emisi karbon dihasilkan 1 kilogram setara Co2. Saat menjadi sampah, baliho hasilkan gas rumah kaca yang berbahaya saat mengotori atmosfer, lanjutnya.

Pada kesempatan ini, Yahya Alhadad tak luput mengajak masyarakat untuk bangun budaya politik dengan merawat demokrasi sekaligus merawat lingkungan. Bangun politik dengan akal sehat, tutup Yahya Alhadads. (d)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES