Indonesia Positif

Seminar Internasional Bahas Soal Memerdekakan Palestina

Jumat, 05 April 2024 - 12:44 | 18.21k
Dr. Hossein Mutaqie, sebagai pemikir filsafat dan tasawuf dari Iran yang hadir dalam seminar Internasional. (FOTO: YouTube IKMAL TV Indonesia) 
Dr. Hossein Mutaqie, sebagai pemikir filsafat dan tasawuf dari Iran yang hadir dalam seminar Internasional. (FOTO: YouTube IKMAL TV Indonesia) 

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pembahasan Palestina masih menjadi pembahasan yang terus disuarakan, kali ini Ikatan Alumni Jamiah Al Mustafa IRAN (IKMAL) bersama Alumni Connect Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia menggelar seminar internasional pada Kamis (4/4/2024) kemarin di Jakarta. 

Kegiatan seminar yang mengusung tema "Memerdekakan Palestina Menuju Dunia Multipolar" juga sekaligus memperingati Hari Internasional Alquds dengan menghadirkan pembicara baik dari IKMAL, Alumni Connect PPI Dunia dan Iran serta Palestina.

Dalam seminar Internasional tersebut, Dr. Hossein Mutaqie, sebagai pemikir filsafat dan tasawuf dari Iran mengatakan terdapat dua hal penting, kenapa Palestina tidak kunjung merdeka. Pertama adanya gerakan zionisme politik dan kedua zionisme agama.

Alumni-Connect-PPI-Dunia.jpgKegiatan Seminar Internasional Ikmal x Alumni Connect PPI Dunia. (FOTO: dok. Alumni Connect PPI Dunia for TIMES Indonesia) 

“Zionisme politik berawal dari kongres zionis pertama di Basel, Swiss 1897, dipimpin Theodor Herzl. Gerakan ini memiliki strategi memanipulasi agama Yahudi untuk kepentingan pendirian negara Israel,” ucap Dr. Hossein Mutaqie dalam keterangan persnya kepada TIMES Indonesia, Jumat (5/4/2024).

Sedangkan zionisme agama, lanjut Dr. Hossein Mutaqie, memiliki ajaran "kembali ke tanah air" bagi diaspora Yahudi ke Yerusalem. Ajaran ini tidak berbahaya. “Adapun penyelewengannya, menyembah sapi dan memiliki slogan kembali ke tanah air dan mendirikan negara khusus Yahudi  dengan menerapkan sistem apartheid,” katanya.

“Bisa disimpulkan, ajaran Yahudi yang asli, tidak ada hubungannya dengan pendirian negara Israel khusus Yahudi dengan cara illegal, melanggar nilai kemanusiaan dan agama apapun. Di sinilah letak kontradiksi antara negara zionisme Israel yang mengkampanyekan negara rasis dan agama Yahudi yang menyebarkan kebaikan,” sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti mengurai secara singkat kenapa memerdekakan Palestina bisa berkontribusi dalam membentuk dunia multipolar.

Menurutnya, setelah perang dunia kedua tahun 1945, dunia dipegang oleh dua kutub kekuatan yang disebut dengan bipolar. “Barat di wakili Amerika Serikat, Timur di wakili Uni Soviet. Hingga keruntuhan Uni Soviet tahun 1990, dunia menjadi Unipolar yang dipegang Amerika Serikat,” ujar Dina.

Dina mengutarakan, penjajahan Palestina oleh Israel sejak tahun 1948 awalnya karena dukungan kekuatan bipolar, namun kekuatan Israel dalam perkembangan selanjutnya di dukung oleh kekuatan unipolar yaitu Amerika Serikat.

“Jika momentum menguatkan kekuatan Multipolar ini, seiring dukungan gerakan memerdekakan Palestina, maka kekuatan dunia Islam menjadi kekuatan multipolar yang real. Inilah logika memerdekakan Palestina Menuju Dunia Multipolar,” tegasnya.

Terlibat Langsung dan Total

Dalam seminar internasional, hadir aktivis Gaza Palestina, Muhammad Husein yang menjelaskan pentingnya masyarakat Indonesia untuk berjuang bersama masyarakat dunia dan bangsa Palestina untuk memperoleh kemerdekaan.

“Berhentilah berkata peduli pada Palestina, tapi terlibat secara langsung dan total,” jelas pria yang menjadi relawan dan sudah tinggal di Gaza sejak 2010 dan kuliah di Universitas Islam Gaza, Palestina.

Husein meminta agar isu Palestina menjadi isu primer, bukan sekunder dan berpikir dengan totalitas mengerahkan seluruh kemampuan demi kemerdekaan Palestina. “Kenapa demikian, karena para pendukung negara Israel bekerja secara penuh bukan dari waktu sisa,” imbuhnya.

Meskipun masih sedikit, Husein menguatkan agar umat Islam bekerja sepenuh waktu untuk memerdekakan Palestina, karena Amerika Serikat, Inggris, Jerman mengeluarkan energi total mendukung pendirian negara zionis Israel.

“Kita umat Islam setengah-setengah, mengeluarkan energi sisa, harta sisa, waktu sisa, dan hati sisa. Hal ini tidak akan "balance dan tidak fair",” terang pria yang menyelesaikan pascasarjananya di Universitas Islam Gaza, Palestina.

Dukungan Alumni Luar Negeri

Sebagai himpunan para alumni yang pernah mengenyam pendidikan agama di Jamiah Al Musthafa, IKMAL IRAN melalui Ketuanya, Abdullah Beik menekankan pentingnya alumni luar negeri dalam berkontribusi pada kemerdekaan Palestina dengan cara menumbuhkan akal dan kemanusiaan.

“Kita harus meluruskan hoaks yang disebar oleh Israel dengan tujuan melemahkan perjuangan kemerdekaan Palestina. Selain itu juga harus ikut mencerahkan masyarakat dengan isu Palestina,” kata Abdullah Beik.

Sekretaris Jenderal Alumni Connect PPI Dunia, Hafizd Alharomain Lubis menyebutkan pentingnya tanah wakaf masjid Al Aqsa menjadi aset UNESCO, pentingnya sosok inspirator kepemimpinan Salahuddin Alayyubi sebagai pemersatu.

“Tanah Yerusalem adalah tempat suci, lokasi Isra’ mi’roj Nabi Muhammad SAW. Jadi, isu Palestina adalah isu agama juga isu politik. Israel adalah entitas politik bukan negara. Para rabi orthodox sendiri, tidak setuju dengan ideologi zionisme. Masyarakat sekarang sudah tahu, mana Yahudi mana zionis,” tandas Sekjen Alumni Connect PPI Dunia, Hafizd Alharomain Lubis. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES