Indonesia Positif

Dosen dan Mahasiswa Ubaya dan UKWMS Ciptakan Kukis dan Teh dari Daun Jati

Jumat, 12 April 2024 - 17:07 | 9.94k
Tjie Kok (tengah) dan tim menunjukkan produk olahan dari daun jati. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
Tjie Kok (tengah) dan tim menunjukkan produk olahan dari daun jati. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Dosen dan mahasiswa Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya (Ubaya) berkolaborasi dengan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) membuat inovasi kukis dan teh dari daun jati. Kukis dan teh ini memiliki kandungan senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (antiradang). Inovasi didemonstrasikan pada Rabu (4/10/2023) di Ubaya Baking Center, Kampus Ubaya Tenggilis.

Pembuatan inovasi ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) berupa Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Desa Herbal Kebontunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Program ini mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Ketua tim, apt. Tjie Kok, Ph.D., mengatakan keberadaan daun jati sangat melimpah di desa tersebut. Apalagi terdapat hutan jati terbesar di Jawa Timur dengan luas sekitar 130 hektar. Namun sayangnya pemanfaatan daun jati masih sangat minim. Selama ini hanya digunakan untuk bungkus makanan, bahkan sebagian besar sisanya dibiarkan kering dan rontok ke tanah sehingga terkontaminasi oleh mikroorganisme di tanah. “Kandungan senyawa dalam daun jati diketahui mempunyai aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (antiradang). Oleh karena itu, kami berinisiatif membuat produk pangan bermanfaat kesehatan yang memiliki nilai komersial, yakni kukis dan teh,” jelasnya.

Produk pangan dari daun jati ini memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (antiradang) karena kandungan senyawa berupa senyawa fenolik, flavonoid, tanin, terpenoid, dan alkaloid yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, mengonsumsi teh dan kukis ini bermanfaat untuk pencegahan terhadap timbulnya penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit kronis lain.

Proses pembuatan dimulai dengan mengumpulkan daun jati pada hutan jati di kawasan Desa Kebontunggul. Kemudian daun tersebut dipilah untuk diambil daun jati berusia muda yang berwarna hijau segar.  Daun tersebut diangin-keringkan memakai kipas angin, lalu dipotong-potong dan dipisahkan dengan tulang daun dan dirajang kecil kemudian dimasukkan ke dalam food dehydrator (cabinet dryer) hingga kering. Selanjutnya rajangan kecil daun kering diserbukkan dengan mesin penepung herbal (herb grinder).

Bubuk daun jati ini siap diolah menjadi produk olahan misalnya dengan cara direbus dan disaring untuk produk olahan teh botol. Bisa juga dikemas dalam kemasan kantung teh celup. Selain itu, bubuk daun jati bisa dicampurkan ke dalam adonan untuk produk olahan kukis.

Lebih lanjut, Tjie Kok menyebut pengolahan menjadi teh dan kukis merupakan tahap awal dari inovasi pemanfaatan daun jati. “Pada tahap selanjutnya tentu dapat dikembangkan produk olahan lainnya yang berbasis daun jati, antara lain produk aneka kue, sabun antiseptik (karena aktivitas antibakteri dari senyawa yang terkandung di dalamnya), dan produk olahan komersial lain. Harapannya adalah hilirisasi produk olahan daun jati yang dapat memberikan manfaat kesehatan bagi warga desa Kebontunggul, sekaligus dapat meningkatkan pendapatan warga desa dan pendapatan asli desa Kebontunggul,” pungkasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES