Indonesia Positif

Mahasiswa PMM UM Belajar Budaya Malang Lewat Jaranan dan Gamelan

Kamis, 25 April 2024 - 12:11 | 30.17k
Mahasiswa PMM Smart Union Universitas Negeri Malang berkunjung ke Sanggar Lestari Budaya di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. (Foto: Dokumentasi PMM Smart Union)
Mahasiswa PMM Smart Union Universitas Negeri Malang berkunjung ke Sanggar Lestari Budaya di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. (Foto: Dokumentasi PMM Smart Union)

TIMESINDONESIA, MALANG – Kelompok mahasiswa yang tergabung dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) ‘Smart Union’ Universitas Negeri Malang (UM) melakukan kunjungan ke Desa/Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan keajaiban kesenian khas Malang kepada mahasiswa PMM yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kunjungan ke Desa Pagelaran berlangsung pada 21 April 2024 lalu, dengan didampingi dosen modul nusantara, yakni Dr. Desti Nur Aini, S.S., M.Pd., beserta Laison Officer (LO) Amalia Arifah Rahman, S.E., M.M.

Kegiatan tersebut diawali dengan berkunjung ke ‘Sangar Seni Lestari Budaya’ di Desa Pagelaran, Kabupaten Malang. Sesampainya di desa tersebut, mahasiswa PMM disambut dengan pertunjukan seni tari kuda lumping yang dipentaskan oleh anak-anak dan penampilan memukau tari bantengan.

Menurut Desti, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momen untuk mengapresiasi seni budaya lokal tetapi sebagai langkah konkret merawat sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Nusantara.

“Yang tak kalah penting, kegiatan tersebut bertujuan untuk mempererat hubungan antara kelompok Smart Union dan masyarakat setempat,” ungkap Desti kepada TIMES Indonesia, Selasa (25/4/2024).

Tidak hanya menikmati sajian pentas seni saja, kelompok Smart Union juga diberikan kesempatan untuk turut aktif menyemarakkan pentas tari. Mahasiswa ikut menari bersama anak-anak dan melakoni tradisi sawer-menyawer sebagai apresiasi kepada penari. Berikutnya, mereka diberi kesempatan untuk memainkan alat musik tradisional, yakni gamelan yang terdapat di sanggar tersebut.

ahasiswa-PMM-Smart-Union-UM-a.jpgMahasiswa PMM Smart Union UM di Pura Amerta Jati Balekambang. (Foto: Dokumentasi PMM Smart Union)

Gunawan, Ketua Sanggar Lestari Budaya memberikan pengantar awal mengenai jenis-jenis gamelan mengingat anggota kelompok Smart Union seluruhnya berasal dari luar Pulau Jawa. Perkenalan pada seperangkat gamelan itu diawali dari skala musik yang digunakan, yakni slendro dan pelog. Lalu berlanjut pada nama-nama alat musik tersebut, seperti gong, kenong, demung, hingga saron.

Berikutnya, dengan bimbingan dari anggota Sanggar Lestari Budaya, kelompok Smart Union belajar memainkan tembang dolanan Sluku-Sluku Bathok. Antusiasme dari mahasiswa PMM yang seluruhnya berasal dari luar Pulau Jawa begitu memukau. Mereka benar-benar menikmati alunan bunyi yang timbul ketika alat musik tersebut dipukul.

Bagi Desti, sebagai dosen modul nusantara, kegiatan memainkan gamelan tidak sekadar latihan atau upaya belajar semata, melainkan sebagai pengejawantahan dari pentingnya nilai bahu-membahu.

“Menyatukan irama musik gamelan dengan nyanyian hingga menciptakan sebuah harmoni yang bagus adalah wujud nyata dari pentingnya bahu-membahu,” tambanhnya.

Kegiatan perjalanan inspiratif itu dilanjutkan dengan kunjungan kebhinekaan, yakni mengunjungi Pura Amerta Jati Balekambang, di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Kunjungan kelompok Smart Union disambut langsung oleh salah satu pemangku pura, Mangku Juwarno.

Di sana, sembari menikmati keindahan Pantai Balekambang mereka mendapatkan penjelasan bahwa Pura Amerta termasuk dalam pura yang sudah Sad Kahyangan sehingga banyak dikunjungi umat Hindu dari berbagai penjuru Tanah Air.

 “Tahun kemarin ada pengunjung yang berasal dari Makassar, Lampung, dan lain-lain. Karena pura ini termasuk pura sad kahyangan, yang artinya menjadi destinasi peribadatan umat Hindu dari berbagai penjuru. Kalau istilah muslim adalah Ziarah, tapi kami menyebutnya Tirtha Yatra,” jelas Mangku Juwarni.

Mangku Juawarni juga mengisahkan pembangunan Pura Amerta. Dulu, untuk membangun pura, menurut tradisi Hindu para tokoh petinggi harus meminta ijin terlebih dahulu kepada ‘penghuni’ yang ada di Balekambang melalui meditasi. Kisah tersebut sekaligus menutup perjalanan mengenalkan Malang kepada kelompok Smart Union.

Harapannya, dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, kelompok Smart Union dapat mengalami sisi historikal yang ada di Indonesia, dalam hal ini dimulai dengan pengenalan terhadap Malang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES