Indonesia Positif

Pekan Ilmiah Polinema ke-42, Akademisi Paparkan Transformasi Pendidikan Vokasi hingga Proses Oksidasi

Senin, 29 April 2024 - 16:11 | 10.07k
Rapat Terbuka Senat Akademik Polinema Dalam Rangka Pekan Ilmiah Polinema ke 42, Senin (29/4/2024). (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
Rapat Terbuka Senat Akademik Polinema Dalam Rangka Pekan Ilmiah Polinema ke 42, Senin (29/4/2024). (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada banyak pembahasan menarik yang dipaparkan oleh akademisi Politeknik Negeri Malang (Polinema) dalam Rapat Terbuka Senat Akademik Polinema Dalam Rangka Pekan Ilmiah Polinema ke 42, Senin (29/4/2024). Ada 3 dosen yang melakukan orasi ilmiah dalam kesempatan itu.

Pertama ada Drs. Ir. Abdullah Helmy, M.Pd., Ph.D, yang membawakan orasi ilmiah berjudul Transformasi Pendidikan Tinggi Vokasi: Tantangan Perguruan Tinggi Vokasi Era Disrupsi.

Dalam penelitianya itu, Helmi menyebut bahwa engelola perguruan tinggi vokasi (PTV) bukan merupakan pekerjaan mudah. Pertama, terdapat perubahan yang yang cepat secara terus menerus terhadap persyaratan keterampilan di berbagai tempat kerja yang ditangani oleh PTV.

"Kedua, tekanan eksternal pada industri akibat pengaruh globalisasi yang cepat, menuntut adanya peninjauan ulang terhadap pemenuhan kebutuhan pasar tradisional," ucapnya.

Selanjutnya, atau yang ketiga, kemitraan yang erat antara penyelenggara pendidikan tinggi vokasi dan industri disertai dengan serangkaian masalah atau tantangan dalam pengelolaannya yang timbul pada lembaga masing- masing. Terkadang terlalu mudah untuk mengkritik tindakan baik yang sudah dilakukan.

"Namun demikian, untuk pengelola penyelenggara pendidikan dan pelatihan ini, penting untuk terus memperhatikan dan mempertimbangkan isu-isu lintas budaya yang akan timbul. Seperti kesalahpahaman antara PTV dan industri yang mungkin terjadi dikarenakan sudut pandang yang berbeda dan filosofi pengajaran dan pembelajaran yang mungkin berbenturan," pungkasnya.

Orasi Ilmiah selanjutnya dibawakan oleh Ferdian Ronilaya, S.T., M.Sc., Ph.D yang mengangkat judul  Inovasi Kontrol Aliran Daya untuk Sistem Grid-Connected PV Dalam Rangka Mendukung Transisi ke Energi Terbarukan yang Lebih Efisien.

Ferdian menerangkan, dalam upaya mendukung transisi menuju energi terbarukan yang lebih efisien, inovasi kontrol aliran daya untuk sistem grid-connected PV merupakan salah satu langkah penting.

"Melalui penelitian dan pengembangan teknologi ini, kita tidak hanya meningkatkan ketersediaan energi bersih, tetapi juga dapat berkontribusi memperbaiki stabilitas jaringan listrik," terangnya.

Dengan pengaturan yang lebih fleksibel terhadap fluktuasi permintaan energi, sistem grid-connected PV mampu menghasilkan dan menyediakan daya sesuai dengan yang diinginkan, serta memperkuat kontribusinya terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca.

"Penguasaan teknologi ini dapat membuka pintu bagi lebih banyak terhadap alternatif- alternatif tema penelitian dalam mengadopsi energi terbarukan sebagai sumber utama listrik, mempercepat transisi global menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan," tuturnya.

Terakhir ada Dr. Eng. Haris Puspito Buwono, S.T., M.T. yang memaparkan soal Teknologi Proses untuk Oksidasi Komponen Minor Berbahaya. Haris memaparkan, ada 6 point yang menjadi kesimpulan atas penelitianya itu.

Pertama, katalis yang dimanfaatkan untuk oksidasi CO dan HC dapat berupa logam mulia, atau logam transisi oksida, dan untuk menurunkan jumlah logam aktif, katalis memanfaatkan penyangga sebagai media dispersi logam aktif.

"Kedua penambahan logam promotor dapat membantu memperbaiki sifat fisik dan kimiawi katalis sehingga meningkatkan aktifitas katalis, misalnya penambahan Fe pada Cu/Al2O3," ucapnya.

Selanjutnya, penyangga mempunyai peran penting dalam aktifitas katalis. Pada jenis logam aktif yang sama, pemilihan penyangga yang tepat mampu meningkatkan aktifitas katalis. Katalis berpenyangga logam fosfat mempunyai aktifitas yang lebih baik daripada logam oksida.

Ke empat, aktifitas katalis dalam oksidasi CO dan HC ditentukan oleh banyak faktor, bukan dipengaruhi oleh luas permukaan namun dipengaruhi juga oleh tingkat keasaaman katalis, intermediate reaksi, konsentrasi logam aktif, electron density, bentuk partikel logam aktif, keberadaan logam kedua, oxygen vacancy, dan jenis penyangga. oksidasi CO dan HC, terdapat reaksi-reaksi elementer

"Kelima, pada reaksi yang mungkin berkontribusi pada oksidasi CO dan HC tersebut. Diantara reaksi elementer untuk CO adalah CO-H2O, CO-O2, CO-NO, dan reaksi elementer untuk HC adalah HC-H2O, HC-O2, HC-NO.

Terakhir katalis berstruktur segmentasi memungkinkan fluida untuk bersirkulasi ulang di dalam ruang antara monolit berkatalis, sehingga reaksi dapat berlangsung lebih efisien pada monolit berkatalis selanjutnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES