Indonesia Positif

Tambang Emas PT BSI Terapkan 4 Pilar Program Kesehatan Karyawan

Rabu, 22 Mei 2024 - 14:18 | 77.24k
Karyawan tambang emas PT Bumi Suksesindo (PT BSI) sedang ber olahraga sebagai upaya menjaga kebugaran dan Kesehatan. (Foto : Syamsul Arifin/TIMES Indonesia)
Karyawan tambang emas PT Bumi Suksesindo (PT BSI) sedang ber olahraga sebagai upaya menjaga kebugaran dan Kesehatan. (Foto : Syamsul Arifin/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Penghargaan PT Bumi Suksesindo (PT BSI), terhadap karyawan perlu diacungi jempol. Selain sebagai tenaga kerja, tambang emas di gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, ini juga menganggap karyawan sebagai aset perusahaan.

Maka jangan heran, demi memastikan keselamatan kerja, mendorong kesejahteraan serta optimalisasi kinerja, anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk, menerapkan 4 pilar Kesehatan karyawan.

Dokter PT BSI, dr. Fills Prayoga Bahtiar menyampaikan, kesehatan dan keselamatan kerja itu saling berkaitan. Untuk itu, menurutnya, kesehatan dan keselamatan dalam pekerjaan harus dikelola dengan seimbang sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan risiko yang mungkin terjadi.

“Bukan hanya menjaga keselamatan di tempat kerja, kesehatan pekerja juga harus tetap dijaga untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang membahayakan pekerja,” katanya, Rabu (22/5/2024).

Dalam upaya untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit dan menanggulangi penyakit pekerja, perusahaan menerapkan 4 pilar program Kesehatan. Yang penerapannya bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Program ini dibuat dan dilaksanakan secara konsisten agar tercipta budaya sehat di tempat kerja.

Pilar promotif bertujuan untuk meng kampanyekan kesehatan kepada seluruh pekerja. Dalam hal ini, Tim Kesehatan PT BSI membuat buletin kesehatan bulanan dalam bentuk artikel maupun video dan dibagikan kepada pekerja secara digital. Ada juga Health Talk (bincang kesehatan) dengan mengangkat tema tentang penyakit yang sedang banyak terjadi agar pekerja waspada dan bisa melakukan pencegahan.

Dari sisi preventif, perusahaan mengatur gizi makanan yang dikonsumsi oleh pekerja. Tujuannya untuk mencegah terjadinya kelebihan atau kekurangan gizi. Melalui komite gizi, perusahaan melakukan pengawasan dan pemeriksaan kepada penyedia jasa makanan untuk pekerja. 

“Kami juga melakukan tes alkohol kepada pekerja secara acak untuk mencegah penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang,” tutur dr. Fills.

Pekerja PT BSI, lanjutnya, bekerja sesuai dengan waktu kerja yang telah disepakati. Sebagian pekerja ada yang bekerja hingga 12 jam termasuk lembur. Ini berlaku bagi pekerja yang berhubungan langsung dengan proses produksi.

Ada juga pegawai kantor yang bekerja delapan jam sehari. Secara umum, mereka terbagi menjadi dua jadwal kerja. Yakni roster 4:2 (empat minggu kerja, dua minggu libur) dan 5:2 (lima lima hari kerja, dua hari libur).

Dengan ritme kerja yang seperti itu, tambang emas kebanggaan masyarakat Banyuwangi ini membuat program kesehatan pilar kuratif. Yaitu Segar (Sehat Bugar). Program ini menyasar pekerja sakit dengan tujuan untuk menurunkan risiko terjadinya komplikasi. Menurunkan angka temuan MCU (Medical Check Up) tahun berikutnya. Menurunkan angka kesakitan atau absenteeism. Mencegah terjadinya insiden akibat penyakit tenaga kerja. Meningkatkan status kesehatan seluruh pekerja PT BSI dan meningkatkan produktivitas pekerja.

“Setiap tahunnya, seluruh pekerja PT BSI wajib mengikuti program MCU tahunan perusahaan,” katanya.

Program MCU tahunan dilakukan untuk memonitoring kesehatan pekerja. Kemudian pekerja yang memiliki hasil MCU abnormal dan masuk dalam kategori High Risk Monitoring wajib mengikuti program kesehatan Segar.

Masih menurut dokter muda asal Jajag, Gambiran, Banyuwangi ini, perusahaan menyediakan menu diet sehat selama tiga bulan sejak temuan hasil MCU kepada para peserta Segar. Menu diet pada umumnya adalah makanan yang rendah lemak, garam dan kalori.

Mereka juga harus mengikuti jadwal senam dua minggu sekali atau yang biasa diberi label program “Ma’Jless” (mari jalan sehat & senam). Serta dianjurkan untuk Nge Gym, setidaknya dua kali seminggu. Fasilitas olahraga dan kebugaran pun disiapkan di area site.

Setelah tiga bulan program berjalan, Tim Kesehatan perusahaan mengevaluasi kondisi dengan mengadakan MCU mini kepada seluruh peserta. Untuk memonitoring kesehatan para peserta, Tim Kesehatan juga menunjuk Health Champion di setiap departemen dan melakukan pemantauan On the Spot setiap satu bulan.

Di dalam area site Tujuh Bukit Operations terdapat klinik yang buka 24 jam untuk pekerja. Setiap pekerja bisa memanfaatkan fasilitas tersebut. Apabila pekerja membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan lebih lanjut petugas klinik akan mendampingi atau merujuknya ke rumah sakit yang ditunjuk.

“Ini termasuk program kesehatan pilar rehabilitasi. Setiap pekerja juga memiliki dua asuransi, BPJS dan swasta,” beber dr. Fills.

Pekerja yang tidak sehat akan mempengaruhi kinerjanya pada pekerjaan. Apabila hal ini terjadi terus-menerus, operasional perusahaan bisa terganggu. Pekerja yang bersangkutan bahkan bisa terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila penyakitnya tidak kunjung sembuh.

“Maka dari itu menjaga kesehatan fisik dan mental itu sangat penting,” tuturnya.

Dokter Fills menambahkan, gangguan kesehatan yang paling sering dialami oleh pekerja PT BSI adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), Dispepsia, dan Myalgia.

Dalam kesempatan ini, dokter Fills membagikan tips menjaga kesehatan yang menurutnya cukup mudah asal konsisten. Yaitu menjaga kualitas makanan dengan mengonsumsi makanan yang bergizi. Tidur yang cukup minimal lima jam per hari. Olahraga minimal dua kali dalam seminggu. Menjaga kesehatan mental dengan melakukan hobi yang digemari atau lainnya dan minum air putih yang cukup minimal 1,5 liter per hari. (*)

 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES