Indonesia Positif

Gelar Karya di MTsN 6 Malang, Suguhkan Tradisi Jawa dan Kreasi Produk Wirausaha

Sabtu, 22 Juni 2024 - 19:48 | 24.96k
Peragaan prosesi tradisi Tedhak Siten dengan membasuh kaki model boneka anak, oleh pelajar MTsN 6 Malang, dalam kegiatan Gelar Karya P5RA di halaman MTsN setempat, Sabtu (22/6/2024). (Foto: Amin/TIMES Indonesia)
Peragaan prosesi tradisi Tedhak Siten dengan membasuh kaki model boneka anak, oleh pelajar MTsN 6 Malang, dalam kegiatan Gelar Karya P5RA di halaman MTsN setempat, Sabtu (22/6/2024). (Foto: Amin/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Adegan sarat tradisi budaya Jawa disuguhkan pelajar MTsN 6 Malang, di atas panggung Gelar Karya P5RA, di Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu (22/6/2024). 

Di depan wali murid yang hadir, para pelajar MTsN 6 dalam kelas kelas masing-masing menampilkan atraksi seni tradisional dan simulasi prosesi tradisi budaya Jawa. Ritual tradisi budaya ini seperti yang biasa dipraktikkan dalam acara perkawinan dan keluarga Jawa oleh leluhur. Di antaranya, tradisi lamaran, panggih manten, siraman hingga Tedhak Siten. 

Kepala MTsN 6 Malang, H. Pono, S.Ag, mengungkapkan, dilaksanakan Galar Karya ini sebagai perwujudan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasial Rahmatan lil 'Alamin (P5RA), sesuai tema Kewirausahaan dan Kearifan Lokal. 

"Siswa-siswi kami, dalam berpikir boleh seperti Amerika, namun dalam hati tertambat Mekkah dan Madinah. Dan, dalam karakter, jati diri, dan kepribadian bangsa tetap Indonesia," demikian Kepala MTsN 6 Malang, saat memberi sambutannya, Sabtu (22/6/2024). 

MTsN-6-Malang-2.jpgProsesi tradisi budaya Jawa siraman dalam Gelar Karya P5RA di MTsN 6 Malang, Sabtu (22/6/2024). (Foto: Amin/TIMES Indonesia)

Sebagai kearifan lokal, lanjutnya, tradisi budaya harus tetap dijunjung tinggi. Ia juga berharap tidak ada pertentangan dan anggapan keliru pada adat dan ritual tradisi yang diperagakan. 

"Kami tetap menekankan, bahwa yang baik dari kearifan lokal budaya itu yang dipertahankan, sementara yang kurang sesuai itu yang dikesampingkan. Ibarat membasmi tikus dalam gudang, jangan gudangnya yang dibakar," jelas Pono. 

Dalam prosesi tradisi siraman, yang diperagakan siswa kelas 8D, ditunjukkan siraman dari gentong berisi air kembang, kepada model calon pengantin perempuan. 

Dilanjutkan, prosesi tradisi Tedhak Siten diperagakan siswa-siswi dari Kelas 8B. Prosesi ini ditampilkan dengan runut, mulai sungkeman kepada kedua orang tua keluarga yang sudah mempunyai anak. 

Tedhak Siten adalah rangkaian prosesi adat tradisional Jawa yang diselenggarakan pada saat pertama kali seorang anak belajar menginjakkan kaki ke tanah. Prosesi ini biasanya dilakukan saat anak berusia sekitar tujuh atau delapan bulan. 

Dengan menggunakan sebuah boneka sebagai anak, dilakukan prosesi basuh kaki, lalu anak dibimbing kakinya menginjak tujuh wadah yang punya makna filosofis masing-masing. Anak kemudian dipandu menaiki tangga, sampai puncak kesuksesan. 

MTsN-6-Malang-3.jpg

Kemudian, kembali menuruni tangga dengan maksud agar anak kelak tidak melupakan bumi, tidak sombong, dan tetap rendah hati. 

Selain tradisi Jawa tersebut, kelompok kelas berbeda juga memperagakan karya topeng dan tarian bantengan. Ada juga yang mempresentasikan cerita cangkul dan gerabah. 

Untuk tema kewirausahaan, kelas di MTsN 6 Malang lainnya juga membuat stand pameran hasil karya P5 dengan cukup kreatif dan menarik. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES