Advertisement
Indonesia Positif

Harmoni di Matos: 7 Agama Semarakkan Perayaan Imlek dengan Toleransi dan Kebersamaan

Perayaan Tahun Baru Imlek 2576 di Malang Town Square (Matos) menjadi momen yang sarat makna. Tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kerukunan antarumat beragama.

TIMES Indonesia,
Harmoni di Matos: 7 Agama Semarakkan Perayaan Imlek dengan Toleransi dan Kebersamaan
Perayaan Imlek di Matos dengan FKAUB, Kamis (30/1/2025). (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Perayaan Tahun Baru Imlek 2576 di Malang Town Square (Matos) menjadi momen yang sarat makna. Tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kerukunan antarumat beragama.

Dalam acara yang digelar pada Kamis (30/1/2025), Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang mengajak perwakilan dari tujuh agama yang diakui di Indonesia untuk menampilkan tradisi mereka masing-masing dalam satu panggung yang penuh harmoni.

Advertisement

Acara ini menghadirkan penampilan dari berbagai komunitas agama, termasuk Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, serta Penghayat Kepercayaan. Masing-masing agama menampilkan ekspresi kebudayaan dan keagamaan mereka dengan penuh semangat dan kedamaian.

Sekretaris Jenderal FKAUB Malang, Pendeta David Tobing, menegaskan bahwa acara ini adalah bukti nyata bahwa keberagaman bukanlah penghalang bagi persatuan. Justru, perbedaan yang ada bisa menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat dalam semangat toleransi dan moderasi beragama.

"Kami bersama Matos ingin mewujudkan kerukunan, kebinekaan, serta toleransi yang nyata di tengah masyarakat. Semua umat beragama yang hadir di sini memberikan penampilan terbaiknya dalam perayaan ini," ujar Pendeta David Tobing.

Imlek-di-Matos-dengan-FKAUB-a.jpg

Dalam acara tersebut, berbagai agama menampilkan pertunjukan khas mereka seperti umat Islam yang menampilkan tari sufi dan pembacaan shalawat, umat Kristiani menyuguhkan paduan suara, hingga umat Konghucu menghadirkan barongsai, yang menjadi salah satu ikon utama perayaan Imlek.

Advertisement

Pendeta David berharap acara seperti ini bisa menginspirasi daerah lain untuk melakukan hal serupa.

"Banyak orang yang menganggap bahwa menyatukan umat Islam, Kristen, Katolik, dan lainnya dalam satu panggung adalah hal yang sulit. Tapi hari ini, kita membuktikan bahwa perbedaan bisa disatukan dalam harmoni. Ini adalah bukti bahwa Indonesia bisa terus hidup dalam keberagaman," tambahnya.

Momentum Imlek ini bukan kali pertama Matos dan FKAUB berkolaborasi dalam acara yang bertujuan memperkuat persatuan. Marcomm Manager Matos, Sasmita Rahayu, menyampaikan bahwa Matos dan FKAUB sebelumnya juga telah mengadakan acara doa bersama untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.

"Ini adalah kedua kalinya kami bekerja sama dengan FKAUB untuk menghadirkan kegiatan yang mempersatukan masyarakat. Kami ingin menjadikan perayaan Imlek ini bukan hanya milik satu golongan, tetapi milik semua umat beragama di Indonesia," kata Sasmita.

Menurutnya, Malang sebagai kota yang multikultural memiliki potensi besar untuk menjadi contoh kerukunan dan kebersamaan antaragama.

Imlek-di-Matos-dengan-FKAUB-b.jpg

"Kami berharap warga Malang Raya khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, bisa terus bersatu. Sehingga, perayaan Imlek ini tidak hanya menjadi momen kegembiraan bagi umat Konghucu, tetapi juga menjadi perayaan bagi semua umat yang ingin menjaga keharmonisan," tuturnya.

Sasmita menambahkan bahwa acara seperti ini perlu terus digalakkan agar Indonesia tetap kokoh dalam keberagaman. "Kerukunan kita bersatu, Indonesia bersatu dalam jiwa dan raga," pungkasnya.

Perayaan Imlek di Matos kali ini bukan hanya sekadar hiburan dan perayaan budaya, tetapi juga menjadi simbol kuatnya toleransi di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, acara ini menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah-belah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.

Dengan semangat persatuan yang ditunjukkan dalam acara ini, diharapkan semakin banyak komunitas yang terinspirasi untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Achmad Fikyansyah
PenulisAchmad FikyansyahSarjana Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bergabung ke TIMES Indonesia sejak Maret 2023. Meliput berbagai topik, utamanya pendidikan dan ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia