Advertisement
Indonesia Positif

Polres Bondowoso Larang Takbir Keliling Pakai Sound Horeg, Ini Pandangan MUI dan Kemenag

Salah satu kebiasaan umat Islam di berbagai daerah adalah menggelar takbir keliling saat malam Hari Raya Idul Fitri, dengan menggunakan pengeras suara.

TIMES Indonesia,
Polres Bondowoso Larang Takbir Keliling Pakai Sound Horeg, Ini Pandangan MUI dan Kemenag
Kapolres Bondowoso, AKBP Harto Agung Cahyono (Foto: Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

BONDOWOSO Salah satu kebiasaan umat Islam di berbagai daerah adalah menggelar takbir keliling saat malam Hari Raya Idul Fitri, dengan menggunakan pengeras suara. 

Namun demikian, meskipun diperbolehkan warga yang melakukan takbir keliling harus tetap memerhatikan keamanan dan kenyamanan. Misalnya tidak menggunakan sound horeg untuk pengeras suara yang berlebihan. 

Advertisement

Kapolres Bondowoso, AKBP Harto Agung Cahyono menjelaskan, takbir keliling dilarang menggunakan sound horeg bukan tanpa alasan. 

Menurutnya, suara kencang dapat merusak bangunan di sekitarnya, seperti yang terjadi di beberapa daerah. 

“Silahkan kalau mau takbir keliling, dengan tidak merusak benda orang lain. Serta dinyanyikan secara Islam,” jelas dia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bondowoso, KH Asyari Pasha menjelaskan, saat malam hari raya Idul fitri, Bondowoso harus tertib, aman dan kondusif, termasuk adanya takbir keliling. 

Dia memaparkan, butuh upaya ekstra pihak keamanan, untuk memastikan kegiatan tersebut tak mengganggu kenyamanan warga. 

Advertisement

“Kalau di kota gak begitu banyak. Kalau di desa takbir keliling besar-besaran,” imbuhnya.

Kiai Asyari berharap, meski takbir keliling diperbolehkan, harus ada batasan pengeras suara yang digunakan. 

Menurutnya, hal ini dapat terwujud apabila ada kesepakatan antara polsek terdekat dengan warga. “Harus diperketat, jangan terlalu dibuka lah,” imbuh dia.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bondowoso, M. Ali Masyhur menjelaskan, pelaksanaan Idul Fitri harus berjalan dalam kondisi menenangkan dan menyenangkan. 

Oleh karena itu, dia berharap agar kegiatan takbir keliling di malam hari lebaran tidak mengganggu kenyamanan warga lainnya. 

“Jika mau melaksanakan takbir keliling, harus tetap berkoordinasi dengan aparat setempat,” imbau dia.(*)

 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia