Advertisement
Indonesia Positif

Perempuan Harus Bijak Kelola Kesehatan Tubuh

Siapa yang bisa memahami kebutuhan perempuan selain perempuan itu sendiri? Pertanyaan yang mengandung pernyataan itu melandasi talk show Waspada Kesehatan Perempuan (Women’s Health Matters) di Galeri LuPuis, Omah Pojok, Gayungsari, Surabaya.

TIMES Indonesia,
Perempuan Harus Bijak Kelola Kesehatan Tubuh
Inge W Benjamin saat Diskusi Waspada Kesehatan Perempuan, kolaborasi Galeri LuPuis Omah Pojok dan Perempuan Penulis Padma (Perlima), Selasa (27/5/2025). (FOTO: Hamida Soetadji/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

Surabaya Siapa yang bisa memahami kebutuhan perempuan selain perempuan itu sendiri? Pertanyaan yang mengandung pernyataan itu melandasi talk show Waspada Kesehatan Perempuan (Women’s Health Matters) di Galeri LuPuis, Omah Pojok, Gayungsari, Surabaya. 

Inge W. Benjamin, Owner Omah Pojok, menjadi narasumber dalam diskusi kolaborasi dengan Perempuan Penulis Padma (Perlima), Selasa (27/5/2025).

Advertisement

Dalam presentasinya, perempuan yang gemar melukis dan membuat puisi itu menampilkan belasan salindia. 

Diskusi-Waspada-Kesehatan-Perempuan.jpg

Semuanya berisi anatomi tubuh perempuan dan sel-sel ganas dalam tubuh yang bisa menjadi kanker. Salindia tentang kanker rahim dan payudara membuat para peserta diskusi meringis cemas dan ngeri. 

“Sebagai perempuan, kita harus mengenali tubuh kita sendiri. Agar ketika ada ketidakwajaran pada tubuh kita, kita langsung waspada. Awak awakmu dewe, harus kenal, harus paham,” demikian pesan Inge.

Namun, apakah itu artinya mereka yang mengidap kanker akan langsung meninggal dunia? Terutama, jika saat ketahuan sudah sampai stadium akhir?

Advertisement

Murni peserta diskusi menanyakan penyebab kanker dan apakah bisa disembuhkan, Inge mengatakan tidak ada kepastian penyebab kanker.

“Tidak ada yang bisa dengan pasti menyimpulkan bahwa kanker disebabkan oleh A atau B. Dan, there’s no cure (untuk kanker),” tegas Inge.

Dia lantas menceritakan tentang beberapa teman yang mengidap kanker. Ada yang menjalani pengobatan medis singkat sebelum ajal tiba, ada pula yang mampu bertahan hidup hingga belasan tahun, bahkan puluhan. 

Obat-obatan dan terapi kanker, termasuk kemoterapi, menurut Inge, adalah sarana untuk memperpanjang usia. Semuanya akan membuahkan hasil maksimal jika memang dijalani dengan sepenuh hati dan raga. 

“Sepanjang fisiknya kuat, dananya ada, upaya apa saja bisa dilakukan untuk bertahan hidup,” tegasnya. 

Ketika sedang sakit, apalagi mengidap kanker, manusia akan secara naluriah berikhtiar dan mengupayakan kesembuhan. Bisa secara medis, maupun spiritual.

“Semuanya sah-sah saja, selama tidak kemudian malah menimbulkan masalah baru. Misalnya, memaksakan diri menjalani pengobatan mahal padahal dana sudah mepet. Atau, memaksakan diri terus menjalani terapi, padahal fisik sudah tidak kuat,” imbuh Inge.

Usai diskusi, Ketua Perempuan Penulis Padma (Perlima) R Wilis menyatakan, bahwa perempuan membutuhan forum-forum diskusi seperti yang berlangsung di Omah Pojok.

“Kita perlu mendapatkan insight yang membuka wawasan dan menambah perspektif kita. Lewat diskusi seperti ini, perempuan menjadi saling menguatkan,” ungkapnya. 

Wilis berharap, talk show tentang kesehatan perempuan bisa menjadi agenda rutin Perlima. Pendapat yang sama disampaikan Founder Perlima Wina Bojonegoro.

Perempuan, menurut dia, sering kali kesulitan mencari teman berbagi jika topiknya adalah kesehatan reproduksi. Sebab, membahas topik seperti itu dengan suami atau anak pun belum tentu nyaman. 

“Nanti bersama Akademia Perempuan yang ada di Omah Pojok ini, Perlima akan mengajak kaum perempuan untuk sharing tentang banyak hal yang khas perempuan,” ujar Willis.  

Sedikitnya 20 peserta yang semuanya perempuan datang dari Surabaya, Sidoarjo, dan Pasuruan. Mereka antusias menyimak paparan doktor psikologi klinis lulusan UGM tersebut tentang kesehatan reproduksi dan penyakit yang mengancam perempuan. Selain anggota Perlima, hadir juga para peserta umum dalam diskusi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia