Advertisement
Indonesia Positif

Geopolitik Global, Perang Iran-Israel, DPR: Ketahanan Energi Kita Sangat Krusial

Anggota Komisi XII DPR RI Zulfikar Hamonangan memperingatkan dampak serius konflik Iran-Israel terhadap ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga BBM dan gas di dalam negeri.

TIMES Indonesia,
Geopolitik Global, Perang Iran-Israel, DPR: Ketahanan Energi Kita Sangat Krusial
Zulfikar Hamonangan. (FOTO: Rafyq Panjaitan/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Anggota Komisi XII DPR RI Zulfikar Hamonangan memperingatkan dampak serius konflik Iran-Israel terhadap ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga BBM dan gas di dalam negeri.

"Kalau Selat Hormuz ditutup, kita harus alihkan rute melalui Selat Panama yang butuh waktu 3 hari lebih lama. Satu hari saja sudah berdampak, apalagi ini akan menambah biaya angkut. Harga BBM dan gas pasti naik, terutama yang bersubsidi," tegas Zulfikar seusai RDP dengan Dirjen Migas Kementerian ESDM RI, Kepala SKK Migas, Kepala BPH Migas, dan Dirut PT Pertamina, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (1/7/2025).

Advertisement

Anggota Fraksi Partai Demokrat ini mengungkapkan 70 persen kebutuhan gas Indonesia masih bergantung pada impor dari Amerika Serikat. Situasi ini dinilai sangat rentan mengingat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina yang belum usai.

Zulfikar juga menyoroti lemahnya kinerja lifting migas nasional. “Cadangan kita 3,6 miliar barel, tapi lifting hanya 600 ribu barel per hari. Malaysia dengan cadangan 2,5 miliar barel bisa produksi 650 ribu barel per hari. Ini menunjukkan pengelolaan kita tidak optimal," ujar dia.

Ia mendesak revisi UU Migas dan peningkatan kapasitas SDM. "Kita harus belajar dari Malaysia. Kalau perlu buka dialog dengan ahli untuk tahu di mana kelemahan kita. Sumur-sumur tua kita sudah menipis, tetapi lifting tidak bisa ditingkatkan," tambahnya.

Terkait kinerja BPH Migas, Zulfikar bersikap tegas. "Kalau tidak mampu, lebih baik mundur. Di tengah konflik global seperti ini, ketahanan energi kita sangat krusial. Tetapi kita tidak punya cash flow untuk cadangan migas jika terjadi force majeure," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rafyq Panjaitan
PenulisRafyq PanjaitanSarjana Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (Angkatan 2012, Lulus 2016). Bergabung di TIMES Indonesia sejak Januari 2023. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia