Advertisement
Indonesia Positif

Tawassuth: Candaan Logo Jadi Kancil adalah Sinyal Kedekatan Politik Tanpa Jarak antara Dasco dan PSI

Executive Director Tawassuth, Wahyu Al Fajri, merespons pernyataan Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Dewan Penasihat GEKRAFS, Sufmi Dasco Ahmad, yang dalam forum kongres Gekrafs menyebut “apakah lambangnya Gekrafs berubah jadi kancil atau enggak?”. 

TIMES Indonesia,
Tawassuth: Candaan Logo Jadi Kancil adalah Sinyal Kedekatan Politik Tanpa Jarak antara Dasco dan PSI
Executive Director Tawassuth, Wahyu Al Fajri. (FOTO: dok pribadi)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

JAKARTA Executive Director Tawassuth, Wahyu Al Fajri, merespons pernyataan Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Dewan Penasihat GEKRAFS, Sufmi Dasco Ahmad, yang dalam forum kongres Gekrafs menyebut “apakah lambangnya Gekrafs berubah jadi kancil atau enggak?”. 

Candaan itu sempat ditafsir oleh sebagian pihak sebagai sindiran terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Advertisement

Namun menurut Fajri, anggapan tersebut tidak tepat. Ia menilai ucapan Dasco sebagai candaan spontan yang justru mencerminkan kedekatan serta gaya komunikasi politik jalan tengah khas Dasco — ringan, hangat, dan tidak dibungkus formalitas yang kaku.

“Kami meyakini, candaan Pak Dasco bukanlah sindiran, melainkan sinyal kedekatan politik yang sudah lama terjalin dengan PSI. Bahasa yang santai justru menunjukkan tidak ada jarak komunikasi di antara mereka,” ujar Fajri di Jakarta, Senin (22/7/2025).

Tawassuth memandang bahwa gaya komunikasi seperti ini sangat dibutuhkan dalam ruang demokrasi hari ini, di mana hubungan antartokoh dan antarlembaga seharusnya dibangun dalam suasana cair dan saling menghargai.

“Kita perlu belajar membedakan antara sindiran dan sinyal persahabatan. Dalam hal ini, candaan Pak Dasco seharusnya dibaca sebagai bentuk keakraban politik yang sudah mapan,” lanjutnya.

Fajri juga mengingatkan pentingnya kedewasaan publik dalam menyikapi dinamika komunikasi politik, termasuk saat ekspresi disampaikan dalam bentuk guyonan atau seloroh.

Advertisement

“Demokrasi yang sehat tidak alergi terhadap humor. Justru dari situ kita bisa melihat bahwa ruang politik kita masih punya ruang bagi kehangatan dan kedekatan,” ujarnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Ramli
PenulisMoh RamliPasca Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (2023). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia