Advertisement
Indonesia Positif

UGM, MGS Singapura, dan SMA Stella Duce Yogyakarta Bersinergi Dorong Literasi AI Pelajar ASEAN

Perkembangan teknologi Generative Artificial Intelligence (GenAI) membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia pendidikan. Di tengah kekhawatiran akan hilangnya kemampuan berpikir kritis generasi muda, GenAI juga menawarkan potensi inovasi

TIMES Indonesia,
UGM, MGS Singapura, dan SMA Stella Duce Yogyakarta Bersinergi Dorong Literasi AI Pelajar ASEAN
Kegiatan MGS ASEAN Programme (MAP) yang dilakukan secara daring. (FOTO: CfDS UGM for TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

YOGYAKARTA Perkembangan teknologi Generative Artificial Intelligence (GenAI) membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia pendidikan. Di tengah kekhawatiran akan hilangnya kemampuan berpikir kritis generasi muda, GenAI juga menawarkan potensi inovasi pembelajaran yang lebih kreatif dan adaptif.

Menjawab dinamika tersebut, Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada menggandeng Methodist Girls’ School (MGS) Singapura dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta dalam program lintas negara bertajuk The MGS ASEAN Programme (MAP). Kegiatan ini menjadi forum pembelajaran bersama untuk mengkaji potensi dan risiko GenAI dalam pendidikan.

Advertisement

MAP resmi dimulai pada 4 Agustus 2025 dengan sesi daring yang diikuti 40 siswi dari kedua sekolah. Dalam pembukaan, Ayom Mratita P., Peneliti CfDS, membawakan materi “AI and Your Education: Hype or Real Change?” yang mengajak peserta melihat GenAI secara kritis.

“GenAI memang mampu menghasilkan karya baru dan bahkan lolos ujian bergengsi, tetapi ia tidak memahami konteks seperti manusia. Ia hanya meniru pola,” jelas Ayom, Rabu (6/8/2025)

Ia mengingatkan bahwa GenAI dapat membawa risiko, seperti ketergantungan berlebihan, penyalahgunaan, hingga penyebaran misinformasi. Namun, jika digunakan dengan bijak, teknologi ini bisa menjadi alat pendukung belajar, membantu personalisasi materi, mendorong kreativitas guru, dan memperkuat peran siswa dalam pembelajaran.

Latihan Kolaboratif dan Analisis Kritis

Peserta MAP dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan esai dan presentasi singkat. Tema yang diangkat mencakup pengaruh GenAI terhadap proses belajar, tantangan hoaks di media sosial, dampak AI dalam pendidikan dengan mempertimbangkan kesenjangan akses internet, perbandingan kebijakan pendidikan Indonesia–Singapura, hingga visi masa depan digital yang positif dan inklusif.

Program ini akan berlanjut hingga 5 November 2025, ditutup dengan kunjungan ke kantor CfDS dan Fisipol UGM. Pada sesi akhir, peserta mempresentasikan hasil analisis dan rekomendasi di hadapan peneliti dan akademisi.

Advertisement

Kolaborasi CfDS, MGS, dan Stella Duce 1 menjadi bukti komitmen menjalankan Tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam pendidikan dan pengabdian masyarakat. Lebih jauh, program ini mendorong literasi digital generasi muda dan membangun dialog konstruktif antar pelajar di kawasan ASEAN untuk menghadapi era teknologi yang terus berkembang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A. Tulung
PenulisA. TulungSarjana Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Tahun 2006 dan Magister Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia