Advertisement
Indonesia Positif

Pengajian UWG Malang, Prof Zulfi Mubaraq Tekankan Teladan Rasulullah dalam Membentuk Pemimpin Muslim

Universitas Widya Gama/ UWG Malang melalui Pusat Pembinaan, Pengembangan, dan Pengamalan Agama Islam (P3AI) kembali menggelar pengajian rutin Jumat pagi bulanan, Jumat (12/9).

TIMES Indonesia,
Pengajian UWG Malang, Prof Zulfi Mubaraq Tekankan Teladan Rasulullah dalam Membentuk Pemimpin Muslim
(FOTO: AJP TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

MALANG Universitas Widya Gama/ UWG Malang melalui Pusat Pembinaan, Pengembangan, dan Pengamalan Agama Islam (P3AI) kembali menggelar pengajian rutin Jumat pagi bulanan, Jumat (12/9).

Memasuki edisi ke-15, kegiatan yang diikuti dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UWG ini menghadirkan penceramah Prof. Dr. H. Zulfi Mubaraq, M.Ag., dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Advertisement

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Zulfi membawakan tema “Memformat Pribadi Muslim Menjadi Pemimpin; Belajar dari Nabi Muhammad SAW.” Ia menekankan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan sempurna dalam kepemimpinan, baik dalam lingkup ibadah maupun kehidupan bermasyarakat.

“Rasulullah ketika menjadi imam, konsepnya adalah untuk diikuti. Sama halnya dengan rektor, dekan, atau kaprodi yang berada di depan sebagai pemimpin. Namun, posisi imam di depan bukan berarti lebih baik, melainkan ada proses imamah, ada yang memimpin dan ada yang mengikuti,” jelas Prof. Zulfi.

UWG-Malang-2.jpg

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kepemimpinan Nabi selalu berlandaskan pada kepekaan terhadap kondisi makmumnya. Nabi kerap menyesuaikan bacaan shalat ketika menjadi imam agar tidak memberatkan jamaah. Bahkan, beliau memperlama sujudnya ketika cucunya naik di punggungnya, sebagai bentuk edukasi dan kelembutan hati.

“Pemimpin harus peka, mampu melihat situasi, dan tidak boleh membebani yang dipimpinnya. Konsep imam dan pemimpin itu adalah memudahkan, meringankan, dan membuat makmumnya merasa nyaman,” ujarnya.

Advertisement

Prof. Zulfi juga menyoroti etika Rasulullah dalam memberi nasihat. Nabi tidak pernah mempermalukan makmum atau sahabat yang salah di hadapan orang banyak, melainkan menegur secara pribadi dengan penuh kelembutan. “Inilah bentuk kepemimpinan mulia yang patut dicontoh,” tambahnya.

Pengajian-UWG.jpg

Selain itu, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berlaku di ruang publik, tetapi juga dalam lingkup keluarga. “Seorang suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Maka jadilah pemimpin yang menegakkan akidah, membawa kebaikan, dan menjadi teladan dalam rumah tangga,” tuturnya.

Prof. Zulfi menutup tausiyahnya dengan menegaskan bahwa konsep kepemimpinan dalam Islam mencakup imam, ro’is, dan khalifah—sebagai kepala, teladan, sekaligus penyemangat bagi yang dipimpin. “Mengikuti sunnah Rasul berarti menjadi pemimpin yang adil, lembut, dan membawa keberkahan, sehingga yang dipimpin merasa nyaman, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.

Pengajian bulanan P3AI UWG ini diharapkan tidak hanya menambah wawasan keagamaan civitas akademika, tetapi juga membentuk pribadi Muslim yang siap menjadi pemimpin berkarakter, sesuai teladan Nabi Muhammad SAW. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

S
PenulisSantoso (CR-058) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia