TISMA Tanamkan Nilai Spiritual Lewat Manasik Haji di Kebun Kurma
Pagi itu, udara di kaki perbukitan Pasuruan masih lembap. Embun menempel di rumput, dan cahaya mentari merayap perlahan di antara pohon kurma yang berjajar di Kurma Park.

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia
Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
MALANG – Pagi itu, udara di kaki perbukitan Pasuruan masih lembap. Embun menempel di rumput, dan cahaya mentari merayap perlahan di antara pohon kurma yang berjajar di Kurma Park. Di sana, santri kelas IX Tsurayya Islamic School Malang (TISMA) sudah bersiap dengan pakaian ihram putih sederhana.
Tidak ada gemerlap, tidak pula kemegahan. Hanya wajah-wajah muda yang tampak khusyuk, menyiapkan diri untuk perjalanan simbolik: manasik haji yang digelar pada hari itu.
Bagi sebagian orang, kegiatan ini sekadar simulasi keagamaan tahunan. Tapi bagi para santri TISMA, inilah pengalaman yang menyentuh sisi terdalam dari iman mereka. Mereka belajar bukan hanya bagaimana thawaf mengelilingi Ka’bah, atau sa’i antara Safa dan Marwah, melainkan bagaimana bersabar, menahan ego, dan belajar saling membantu—sebuah miniatur dari kehidupan itu sendiri.
Di antara barisan santri, Ustaz Iqbal Vicry, wali kelas mereka, tampak sibuk memberi arahan. Dengan nada tenang ia memastikan setiap kelompok mengikuti tahap manasik sesuai urutan. “Bagi mereka, ini bukan sekadar latihan. Ini pengalaman pertama menjadi bagian dari jamaah yang harus tertib, sabar, dan saling menunggu,” katanya.

Sementara itu, Ustaz Haqqi Maulana, salah satu pendamping, sesekali melempar senyum melihat antusiasme para santri. Ada yang tampak gugup ketika harus memimpin doa, ada pula yang berlari kecil karena kain ihramnya hampir terlepas. Semua disambut tawa kecil, penuh kehangatan. “Belajar agama tak harus kaku,” ujarnya. “Kadang justru di momen seperti inilah nilai-nilai itu benar-benar hidup.”
Suasana Kurma Park nyaris menyerupai suasana Tanah Suci dalam skala mini. Replika Ka’bah, bukit Safa–Marwah, serta miniatur Mina dan Arafah menjadi latar bagi latihan spiritual itu. Namun yang lebih penting dari semua replika itu adalah refleksi batin yang tumbuh dalam diri setiap santri.
Salah satunya adalah Muhammad Abu Jibril, santri berwajah teduh yang siang itu mendapat giliran memimpin doa. Setelah kegiatan usai, ia berkata lirih namun mantap,

“Saya baru tahu ternyata ibadah haji tidak mudah. Tapi justru karena itu terasa indah. Mungkin begini rasanya belajar sabar dan ikhlas.”
Setelah seluruh rangkaian manasik selesai pada sore hari, rombongan melanjutkan agenda dengan rekreasi di Saygon Park. Tawa mereka pecah di kolam renang, menggema di antara pepohonan — penutup hari yang menggabungkan kekhidmatan dan keceriaan menjadi satu.
Menjelang sore, sebelum rombongan kembali ke Malang, para guru mengajak santri berkumpul untuk doa penutup. Suasana hening sejenak, hanya angin yang berhembus pelan di sela pepohonan. Di bawah langit Pasuruan yang mulai temaram, kalimat-kalimat doa terdengar syahdu. Ada rasa tenang yang menggantung di udara — rasa yang mungkin akan mereka bawa pulang, melekat di hati, dan suatu hari kelak mengantarkan mereka ke Tanah Suci yang sebenarnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

